x

Iklan

SILVIA DEWI RAHMAWATI 2021

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Maret 2022

Rabu, 15 Juni 2022 17:31 WIB

Eksistensi Sastra Cyber dalam Susunan Sejarah Sastra Indonesia

Perkembangan sastra cyber juga menimbulkan kontroversi di kalangan pecinta sastra. Perdebatan menantang definisi sastra itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa sastra cyber melampaui sifat normatif sastra itu sendiri. Di sisi lain, tuntutan zaman dan kemajuan teknologi membuat sastra cyber menjadi hal yang baru.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pada zaman sekarang ini, internet sudah menjadi gaya hidup manusia, bahkan sudah menjadi bagian dari kebutuhan manusia. Begitu pun sastra, sastra juga telah dipengaruhi oleh internet. Hal ini dapat dilihat berdasarkan munculnya kata-kata baru. Salah satunya adalah sastra cyber yang semakin terkenal seiring perkembangan teknologi dan zaman. Kedatangan sastra cyber atau cyber sastra di Indonesia ini merupakan salah satu karakteristik adanya perkembangan sastra di Indonesia.

Sastra cyber dapat diartikan sebagai karya sastra yang mencakup dari berbagai genre yang dimediasi oleh media elektronik. Biasanya berupa karya sastra bergenre puisi dan prosa. Kemajuan teknologi internet akan memungkinkan munculnya varian sastra berbasis media yang dikenal dengan sastra cyber. Sejak adanya teknologi informasi, sastra cyber juga muncul dan berpotensi menjadi wadah wawasan baru dan menawarkan gaya baru dalam membina penulis untuk berkreatifitas. Kemajuan dalam sastra cyber ini telah memberikan pengguna komputer dan gadget untuk menggunakan media Internet secara gratis dan tidak terbatas.

Di Indonesia, kemunculan sastra cyber sendiri memang tergolong muda. Kemunculannya baru terjadi pada waktu reformasi, walaupun pada saat itu belum berkembang pesat saat ini. Sastra cyber di Indonesia hadir lantaran ditentukan karena maraknya penggunaan teknologi internet yang semakin berkembang dan canggih. Namun, faktor lainnya yang juga melatarbelakangi lahirnya sastra cyber ini yaitu susahnya menerima pengakuan atau label menjadi seorang penulis apabila belum menerbitkan sebuah karya pada koran-koran atau majalah, dan juga belum menerbitkan sebuah buku, lantaran tidak diincar oleh penerbit manapun.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Perkembangan sastra cyber juga menimbulkan kontroversi di kalangan pecinta sastra. Perdebatan menantang definisi sastra itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa sastra cyber melampaui sifat normatif sastra itu sendiri. Di sisi lain, tuntutan zaman dan kemajuan teknologi membuat sastra cyber menjadi hal yang baru. Asal muasal kontroversi sastra siber sebenarnya didasarkan pada pandangan konservatif bahwa sastra adalah sebuah mahakarya. Sastra adalah suatu karya yang isinya tidak sembarangan tetapi murni dimaksudkan.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangan sastra cyber saat ini, keberadaan sastra cyber ini melalui media elektronik tidak boleh dianggap remeh. Tidaklah adil untuk mengatakan bahwa semua karya yang ditulis melalui media ini berkualitas buruk. Suka atau tidak suka dengan adanya sastra cyber ini tentu harus terus diterima secara positif karena menentukan perkembangan sastra Indonesia.

Eksistensi menurut sastra cyber ini tidak semudah sastra media cetak. Hal ini dikarenakan sastra cyber sulit diterima dengan baik oleh sang penikmat sastra. Bahkan, kehadirannya sudah mengakibatkan polemik yang relatif ramai dan menggemparkan.

Sejarah sastra pada dasarnya adalah bidang sastra yang membahas dan mendalami pertumbuhan dan perkembangan sastra sejak awal kemunculannya hingga saat ini. Tentu saja, sastra cyber dapat diajukan dan disetujui sebagai karya yang berkualitas tinggi. Karya sastra yang berkualitas adalah karya yang telah dievaluasi oleh para kritikus dan pakar sastra. Namun untuk karya sastra yang diterbitkan melalui media elektronik dan internet baru dikenal pada masa reformasi, atau lebih tepatnya pada tahun 2000-an.

Kehadirannya yang relatif baru membuatnya sulit untuk diterima dan disambut. Semboja mengatakan, sejarah sastra Indonesia masih terkait dengan normalisasi, yang masih bergantung pada kata-kata penguasa. Apalagi, sastra cyber ini tidak memiliki karakter yang tetap seperti sastra surat kabar dan buku. Meski masih baru dan karakter nya belum terbentuk sepenuhnya, sastra cyber ini masih bisa dipelajari dan dipahami.

Satra cyber sebenarnya bisa dipelajari dan dipahami sama hal nya dengan sastra yang medianya berupa koran atau buku. Dengan cara permanen mengimplementasikan kode-kode seperti yang sudah diucapkan oleh A. Teeuw, yaitu berupa kode sastra, kode budaya, dan kode bahasa. Ketiga kode tersebut sebenarnya telah ada pada sastra cyber, jadi suka ataupun tidak suka nya, sastra cyber wajib diperlakukan sama dengan sastra lainnya. Oleh karena itu, sastra cyber ini tidak boleh diabaikan dan wajib menerima perhatian sebesar sastra yang telah mapan.

Jika ada literatur terkenal atau populer yang disebut sastra mapan, itu juga dapat ditemukan dalam sastra cyber. Dalam jenis sastra ini, siapa pun, dan dari kalangan manapun dapat mengungkapkan perasaan dan pikirannya melalui Internet. Oleh karena itu, jika sastra cyber diperlakukan seperti sastra sebelumnya, maka sastra cyber juga harus masuk dalam rangking sejarah sastra Indonesia.

 

Ikuti tulisan menarik SILVIA DEWI RAHMAWATI 2021 lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Ekamatra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

12 jam lalu

Terpopuler