Dagelan Mahasiswa dalam Politik (Pemilihan) di Kampus Jaman Now - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Yafet Ronaldies

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Agustus 2022

Jumat, 12 Agustus 2022 07:20 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Dagelan Mahasiswa dalam Politik (Pemilihan) di Kampus Jaman Now

    Yah, kalau ngomongin politik pasti tidak jauh-jauh dari mahasiswa. Basically, mahasiswa yang pengen ku tuliskan adalah era jaman now, atau era milenial on the way akan menuju Gen Z, bahkan sudah terjadi, sih. Perpolitikan dalam kampus jaman now, yang berorientasi kepada mahasiswa, ini terbagi menjadi beberapa macam style/gaya/mood dalam politik mahasiswa. Aku membaginya dalam pandangan objektif pun imajinasi-ku. Nah, mereka-mereka itu seperti;

    Dibaca : 373 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku coba mulai dengan quotes dari Jeni Karay, beliau bilang gini “Membaca itu ibarat menambang. Semakin dalam, semakin banyak hal berharga yang di dapati”.

    Jadi harapanku kalian yang baca tulisan ini, bacanya jangan cuma sampai koma, tapi sampai akhir kalimat tanda titik. Plis, gak perlu terlalu tegang dalam membaca tulisanku, karena walaupun judulnya ada kata ‘Politik’, bahasanya ringan aja dan ada sedikit bumbu-bumbu lucu-lucuannya (Semoga saja tidak garing, ya :v).

    Yah, kalau ngomongin politik pasti tidak jauh-jauh dari mahasiswa. Basically, mahasiswa yang pengen ku tuliskan adalah era jaman now, atau era milenial on the way akan menuju Gen Z, bahkan sudah terjadi, sih. Perpolitikan dalam kampus jaman now, yang berorientasi kepada mahasiswa, ini terbagi menjadi beberapa macam style/gaya/mood dalam politik mahasiswa. Aku membaginya dalam pandangan objektif pun imajinasi-ku. Nah, mereka-mereka itu seperti;

    Pertama, mahasiswa yang apatis atau acuh tak acuh pada isu atau problem apapun, terutama pada politik. Walaupun apatis dengan politik, mahasiswa yang seperti ini ketika sudah menghisap dan menikmati bahkan terjun dalam gairah politik, mereka akan menjadi fanatik terhadap perpolitikkan di kampus. Itu related to seperti yang mereka ikuti atau didukung.

    Bahkan lebih ngerinya mereka bisa menjadi root of problem, akan suatu isu atau masalah kecil dalam hollyWings politik kampus. Mereka biasa lebihh pandai dalam menghasut orang lain secara online terlebih dahulu, kemudian memberanikan diri untuk secara ofline. Yah, semoga kaum-kaum seperti ini tidak menjadi radikal ekstrim, aamiin.

    Berbeda dengan mahasiswa yang Kedua, yaa ibaratnya kita sebut mereka aktivis (hampir rata-rata). Biasanya mahasiswa seperti ini mempunyai jiwa totalitas bahkan loyalitasnya terhadap suatu politik kampus yang dia topang atau bahkan menjadi pemimpin (minimal pengurus) suatu organisasi atau komunitas. Biasanya tipekal yang kedua ini, mereka tidak terlalu fanatik, akan tetapi mereka mempunyai jiwa untuk mendoktrin para anggotanya menjadi fanatik terhadap suatu politik yang di galakkan oleh organisasi atau komunitas tersebut dalam dunia kampus. Mereka juga sudah punya seperti stempel yang melekat pada diri mereka, kalau dia itu seseorang kental dengan suatu organisasi atau komunitas tersebut, kalau bahasa tingginya itu seperti founding fathernya lah.

