x

Iklan

Christian Saputro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 Juni 2022

Kamis, 22 Juni 2023 12:30 WIB

Cengbengan Bareng Boen Hian Tong, Ziarah Ke Makam Gus Dur di Tebu Ireng Jombang

Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong atau yang juga dikenal dengan sebutan Rasa Dharma akan menggelar acara ziarah ke makam Gus Dur di Kompleks Makam Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Perjalanan spiritual yang mengusung nama Cengbengan Gus Dur ini bertujuan memupuk dan mewarisi nilai-nilai luhur teladan bapak Tionghoa Indonesia.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong atau yang juga dikenal dengan sebutan Rasa Dharma akan menggelar acara ziarah ke makam K.H Abdurahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Makam Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Ketua Perkumpulan Sosial dan Budaya Boen Hian Tong Harjanto Halim mengatakan, perjalanan  spiritual yang mengusung nama Cengbengan Gus Dur ini bertujuan untuk memupuk dan mewarisi nilai-nilai luhur teladan bapak Tionghoa Indonesia.

Ceng Beng sendiri dalam bahasa Hokkian, artinya terang benderang yang kemudian disimbolkan mendatangi makam leluhur dengan berziarah dengan mendoakan agar mendapat cahaya hidup bagi anggota keluarga yang masih ada.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 “KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur merupakan Presiden ke -4 Republik Indonesia. Gus Dur merupakan guru bangsa pendukung minoritas. Tokoh yang sangat dihargai dan dihormati bukan hanya oleh orang Tionghoa tetapi oleh selurih bangsa Indonesia, ” terangnya.

Harjanto lebih lanjut memaparkan rombongan akan berangkat  dari Gedung Rasa Dharma (Boen Hian Tong) , Gang Pinggir 31, Semarang, Sabtu, (24/06/2023) pagi.  Sebelumnya akan didahului dengan ritual sembahyang di hadapan sinci leluhur di alatar utama Boen Hian Tong untuk persiapan membawa sinci Gus Dur.

https://www.indonesiana.id/admin/pickimage?src=altar+utama+boen+hian+tong#

“Sinci atau papan arwah  yang selama ini disemayamkan di altar utama Boen Hian Tong akan dibawa ke Jombang nantinya akan didoakan secara lintas agama di hadapan makam Gus Dur di TKompleks Tebu Tebu Ireng,  ” ujar Harjanto.

Harjanto Halim, membabarkan sinci Gus Dur adalah bentuk penghormatan kepada Gus Dur dari masyarakat Tionghoa.   Sinci adalah papan kayu bertuliskan nama leluhur yang sudah meninggal dan diletakkan pada altar penghormatan. Kalau sudah diberikan Sinci atau silsilah,  namanya tentu akan selalu didoakan oleh komunitas Tionghoa.

“Kami ingin menghormati jasa-jasa Gus Dur baik ketika masih hidup dulu. Jadi Gus Dur juga didoakan oleh kaum Tionghoa seperti leluhur lainnya. Bahkan setiap haul Gus Dur  kami juga memperingatinya,” imbuh Harjanto.

Pada sinci Gus Dur, imbuh, Harjanto,  tertulis dalam  aksara Hanzi kalimat; ‘Yin Hua Zhi Fu, Fu Ruo Guo Zhi'”  yang artinya, “Bapak Tionghoa Indonesia, Guru Bangsa, Pendukung Minoritas.

“Fungsi sinci yang paling mudah adalah untuk melacak silsilah leluhur. Melihat keturunannya sampai ke tingkat paling awal menjadi mudah. Juga soal hobi dan apa kesukaannya juga tertulis,” jelas Harjanto.

Menariknya papan silsilah Gus Dur pada puncaknya ada seperti atap terdiri tiga susun. Menurut Harjanto ini mencontoh atap Masdjid Agung Demak, yang tiga trap yang menyimbolkan Iman, Islam dan Ihsan.

“Dulu puncaknya bulat seperti kubah masjid kebanyakan. Tetapi setelah berkonsultasi dengan Gus Mus disarankan untuk diganti, karena Gus Dur lebih suka arsitektur lokal. Gus Mus menyarankan untuk mengganti seperti puncak Masjid Agung Demak,” terang Harjanto.

Penghormatan terhadap Gus Dur diberikan dalam bentuk Sinci alasannya, lanjut Harjanto, bagi kaum Tionghoa, Gus Dur dinilai telah menghapus kekangan, tekanan dan prasangka.

“Dulu kaum Tionghoa kerap mendapati stigma buruk baik dari pemerintah Indonesia, maupun masyarakat pada umumnya. Gus Dur juga dinilai telah berjasa menjadikan semua warga negara menjadi setara. Gus Dur itu  toleran dan menerima perbedaan,” pungkas Harjanto.

Wisata Budaya, Sejarah  dan Kuliner

Sementara itu, Asrida Ulinuha salah satu koordinator mengatakan, selain ziarah rombongan juga melakukan wisata budaya mengunjungi Klenteng Hong San Kiong, Gudo, Jombang, Museum Wayang Potehi, dan menonton pertunjukan wayang Potehi,  

“Selain itu peserta ziarah akan diajak kulineran menikmati nasi kikil merah Mojosongo salah satu makan kesukaan Gus Dur yang legendaris,’ imbuh Ulin sapaan akrab Asrida Ulinuha.

Ulin menambahkan rombongan juga akan mengunjungi situs bersejarah dinasti Qing, juga menyambangi  Maha Vihara Mojopait, Trowulan. “Belanja oleh-oleh khas setempat manik-manik dan tahu susu juga menjadi agenda kunjungan,” ujar Ulin.

*) Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis pemerhati Sejarah dan Budaya tinggal di Semarang.

Ikuti tulisan menarik Christian Saputro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB