Sayangnya, Ganjar [sekarang] bukanlah Jokowi [waktu itu] - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 22 September 2022 12:12 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Sayangnya, Ganjar [sekarang] bukanlah Jokowi [waktu itu]

    Dibandingkan dengan Jokowi hampir sepuluh tahun yang silam, Ganjar boleh dikata tidak berada pada momen yang tepat untuk maju nyapres. Saat ini, elite PDI-P lebih memilih Puan walaupun Ganjar lebih populer dan walaupun mereka harus berusaha keras untuk meningkatkan popularitas putri Megawati ini agar nanti dipilih oleh rakyat.

    Dibaca : 1.819 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Walaupun belum mengumumkan secara resmi, PDI-P semakin memperlihatkan kecondongannya untuk menempatkan Puan Maharani sebagai calon presiden. Ganjar Pranowo semakin kurang mendapat tempat di elite partai ini. Gubernur Jawa Tengah ini tidak diundang untuk menghadiri acara penting yang baru-baru ini diadakan di Semarang, kota tempat Ganjar berkantor. Inikah isyarat yang jelas bahwa peluang Ganjar untuk dicapreskan oleh PDI-P semakin menipis?

    Bahkan di Jakarta sudah dibentuk apa yang dinamai oleh para politikus PDI-P sebagai Dewan Kolonel. Dewan ini beranggotakan sejumlah anggota DPR dari seluruh komisi yang ada. Dewan dibentuk dengan tugas pertama meningkatkan popularitas Puan Maharani di daerah-daerah. Tak terdengar nama Ganjar disebut-sebut. Inikah isyarat lainnya?

    Dalam berbagai survei politik yang diadakan berkali-kali, nama Ganjar selalu masuk dalam tiga besar politikus yang paling populer bersama Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. Di antara mereka bertiga hanya Prabowo yang memiliki kendali atas partai. Sementara itu, Puan menempati peringkat bawah. Nah, mendongkrak ketenaran nama Puan di mata rakyat inilah yang hendak dikerjakan oleh Dewan Kolonel.

    Ganjar memang bukan Jokowi, dan Ganjar terlihat akan sulit menapaki jejak Jokowi untuk bisa maju ke perhelatan pilpres. Ketika Megawati menetapkan Jokowi sebagai capres pada 2014 lalu, Puan masih belum dianggap matang dalam politik, sekalipun sebenarnya Jokowi pun tidak berbeda. Tapi kala itu Jokowi dikesankan memiliki citra yang dianggap dapat merebut simpati rakyat. Sementara, saat itu, tidak ada figur lain yang dianggap memenuhi kebutuhan partai untuk bisa memenangkan pilpres 2014 maupun 2019.

    Setelah magang di kabinet pertama Jokowi, Puan kemudian memimpin DPR sebagai tempat magang berikutnya. Dari dua posisi di eksekutif dan legislatif ini, Puan dianggap sudah cukup matang untuk diserahi tanggungjawab yang lebih besar. Barangkali seperti itu jalan pikiran Megawati. Dan sekarang tiba waktu bagi putrinya itu untuk memegang peran dan tanggungjawab yang lebih besar bagi bangsa ini. Dibanding Puan, Ganjar jelas bukan orang terdekat dengan Megawati, pemutus kata akhir siapa yang harus maju ke gelanggang pilpres 2024.

    Jadi, dibandingkan dengan Jokowi hampir sepuluh tahun yang silam, Ganjar boleh dikata tidak berada pada momen yang tepat untuk maju nyapres. Saat ini, elite PDI-P lebih memilih Puan walaupun Ganjar lebih populer dan walaupun mereka harus berusaha keras untuk meningkatkan popularitas putri Megawati ini agar nanti dipilih oleh rakyat. Ganjar yang sudah populer dalam berbagai survei, sayangnya, dia bukanlah Puan yang memiliki pertalian darah dengan ketua umum PDI-P. Partai-partai lain akan berpikir berkali-kali bila ingin mengusung Ganjar, sebab itu berarti akan berhadapan dengan PDI-P yang merasa akan mampu memenangkan pemilu untuk ketiga kalinya. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.