x

Iklan

Leonita Siwiyanti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 September 2023

Jumat, 15 September 2023 12:38 WIB

Dampak Aplikasi Warung Digital Seapreneur bagi Pelaku UMKM

Banyak kendala yang dihadapi pelaku UMKM dalam berinteraksi dengan dunia digital. Salah satu cara mengatasi hal itu digelar kolaborasi antara akademisi Universitas Muhammadiyah Sukabumi dengan mitra (SEA) dalam program kedaireka.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendahuluan

Tren bisnis berubah seiring kemajuan teknologi. Salah satu tren bisnis saat ini adalah pemasaran digital. Pemasaran digital termasuk pemasaran produk melalui media digital, seperti e-commerce, atau internet. Kegiatan pemasaran digital bertujuan untuk secara efektif dan efisien melibatkan pelanggan dan pelanggan potensial. Karena masyarakat sangat menggunakan internet dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, banyak bisnis memilih untuk menggunakan digital marketing. Penggunaan digital marketing menyebabkan persaingan yang sangat ketat di internet, khususnya dalam pembuatan konten.[1]

Para pedagang UMKM yang hanya menjual barang mereka di toko offline dapat menghadapi semua tantangan yang sangat besar. Proses transisi dari revolusi industri 4.0 ke revolusi 5.0 memiliki dampak yang signifikan pada penjualan produk usaha kecil dan menengah (UMKM). Pada masa pandemi, UMKM yang masih berjualan dengan tangan mungkin kewalahan oleh e-commerce yang gencar mendorong pelanggan untuk aktif berbelanja secara online. Selain itu, UMKM harus memiliki kemampuan untuk bersaing dan memperluas pemasarannya melalui langkah-langkah seperti menjadi "cerdas" dalam teknologi, memahami cara memasarkan secara online, dapat beralih ke e-commerce, dan memiliki situs web sendiri.[2]

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tantangan yang cukup besar ini menyebabkan pemerintah melalui program kedaireka Machingfundnya berusaha berkolaborasi dengan civitas akademik di perguruan tinggi. Kolaborasi tersebut bertujuan untuk dapat memecahkan masalah yang ada di UMKM, khususnya di wilayah Sukabumi. Bagaimana cara yang dilakukan akademisi dalam mengembangkan warung digital sebagai alat pemasaran UMKM secara digital? Selanjutnya bagaimana pelatihan dan sosialisasi aplikasi seapreneur dapat dipahami mitra? Terakhir, bagaimana mengenalkan warung digital ini kepada masyarakat luas?

 

Pengembangan warung digital sebagai pemasaran UMKM melalui Kedaireka

Penjualan bisnis kecil dan menengah (UMKM) menurun sebagai akibat dari pandemi COVID-19.  Pemerintah percaya bahwa usaha kecil dan menengah (UMKM) adalah sektor yang paling strategis yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan perekonomian nasional.  Pemerintah, BUMN, swasta, dan akademisi harus bekerja sama untuk meningkatkan UMKM.[3] Upaya ini dilakukan untuk mempercepat proses penyesuaian UMKM dalam upaya meningkatkan ekonomi nasional. Para pelaku UMKM dapat memanfaatkan digitalisasi berbasis aplikasi atau jejaring sosial, yang memungkinkan produk terintegrasi di seluruh negara.  Pidato presiden RI pada pertemuan tahunan pertengahan Agustus 2021 juga mendukung upaya pemerintah untuk mendorong lebih banyak pengusaha kecil dan menengah (UMKM) untuk bergabung dengan ekonomi digital karena potensinya yang lebih besar.[4]

Proses bisnis beberapa UMKM di Sukabumi masih dilakukan secara manual, seperti promosi dan pemasaran, pemesanan produk untuk dijual, dan transaksi yang lebih lama dan lebih mahal. Sebaliknya, pengusaha dapat menghasilkan nilai tambah yang bermanfaat bagi perusahaan mereka jika mereka berusaha mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang pesat. Dari perspektif pembeli, mereka dapat memberi target pasar lebih banyak pilihan dalam memilih barang dan jasa. Kemajuan teknologi dimaksimalkan.[5]

Menurut pengamatan dan wawancara yang dilakukan dengan mitra di Sukabumi (Sukabumi Entrepreneur Association/SEA), ada sejumlah tantangan yang harus diatasi oleh para pelaku UMKM. Beberapa di antaranya adalah kurangnya sumber daya manusia yang mampu membangun bisnis digital untuk produk UMKM, dan keterbatasan pelaku UMKM dalam konsep dan praktik digital marketing. Dengan demikian, layanan bersama dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah dalam proses produksi dan penjualan produk UMKM.

Oleh karena itu, para pelaku UMKM di Sukabumi disarankan untuk membangun platform pemasaran bisnis digital, yang diharapkan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kinerja UMKM di kota tersebut. Selanjutnya melalui program kedaireka Machingfund, maka civitas akademik mencoba membuat aplikasi bisnis digital yang disebut "seapreneur" yang dapat digunakan sebagai platform pemasaran UMKM di Sukabumi. Selanjutnya, admin, pelaku UMKM, pengurus, dan konsumen menggunakan seapreneur. Dengan dukungan dari platform seapreneur, diharapkan UMKM akan menghasilkan lebih banyak uang. UMKM ini kemudian dapat berkembang dengan bantuan sistem jaringan, yang memanfaatkan teknologi yang semakin modern. Ini karena usaha kecil dan menengah (UMKM) memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia.[6]

Metode pengembangan aplikasi seapreneur menggunakan salah metode software development lifecycle (siklus hidup pengembangan perangkat lunak) yaitu metode waterfall (air terjun) karena dengan metode ini pengembangan aplikasi seapreneur dapat dilakukan dengan tahapan berurutan dari analisis sampai ke pemeliharaan.

Secara detailnya tahapan dari pengembangan seapreneur mengikuti alur waterfall yaitu:

Pertama, melakukan analisis kebutuhan (waterfall) yaitu menganalisi kebutuhan pengguna yang melibatkan calon pengguna aplikasi diantaranya pengurus SEA, pengelola UMKM di kota Sukabumi dan sampel masyarakat yang pernah membeli produk dari UMKM Kota Sukabumi. Analisis kebutuhan ini untuk menghasilkan kebutuhan fungsional dan juga kebutuhan non fungsional agar aplikasi seapreneur yang dibuat benar-benar sesuai kebutuhan pengguna dan dapat menyelesaikan masalah yang ada yang berkaitan dengan proses promosi, display produk dan jual beli di UMKM Sukabumi. Hasil dari analisis disajikan dalam bentuk dokumen kebutuhan (requirement document).

Kedua, perancangan (design), pada tahap perancangan ini dibuat beberapa perancangan untuk memudahkan dalam proses pengembangan aplikasi seapreneur yaitu perancangan artistektur aplikasi, perancangan proses, perancangan basis data dan perancangan tampilan.  Hasil perancangan digambarkan menggunakan Unified Modelling Language (UML). Ketiga, melakukan pengkodean (Implementation), hasil dari perancangan menjadi rujukan untuk proses koding aplikasi seapreneur yang dibuat berbasis website. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah PHP dan MySql.

Keempat, dilakukan pengujian aplikasi (Verification), setelah proses pengkodean dilakukan proses pengujian yang terbagi menjadi dua bagian yaitu pengujian logika yang ada pada kode program dan juga pengujian fungsi aplikasi sesuai dengan kebutuhan fungsional yang telah ditentukan dalam dokumen kebutuhan. Proses pengujian ini dilakukan beberapa kali sehingga menghasilkan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan kemudian dilakukan deployment website dengan cara mengunggah website seapreneur dengan alamat seapreneur.id yang dapat digunakan secara umum oleh pengguna yang ditujukan. Terakhir, kelima, dilakukan pemeliharaan (Maintenance), dilakukan percobaan penggunaan aplikasi seapreneur selama dua bulan kepada komunitas SEA (Sukabumi Enterpreneur Assosiation). Dari hasil kegiatan ini didapatkan beberapa masukan yang dapat mengoptimasi fungsi dari seapreneur. Masukan-masukan ini dijadikan feedback untuk perbaikan aplikasi pada tahap selanjutnya.

Dari proses pengembangan aplikasi tersebut dihasilkan website seapreneur yang telah diunggah dengan alamat https://seapreneur.id/ dan telah di daftarkan Hak Kekayaan ntelekrualnya (HAKI). Website ini memiliki beberapa fitur yaitu informasi, etalase, anggota sea, layanan, event UMKM, dan pembelian barang UMKM. Website ini juga memiliki beberapa akses pengguna yaitu administrator yang dikelola oleh pengurus Sukabumi Enterpreneur Association (SEA), pemilik UMKM dan masyarat umum yang tertarik membeli atau berinteraksi dengan website seapreneur.id.

 

 Pelatihan media sosial dan sosialisasi aplikasi seapreneur

Setelah pembuatan aplikasi seapreneur, dosen dan mahasiswa UMMI (Universitas Muhammadiyah Sukabumi) melaksanakan pengabdian kepada mitra DUDI, yaitu SEA (Sukabumi Enterpreneur Assosiation). Kegiatan berlangsung selama dua bulan, dimulai dengan bersosialisasi dengan para pelaku UMKM dan mengajarkan mereka cara menggunakan aplikasi seapreneur. Kegiatan ini dimulai pada 30 Oktober 2022 dan melibatkan 70 UMKM yang telah diakui oleh dinas kesehatan dan memiliki label. Kegiatan dimulai dengan penyebaran konten yang berkaitan dengan penggunaan media sosial—WhatsApp Business—yang digunakan oleh aplikasi ini. Kemudian dilakukan sosialisasi dan pelatihan tentang cara menggunakan aplikasi seapreneur. Operator UMKM yang tergabung dalam SEA juga harus mendaftar pada aplikasi tersebut.

Berdasarkan sudut pandang pelaku UMKM, penggunaan media sosial sangat masuk akal untuk berbagai alasan, seperti mempromosikan produk UMKM di industri dalam negeri, menghubungi pelanggan secara langsung, merekam keinginan konsumen, berbagi umpan balik konsumen, dan membantu bisnis membuat keputusan melalui produksi. Pemangku kepentingan UMKM memang dapat meningkatkan penjualan mereka dengan menggunakan media sosial.  Media sosial adalah istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada wahana atau lokasi yang memungkinkan orang banyak berinteraksi secara luas dan berbagi konten dengan rekan melalui teknologi online.[8]

Aplikasi seapreneur memang sangat memudahkan pelaku UMKM; menggunakan toko online yang sudah ada tidak sulit bagi mereka. Sebagian besar pelaku UMKM telah mendapatkan pelatihan tentang belanja online, tetapi mereka lupa cara menggunakannya saat pulang ke rumah. Mereka juga menghadapi masalah untuk mendapatkan hasil penjualan, karena itu baru bisa dilakukan satu atau dua bulan setelah kesepakatan ditutup.

Sebagai warung digital, aplikasi seapreneur diharapkan dapat mengatasi masalah penjualan sebelumnya. Pengusaha UMKM yang tergabung dalam SEA tidak hanya dapat berdagang langsung antara penjual dan konsumen, mereka juga menawarkan hasil produksinya kepada koperasi UMKM. Ini dilakukan agar UMKM yang jauh dapat menitipkan barangnya di koperasi tersebut dan kemudian menjualnya langsung atau nanti ke konsumen. Selain itu, UMKM yang menggunakan aplikasi Seapreneur memiliki kesempatan untuk menjual barang mereka sendiri. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengikuti acara dan pelatihan yang berkaitan dengan UMKM dari tingkat akademis dan dinas.

 

Pendampingan kepada pelaku UMKM untuk meningkatkan pemasaran

Melatih tenaga lapangan, atau mahasiswa, dimulai setelah sosialisasi dan pelatihan aplikasi untuk pelaku UMKM selesai. Selama pengoperasian aplikasi ini, pengelola koperasi UMKM dapat langsung mengetahui pesanan produk, dan tenaga lapangan (mahasiswa) dapat langsung membantu para pelaku UMKM memasang barang mereka di etalase seapreneur dan menerima pesanan dari konsumen.

Selain itu, kegiatan pendampingan usaha kecil dan menengah (UMKM) akan berlangsung selama 20 hari. Pertama, deskripsi produk dimasukkan ke dalam aplikasi Seapreneur dengan mempertimbangkan ukuran, layout, dan tampilan produk. Diharapkan pelanggan akan tertarik untuk membeli barang-barang yang ditawarkan melalui aplikasi ini. Kemudian lanjutkan untuk membantu pengurus koperasi dengan pesanan, transaksi, dan penarikan.  Pelaku UMKM dapat mengambil uang paling lambat dua hari setelah transaksi.

Terakhir, mereka meluncurkan aplikasi seapreneur untuk pelanggan. Launching dan mempromosikan aplikasi ini kepada masyarakat atau konsumen. Kegiatan tersebut berlangsung pada 22 dan 24 Desember 2022. Tujuan dari acara ini adalah agar masyarakat umum dapat menggunakan aplikasi ini untuk membeli barang-barang yang diproduksi oleh usaha mikro, kecil, dan menengah di Sukabumi. Presiden mengatakan, "Produk UMKM Indonesia harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri."

Teknologi web adalah teknologi yang dibuat di ruang data browser dan digunakan menggunakan bahasa pemrograman web. Para pelaku bisnis dapat mencapai prestasi yang lebih baik dengan menggunakan teknologi informasi. Bahkan bisnis kecil dan menengah (UMKM) saat ini mampu bersaing baik di tingkat lokal maupun internasional. Teknologi web sangat diminati oleh semua lapisan masyarakat, terutama mereka yang menggunakan internet, karena merupakan metode pengiriman informasi yang paling efisien.[9]

Pasar online, juga dikenal sebagai pasar elektronik, adalah pasar di mana penjual dan pembeli dapat bertemu tanpa harus bertemu secara langsung. Dengan teknologi seperti aplikasi yang dirancang dan dimaksudkan untuk mempermudah penetapan harga, pembuatan produk, dan layanan, inovasi produk saat ini dapat dilakukan kapan saja. Ini memungkinkan barter yang dituju bagi individu dan organisasi. Pelaku industri kreatif dapat mempertahankan bisnis mereka dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan berekspansi ke berbagai platform.

Kegiatan pengabdian ini mencapai dan menghasilkan manfaat bagi para pelaku UMKM karena mereka dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi saat ini. Aplikasi Seapreneur telah membuat banyak order konsumen. Selain itu, komunikasi langsung menjadi murah, efektif, dan efisien. Selain itu, bisnis yang sudah mapan berkembang pesat dalam interaksi langsung, transfer bank dengan uang elektronik atau layanan perbankan, dan komunikasi yang baik dan lancar dengan pedagang.

 

Kesimpulan

Program kedaireka Machingfund 2022 memungkinkan para pelaku UMKM di Sukabumi untuk menggunakan platform pemasaran bisnis digital yang dikenal sebagai seapreneur untuk memasarkan barang-barang mereka. Kegiatan pengabdian dosen dan mahasiswa UMMI ini telah menghasilkan manfaat berikut: hampir 70 UKM dengan sekitar 250 produk telah menggunakan program ini untuk pemasaran. Program aplikasi ini meningkatkan pendapatan pelaku UMKM. Kelemahannya adalah operator UMKM sering lupa menggunakan aplikasi ini, yang berarti mereka memerlukan instruksi manual dan video tutorial. Pengelola dan manajemen SEA masih belum siap untuk memberikan dana penerima dan melakukan pemesanan cash on delivery.

Selain itu, usaha kecil dan menengah (UMKM) akan terus didampingi hingga mereka mahir bertransaksi dengan aplikasi seapreneur. Selain itu, pengelola dan pengurus koperasi tidak lagi menghadapi masalah dalam menerima pembayaran dan mengirimkan pesanan COD di kota Sukabumi. Aplikasi ini tidak hanya dapat digunakan untuk transaksi atau pemasaran; mereka juga dapat membantu seluruh pelaku UMKM dengan memberikan pelatihan dan workshop. Dengan menerapkan aplikasi ini, pelaku UMKM memiliki jangkauan penjualan yang lebih besar di pasar domestik dan internasional karena pemahaman dan pengetahuan mereka meningkat serta pendapatan penjualan meningkat

 

[1] Hardilawati, W. laura. (2020). Strategi Bertahan UMKM di Tengah Pandemi Covid-19. Jurnal Akuntansi Dan Ekonomika, 10(1), 89–98. https://doi.org/10.37859/jae.v10i1.1934.

[2] Lodwyk, F., Riwoe, R., Mulyana, M., & Sarah, S. (2022). Pendampingan Penggunaan Social Media Marketing Bagi UMKM Kota Bogor. Jurnal Abdimas Dedikasi Kesatuan, 3(1), 25–32. https://doi.org/10.37641/jadkes.v3i1.1389.

[3] Sakas, D. P., Reklitis, D. P., Terzi, M. C., & Vassilakis, C. (2022). Multichannel Digital Marketing Optimizations through Big Data Analytics in the Tourism and Hospitality Industry. Journal of Theoretical and Applied Electronic Commerce Research, 17(4), 1383–1408. https://doi.org/10.3390/jtaer17040070

[4] Purnamasari, E. D., Anggraini, L. D., Faradillah, F., & Jinal, J. (2022). Pentingnya E-Commerce Pada Pelaku Usaha Kerupuk Kemplang Lembak. Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(6), 1511–1516. https://doi.org/10.31849/dinamisia.v6i6.11751

[5] Ramdan, A. M., Siwiyanti, L., Pertala, E. C., Anggraini, N., & Jhoansyah, D. (2022). Model Pendampingan Peningkatan Kinerja Pemasaran Kelompok Sadar Wisata Desa Kebonmanggu Kabupaten Sukabumi. In Academics in Action Journal (Vol. 4, Issue 1).

[6] Farizki, F. I., Salamah, R., Mutiah, T. S. R., Wardhani, W. K., & Siddi, P. (2020). Penyuluhan Umkm Di Era New Normal Dengan Memprioritaskan Ekonomi Digital Marketing. SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 4(1), 620. https://doi.org/10.31764/jpmb.v4i1.3374

[7] Heriyanti, F., & Ishak, A. (2020). Design of logistics information system in the finished product. IOP Conference Series: Materials Science and Engineering (pp. 1-5). Medan: Magister of Industrial Engineering, Universitas Sumatera Utara.

 

[8] Lina, L. F., & Permatasari, B. (2020). Social Media Capabilities dalam Adopsi Media Sosial Guna Meningkatkan Kinerja UMKM. Jembatan : Jurnal Ilmiah Manajemen, 17(2), 227–238. https://doi.org/10.29259/jmbt.v17i2.12455

[9] Rajh, S. P. (2022). Consumer Decision-Making Styles in the Digital Product Category. Market-Trziste, 34(2), 191–203. https://doi.org/10.22598/mt/2022.34.2.191

Ikuti tulisan menarik Leonita Siwiyanti lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler