x

Prosesi Patung Bunda Maria Di Bulan Rosario

Iklan

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Senin, 2 Oktober 2023 08:38 WIB

Bunda yang Kurindukan...

Di bulan Oktober, ziarah iman-harapan- kasih Gereja menuju Tuhan disegarkan kembali dalam doa bersama Bunda Maria. Kita rindukan dekapan kasih seorang ibu yang meneguhkan dan membesarkan hati. Seorang ibu yang peduli akan menjadi apa setiap kita alami. Terutama dalam segala kekurangan, ketidakhebatan serta aneka kekhilafan dalam hidup ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Oktober penuh harapan



Oktober sudah tiba. Bulan yang terkait dengan devosi populer 'doa dan korban' bersama Bunda Maria segera dimulai. Segala rancang program kegiatan devosi sudah diracik. Umat ​​Allah sudah pada tak sabar Tuhan dalam ziarah bersama menuju Sang Bunda. Per Mariam ad Iesum, mesti dinyatakan.



Melalui Maria menuju Yesus adalah kiat demi membawa segala rasa hati, suka dan duka dan iman dalam cahaya segala kisah yang dialami Bunda Maria, sebagai Ibunda Sang Penebus. Tak ada niat hati apalagi jika ingin mengungkapkan nota iman untuk menempatkan Bunda Maria sebagai 'pengantara atau penyelamat bayangan' di samping Yesus, satu-satunya Pengantara dan Penyelamat.

 
Tapi sudahlah! De Maria numquam satis,' tentang Maria tak pernah cukup' untuk direnungkan, dialami dan dirasakan. Tak ada maksud ekstra mewah untuk mengusung Maria dalam parade atau festival heboh yang terkesan 'membesar-besarkan' devosi dan peran Bunda Maria dalam tata keselamatan.



Tetapi juga, tak boleh terlalu untuk sungguh-sungguh meminggirkan pengaruh lagu Bunda dalam kehadiran Yesus, lagu Anak Allah. Sebab toh minimalisme teramat sangat pada sosok Bunda Maria, tak akan pernah membatalkan kenyataan: Dialah ibu 'yang mengandung dan melahirkan Yesus, Anak Allah yang mahatinggi' (lih. Luk 1:31-32).

Bunda Penuh Kasih

 
Di bulan Oktober, ziarah iman-harapan- kasih Gereja menuju Tuhan disegarkan kembali dalam doa bersama Bunda Maria. Kita rindukan dekapan kasih seorang ibu yang meneguhkan dan membesarkan hati. Seorang ibu yang peduli akan menjadi apa setiap kita alami. Terutama dalam segala kekurangan, ketidakhebatan serta aneka kekhilafan dalam hidup ini.


Pada hari-hari ini, rumah keluarga kita akan dikunjungi saudara-saudari seiman. Dipertautan dalam doa rosario bersama. Rumah keluarga tentu menjadi tanda nyata kehadiran Gereja yang berziarah bersama Bunda Maria. Bersyukurlah bahwa rumah keluarga datangi dan dipenuhi dengan aura kasih dan kegembiraan. Pun di situlah semakin meneballah keyakinan: Kita tak pernah berjalan sendiri.


Tetapi, mari ringankan hati kita pula untuk melangkah dalam iman menuju rumah saudara-saudari seiman. Tak ada hadiah yang istimewa buat 'tetangga di sebelah dan di sekitar rumah kita selain kehadiran dan doa-doa kita. Jangan 'pegang dan sembunyikan rahmat kegembiraan hanya untuk diri sendiri, tetapi berbagi-bagilah dengan sesama-sesama kita.

Hari penuh ceriah


Kunjungan Maria ke Elizabet, sanaknya, sambil kanak-kanak membawa Yesus dalam rahimnya, adalah inspirasi bahwa kita selalu hadir untuk membawa 'inti dari warta keselamatan, pengharapan dan Firman yang menjadi manusia'. Mungkinkah Anda masih membalas dendam pada tetangga, atau orang tertentu dalam Kelompok? Dan Anda menjadi berat hati dalam amarah yang terlilit dalam benang kusut tak tentu rasa? Segera sudahilah semuanya....


Di bulan Maria ini, bebaskan semua kesumpekan di dalam dada. Semua yang jadi perintang kita untuk 'saling berkunjung dan saling menyapa di dalam kasih persaudaraan. Maria, Bunda kita, Ratu Pencinta Damai, mendoakan kita agar kembali memiliki kebesaran jiwa dan rasa ringan di hati untuk 'saling mendoakan dan saling melingkari.'

Ibu kita semua: Dalam kemanusiaan..

Dibayangkan saja bahwa di malam 'Rosario umat,' ada kaum religius yang sejenak meninggalkan indahnya doa Completorium malam di zona sendiri untuk ikut teduh dalam doa kelompok umat dalam resitasi Rosario. Apalagi bila ada kehadiran 'kagetan' para klerus untuk bersama umat. Suatu kehadiran penuh berkat yang meneguhkan. Mari lebih lanjut berpikir.....


Dalam lantunan Doa Salam Maria, kami tetap mohon doa melalui perantaraan sang Bunda. “Doakanlah kami yang berdosa ini...” Itulah seruan setiap kita yang sungguh manusiawi, dalam satu pengakuan yang tulus. Adakah manusia yang tak terkepung dan bebas terhirup dari asap dosa dan kekurangan?
 
Kita bersama-sama mohon dalam kerinduan dan kerendahan hati: Ora pro nobis peccatoribus.... Doakanlah kami yang selalu letih dan tanpa daya untuk mudah tenggelam di dalam suram dan nista. Sebenarnya terasa berat memang untuk mengucapkan “Doakanlah kami yang dosa ini...” bagi yang merasa diri tetap dan selalu 'suci lahir dan di dalam batin.'


Demikian pun seruan kepada sang Bunda untuk melakukan setiap kita hingga pada 'saat maut yang tak terelakan itu datang menjemput.' Akhir hidup, iya kematian itu, adalah 'kisah kemanusiaan' kita yang tak terelakan. “Berdosa” dan “kematian” adalah 'jalan pasti dan nasib setiap kita yang tak terhindarkan. Namun, tidak kah kita diteguhkan akan harapan keabadian, di kala dalam suara kita terucap:sekarang dan pada waktu kami mati ….


Kita tentu merindukan kehadiran Sang Bunda, yang menemani kita di setiap kisah-kisah hidup kita! Jika tapak hidup kita terasa berat dan nyaris tanpa rasa, tidakkah episode mater dolorosa, bunda sujudcita, yang bertahan hingga kaki salib tetap menjadi 'tuntunan tangan penuh kasih?' Bahwa di kaki salib tetap terekam suara kasih, “Ibu, inilah anakmu! ”......dan kepada sang anak, “Inilah ibumu” (Yoh 19:26-27).

Jalan Devosi vs Jalan Liturgi?

 
Pada tahun kemarin, saya sempat ke Fatima-Portugal, lalu terus ke Lourdes-Prancis. Terkesan 'mewah' dan terkesan 'overdosis devosional.' Bagaimanapun wisata spiritual tidak berarti saya 'pernah ke tempat ini atau ke tempat itu.' Bukan itu intinya. Dalam keramaian bersama para peziarah laiannya, tetap ada alam hening sepih. Bunda Maria tentu tahu segala sesuatu yang tersembunyi di sudut hati setiap peziarah. Walau tanpa banyak kata yang terucapkan.

Namun kenyataannya, selalu ada kesempatan bila kita berniat tulus dan lurus. Iya, bila ada kerinduan menuju keharibaan Sang Bunda. Kapan dan di mana saja. Hingga di bagian tersudut rumah kita, jika memang ada 'ruang doa' meskipun keberadaannya.


Saya sendiri tetap mengenang mama saya. Wanita sederhana, yang tergolong 'anggota klasik' kelompok mama-mama Santa Anna, Paroki Kathedral-Ende. Suatu hari kubilang pada mama, “Mama, kalo pigi misa tu, tidak usah ka bawa rosario. Cukup Madah Bakti saja…” Dengan segera mamaku berkata, “Kau tahu apa? Ini yang bikin kau jadi imam,” sambil melihat rosarionya yang tampak kusam.

 
Wah, terkadang segala teori dan konsep liturgi jebolan Roma, tidak pas di hati kebiasaan populer umat yang sudah 'mendagingdarah.' Entah apa yang harus dipertaruhkan?

Akhirnya


Bagaimanapun, aku tetap rindu rosario kusam milik mamaku. Namun, sudah lama ia membawanya pergi ke dalam peti matinya. Tetapi saya yakin di surgapun ia berdoa pada Bunda Surgawi, “Doakanlah kami yang berdosa ini.” Sungguh, di doa ibuku, namaku disebut.... 
 
Selamat berziarah bersama Bunda Maria. Di dalam kebersamaan kita sebagai anak-anaknya yang sungguh dikasihi oleh Yesus, Sang Putra Tunggal Allah. 

Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler