Ramalan Jayabaya: Kenyataan yang Diingkari (3)

Senin, 16 Oktober 2023 15:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ramalan Jayabaya dalam pupuh 119 tentang banyaknya orang buta dan kelaparan. Hidup harus waspada dan ingat akan hidup dan kehidupan.

Pada pupuh 119 dalam Ramalan Jayabaya bagian akhir diketahui bahwa

Akeh barang lumebu luweng

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Akeh wong kaliren lan wuta

Akeh sing duwe wirang merga kepeksa

Wong tuku ngglenik sing dodol

Sing dodol akal-akal

Jika tulisan tersebut diterjemahkan dalam bahasa Indonesia diketahui bahwa

banyak barang masuk lubang/ banyak orang kelaparan dan buta/ banyak yang terkena malu karena terpaksa/ para pembeli membujuk penjual/ para penjual semakin banyak akalnya/ menipu. Saya tidak terlalu paham dengan beberapa istilah. Namun, jika dipahami lebih lanjut, berikut penjelasannya.

Banyak barang masuk lubang. Ini agak menyulitkan kita memahami. Barang yang jumlahnya banyak masuk lubang. Maksudnya apa? Apakah negeri ini memiliki banyak kekayaan dan juga barang berharga lain? Yang jelas dewasa ini, banyak barang beredar di pasaran. Banyak barang berlalu lalang di masyarakat. Namun, barang-barang tersebut akhirnya masuk lubang. Sehingga barang yang seharusnya beredar di masyarakat jumlahnya semakin sedikit dan tidak mencukupi.

Apakah yang dimaksud banyak barang masuk lubang itu kelakuan oknum masyarakat yang menimbun barang-barang sehingga barang menjadi langka? Seperti halnya BBM yang banyak ditimbun sehingga harga menjadi naik berlipat-lipat? Atau mungkin beras dan bahan pangan lain. bahan kebutuhan pokok ditimbun dan tidak dibiarkan beredar di pasaran. Sementara masyarakat sangat membutuhkan. Hal itu mengakibatkan kenaikan harga yang melambung. Seperti halnya kasus minyak goreng beberapa waktu lalu. Apakah itu yang dimaksud dalam ramakan Jayabaya? Apapun itu, menimbun barang yang seharusnya beredar di masyarakat adalah kejahatan. Ini mengakibatkan banyak orang kelaparan.

Banyak orang kelaparan dan buta. Inilah akibat banyaknya barang yang ditimbun dan tidak diedarkan di masyarakat. barang semakin langka. Pupuk misalnya. Seharusnya saat musim tanam tiba, pupuk tersedia dan cukup untuk lahan pertanian di negeri ini. Namun, kenyataannya pupuk justru snagat langka saat dibutuhkan petani. Hal aneh kan?  Itulah negeri ini. Akibatnya banyak orang menderita kelaparan. Bingung menghadapi hidup ini. Masak negeri yang dikatakan gemah ripah loh jinawi, eh beras saja impor dari luar negeri. Jawa yang berasal dari istilah jewawut, yang menghasilkan butiran laiknya padi, eh sekarang malah gak ada padi.

Negeri subur kok gak surplus beras dan bahan pangan. Aneh tapi nyata. Kelaparan terjadi di negeri ini, seperti diberitakan di berbagai media beberapa waktu lalu. Bahkan ada sekeluarga yang meninggal dunia dan diduga kelaparan. Karena kelaparan tersebut menjadikan orang buta. