Kompetisi EPA Liga 1 PSSI, Belum Sesuai EPA? - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

pssi

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 22 Juni 2022 20:41 WIB

  • Sport
  • Topik Utama
  • Kompetisi EPA Liga 1 PSSI, Belum Sesuai EPA?

    Kalau pemainnya comotan dan instan, di mana letak elite-nya? Bagaimana profesionalismenya? Kapan dan berapa lama para pemain ada didik, dilatih, dan dibina di Academy Klub bersangkutan?

    Dibaca : 579 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Digulirkan sejak 2018, Kompetisi bernama Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 PSSI, apakah isi dan segala hal yang terkait di dalamnya sudah sesuai nama EPA dan maksud penggagasnya? Adakah menjelang 5 tahun Usia EPA, instrospeksi, refleksi, evaluasi dari PSSI dan Klub Liga 1 yang masih bikin malu dan terus menjadi perbincangan publik karena hanya asal comot pemain untuk kepentingan EPA? Adakah perbaikan yang signifikan terutama regulasi tentang pemain yang merugikan penggiat sepak bola akar rumput dari PSSI? Sementara WADAH sepak bola akar rumput pun, terus dibiarkan SALAH KAPRAH. Keberadaan EPA juga menambah SALAH KAPRAH. (Supartono JW.22062022)

    Kiprah STy, teguran untuk EPA dan PSSI

    Miris, di tengah euforia Timnas Indonesia berhasil lolos ke putaran Final Piala Asia 2023 dan peringkat FIFA Indonesia melonjak hingga 20 digit sejak Shin Tae-yong (STy) menangani Garuda mulai Januari 2020, ditambah Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, ternyata sebagian besar Klub-Klub Liga 1 PSSI yang berlaga di kompetisi sepak bola nasional, masih terus menyisakan permasalahan kronis.

    Padahal, selama dua tahun STy mengampu Timnas berbagai level, rapor pemain Timnas dalam hal intelegensi, personality, teknik, dan speed (IPTS) atau sering saya tulis sebagai akronom TIPS, banyak yang belum lulus. Sehingga, selama dua tahun ini, STy pun saya sebut sangat berprestasi dalam membenahi TIPS pemain, yang seharusnya sudah lulus di Klub karena terdidik, terlatih, dan dibina dengan benar di sektor akar rumput.

    Tetapi harus diulang dari dasar oleh STy. Jadilah STy lebih sibuk mengurusi TIPS pemain yang belum lulus, padahal kontrak STy membawa Timnas berprestasi dalam hal tropi.

    Untungnya, STy tidak seperti pelatih-pelatih Timnas Indonesia terdahulu, yang kebanyakan adem ayem dengan kondisi TIPS para pemain Timnas yang belum lulus, plus adem ayem dengan pemain Timnas TITIPAN.

    Kejelian, kesungguhan, kejujuran, keberanian, ketegasan, dan keterbukaan STy tentang AIB rapor TIPS pemain Timnas yang belum lulus TIPS, bagi saya adalah PRESTASI yang tak dapat dibandingkan dengan sekadar tropi juara. PRESTASI nyata STy yang terukur adalah naiknya peringkat FIFA Indonesia yang sangat signifikan.

    Karenanya, kiprah STy yang lebih banyak bergelut dan harus mengobok-obok ulang TIPS pemain Timnas, sewajibnya menjadi TEGURAN untuk penyelenggaraan EPA oleh PSSI, yang terkesan asal jalan dan terus mengulang kesalahan, khususnya keberadaan Klub Liga 1 yang belum juga melakukan kewajibannya dalam menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan pemain sesuai standar akademi sepak bola yang benar.

    Ujungnya, EPA juga hanya untuk gaya-gaya-an tak ubahnya wadah sepak bola akar rumput sejenis yang sudah menjamur di Indonesia dan terus dibiarkan salah kaprah. Sebagian Klub Liga 1 pun hanya memanfaatkan jasa wadah sepak bola akar rumput yang sudah ada. Ada yang memakai prosedur perekrutan pemain yang benar. Tapi tetap ada yang dengan cara seenaknya sendiri. Dalihnya seleksi terbuka, mengabaikan etika dan tata krama manusiawi dan organisasi.

    Apakah EPA sudah sesuai namanya?

    Atas kondisi sepak terjang bersama Timnas, sewajibnya PSSI dan Klub Liga 1 memetik pelajaran dari STy, khususnya dalam program Kompetisi Elite Pro Academy (EPA) Liga 1.