    Ketiga, ada juga mahasiswa yang versi, bisa bilang indifferent gak terlalu, dibilang kental terhadap jiwa politk kampusnya juga tidak terlalu kentara. Bisa dikatakan mahasiswa yang semi-semi suka politik kampus gitu (karena kebetulan dia kuliah, xixiixi), bisa disebut mereka itu mahasiswa yang netral atau independen bahkan kadang maybe, dilabelin sebagai pengamat. Xixixxiii…

    Biasanya tipekal merek itu plin-plan, tergantung apa, dengan siapa, bahkan backround-nya seperti apa, dan lain sebagainya. Kendatipun demikian, mereka bisa mempertimbangkan pilihan politik mereka di kampus tanpa interpensi dari siapun. Kadang diam-diam bae, tiba-tiba di luar nalar mereka milih ini. Bukan kategori labil ya, tapi lebih ke si’ paling banyak pertimbangan :v. Ibarat kayak pacari cewek cantik, pasti ribet buat nge-jagainnya & support skin care-nya, hihihi. Kira-kira seperti itulah gairah mahasiswa yang ketiga ini, si’ paling r i b e t dan suka nyusahin pikirannya sendiri.

    Ini yang Keempat, Btw, ini agak sedikit ekstrim. Ini teristimewa atau terkhusus buat mereka yang lagi pacaran (yg jomblo aku doain moga cepat punya doi, aamiin). Nah, karakter mereka yang lagi fase-fase pacaran ketika dalam eforia politik kampus, biasanya terbagi lagi; pertama, salah satu pihak mendominasi dalam informasi atau wawasan tentang politik di kampus. Ketika salah satu yang donimasi ini, suatu hari ketika ada pemilihan paslon di kampus maka otomastis pihak yang lebih excited, akan mengarahkan untuk memilih atau mengikuti apa yang pihak si’ donimasi ini dukung. Kebanyakan, si’paling donimasi rata-rata (hampir 98%) adalah cowok. Jadi, ceweknya cuman ngikuti aja atas arahan cowoknya, ini sih antara cinta atau gak nda mau ribet ya, (basically, cewek itu salah satu makhluk hidup yang anti-ribet buat dirinya sendiri, tapi terkadang sering meribetkan cowoknya).

    Kedua, untuk yang 2% nya cewek bisa saja menjadi donimasi atau paling excited dalam perpolitikkan kampus (ini versi sebaliknya), kalau cewek yang menjadi dominasi, fiks cowoknya beg* alias tol*l. Jujurly, penulis yang nulis tulisan ini aja merasa malu banget, ketika ada cowok yang disetir perpolitikkannya karena cinta. C e m e n,   l u h.

    Dan terakhir alias ketiga, ini adalah versi pasangan yang dimana cowok dan cewek tersebut, sama-sama melek dan paham tentang perpolitikkan kampus. Kalau misalkan, pasangan ini satu organisasi dan kemudian organisasi yang mereka naungi sudah jelas arah politiknya, maka pasti fine-fine aja, satu jalan ceritanya. Nah ini berbeda lagi nih ketika, ada satu pasangan yang keduanya memiliki label organisasi yang berbeda, pun arah politik kampusnya juga berbeda. Wahh wahhh, ini agak ribet, wkkww. Apalagi pasangan tersebut sama-sama saling paham dan mendalami perpolitikkan kampus.

    Aku cuman mau nyampein, please, jangan rusak hubungan kalian demi politik kampus yang tidak seberapa memberikan effort lebih buat penunjang mood kalian untuk semangat berkuliah.

    Terlepas dari itu, fungsi serta peran mahasiswa sebagai agent of change (generasi perubahan), social control (generasi pengontrol), iron stock (generasi penerus), bener-bener terlebih dahulu menguasai teori-teori tentang bagaimana menjadi peran mahasiswa yang sesungguhnya, ketika teori sudah matang segera eksekusi dengan gaya potensi dirimu masing-masing, tanpa harus ngikutin gaya orang lain. Boleh ngikutin gaya orang lain, akan tetapi tunjukan karateristik kepribadian mu. Mahasiswa juga harus menjadi garda terdepan dalam ‘agent of political’, meluapkan eforia politik yang sesuai dengan norma-norma serta pondasi dari konsitusi. Jangan terpecah karena perbedaan politik, mahasiswa yang arif & penuh kebajikan ialah mereka yang mampu mereduksi akar-akar pondasi bangsa ini.

     

    Salam Hangat dari Penulis

    Yafet Ronaldies

    Instagram: @yafetronaldies

    email: @yafetronaldies7

    Twwiter: @Fet_Ronaldis

    Ikuti tulisan menarik Yafet Ronaldies lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.