    Saya tahu, EPA digagas utamanya oleh Danurwindo saat menjabat sebagai Direktur Teknik (Dirtek) PSSI beriringan dengan lahirnya gagasan Kurikulum Filanesia.

    Namun, Filanesia hingga saat ini belum layak disebut sebagai Kurikulum, karena belum memenuhi berbagai syarat indikator sebuah Kurikulum. Setali tiga uang, dalam perjalananya EPA juga bergulir tak sesuai namanya.

    Saya salut dan bangga atas gagasan EPA dan Filanesia dari Danurwindo yang saya sebut sebagai Bapak Profesor Sepak Bola Nasional. Namun, dalam praktiknya, gagasan dijalankan oleh PSSI tanpa ada evaluasi, pembenahan, dan perbaikan secara terprogram dan tersistem.

    Wahai PSSI, coba diricek. Apa benar kompetisinya bernama EPA. Kalau disebut elite, ini elite dari ukuran mana? Pro- seperti apa? Academy-nya bagaimana? Apakah PSSI dapat menjawab tentang hal tersebut sesuai fakta dan kenyataan kompetisi yang diberi nama EPA ini?

    Kenyataan dan fakta keberadaan EPA hingga jelang bergulirnya kompetisi 2022/2023, tetap masih JAUH PANGGANG dari API.

    Bila ditelusuri, tentang EPA, publik sepak bola nasional hanya akan menemukan EPA adalah sistem liga sepak bola kelompok usia yang dikelola, diselenggarakan dan dikendalikan oleh PSSI. Sistem ini diperkenalkan pada awal 2018 dan diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tahun 2018, mencakup kelompok usia di bawah 16 tahun sejak 2018. Di tahun 2019 bertambah ada kelompok di bawah 20. EPA dilaksanakan bersamaan dengan gelaran Liga 1 dan diikuti oleh 18 tim Liga 1.

    Kalau saya tanya ke Danurwindo, pasti beliau akan dengan gamblang mampu menerjemahkan gagasannya. Seperti halnya saat pada suatu kesempatan, saya berdiskusi langsung dengan beliau menyoal Kurikulum Filanesia, yang saya sebut belum bisa disebut Kurikulum karena masih banyak indikator yang belum terpenuhi sebagai syarat Kurikulum.

    Begitu pun dengan EPA. Sesuai nama dan kelompok umurnya, seharusnya kompetisi EPA adalah cerminan dari keberhasilan Klub dalam mendidik, melatih, dan membina pemain mereka sejak usia akar rumput (usia 8-15 tahun). Sehingga saat para pemain berusia 16/18/20 tahun, pemain dengan TIPS terbaik sudah disebut sebagai pemain elite karena dididik, dilatih, dan dibina oleh Klub sesuai Standar Akademi yang benar dan diprogram terstrukur berjenjang secara profesional.

    Jangan salah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata elite adalah cendekiawan. orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok atau masyarakat. orang-orang terpandang atau berderajat tinggi. Sesuai bahasa Inggris, makna elite adalah golongan atas, kaum atasan.

    Sementara arti pro salah satunya di KBBI adalah setuju. Sesuai bahasa Inggris adalah ahli, pro-profesional. Dan arti akademi dalam KBBI adalah adalah lembaga pendidikan tinggi, kurang lebih 3 tahun lamanya, yang mendidik tenaga profesional. Dalam bahasa Inggris, academy salah satu artinya adalah sekolah tinggi.

    Pertanyaannya, apakah kompetisi EPA sejak 2018 hingga jelang digelarnya musim 2022/2023 sudah mencerminkan arti EPA baik sesuai makna KBBI dan makna bahasa Inggris? Jawabnya tetap sama. Jauh panggang dari api.

    Meski EPA disebut telah memiliki andil melahirkan pemain Timnas kelompok umur, faktanya tetap saja, para pemain yang disebut sebagai milik Klub Liga 1, tetap diakui oleh wadah aslinya yang telah melahirkan pemain tersebut. Klub hanya merekrut secara instan dan gratisan.

    Sebab, publik sepak bola nasional juga tahu, mana Klub-Klub Liga 1 yang sudah menyentuh dan melakukan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan di sektor akar rumput di Indonesia, dan dapat dihitung dengan jari.

    Klub-Klub yang tidak memiliki pemain sepak bola akar rumput karena tidak melakukan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan pemain akar rumput, terus berkutat harus melakukan cara potong kompas dan instan, demi Klubnya dapat memenuhi regulasi, ada pemain untuk kompetisi EPA yang dihelat oleh PSSI.

    Lucunya, PSSI mewajibkan Klub Liga 1 memiliki tim U-16, U-18, dan U-20 untuk berkompetisi di EPA, tetapi PSSI menutup mata, dari mana asal para pemain yang Klubnya tak tak menjadi wadah sepak bola akar rumput. Membiarkan Klub-Klub Liga 1 mencomot pemain, terus melakukan cara instan, melakukan SELEKSI PEMAIN TEBUKA demi merekrut pemain yang tidak pernah dididik, dilatih, dan dibinanya dari akar rumput. Malah, para pemain dibebani biaya registrasi ratusan ribu rupiah.

    Sejatinya, ada Klub-Klub yang sudah manusiawi, karena melakukan kerjasama dengan wadah sepak bola akar rumput yang sudah ada secara PAKETAN dengan penyalur pemain atau agen pemain. Namun, penyalur pemain ini juga melakukan cara instan dalam merekrut pemain dari wadah yang sudah ada.

    Pada akhirnya, meski menjelang tahun ke-5 Kompetisi EPA digulirkan, banyak Klub dan Agen pemain Paketan yang terus menelikung Sekolah Sepak Bola (SSB) atau Akademi Sepak Bola (ASB) atau Diklat Sepak Bola (DSB) yang sudah terlebih dahulu menjadi pembina secara resmi anak-anak yang direkrut paketan atau comotan.

    Mimpi dan ego orangtua, bukan anak@@ Hal ini diperparah oleh sikap para orangtua yang bermimpi anak mereka dapat menjadi pemain Timnas atau pemain Klub, karena berharap sepak bola menjadi profesi anaknya. Hingga seleksi terbuka yang diselenggarakan oleh Klub Liga 1, dikejar dengan mengabaikan jarak tempuh antar kota, antar pulau di Indonesia. Rela merogoh kocek pribadi, dan mengabaikan etika terhadap SSB atau ASB atau DSB yang telah membina anaknya.

    Di sinilah letak perbedaan orangtua di Indonesia dan orangtua di manca negara terutama di Benua Eropa dan Amerika. Orangtua di sana, karena tingkat pendidikan dan kecerdasannya, maka akan tahu bakat dan arah masa depan anaknya. Profesi apa yang akan cocok untuk anak mereka.

    Bila anak-anak mereka sudah diketahui tidak akan berkembang sebagai pesepak bola karena kondisi TIPS-nya, mereka akan sangat legowo dan akan meninggalkan sepak bola sebagai profesi untuk menjamin kehidupan dan masa depannya.

    Di Indonesia, hingga kini masih dipenuhi para orangtua yang bermimpi anaknya menjadi pesepak bola. Menjadi pemain Timnas atau pemain Klub. Tidak peduli pada kemampuan dan kompetensi TIPS anaknya yang tidak mendukung. Bahkan demi impian orangtuanya, bukan impian anaknya, orangtua rela merogoh kocek yang dalam, bahkan sampai utang demi ego orangtua.

    PSSI tahu masalah kronis ini, tetapi membiarkan kompetisi EPA terus bermasalah dalam regulasi pemain. Terus membiarkan kedudukan SSB, ASB, dan DSB hingga saat ini SALAH KAPRAH.

    Namanya Kompetisi EPA, tetapi apa yang ada di dalam EPA belum sesuai nama EPA, belum sesuai standar EPA. EPA terus dipaksakan bergulir tanpa ada supervisi terhadap Klub Liga 1, apakah layak Klubnya terlibat di dalam Kompetisi EPA tetapi belum melakukan pendidikan, pelatihan, dan pembinaan pemain di kelompok umurnya atau sudah melakukan, tetapi belum sesuai standar Academy yang dimaksud.

    EPA bukan untuk gaya-gayaan. Juga bukan sekadar menyalurkan impian PSSI, Klub, dan para orangtua, yang mengabaikan etika dan tatanan regulasi organisasi, tapi hanya untuk tujuan kepentingan dan kepentingan atau agar disebut PSSI punya program pembinaan pemain?

    Ayo PSSI, coba supervisi dan inspeksi, dari 18 Klub Liga 1, sudah ada berapa Klub yang layak dan lulus prasyarat mengikuti Kompetisi EPA dengan cara yang benar. Sesuai namanya. Elite Pro Academy.

    Kalau pemainnya comotan dan instan, di mana letak elite-nya? Bagaimana profesionalismenya? Kapan dan berapa lama para pemain ada didik, dilatih, dan dibina di Academy Klub bersangkutan?

    Kira-kira, bila STy tahu akar masalah EPA yang kronis ini, apa komentar dan pendapatnya, ya?

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.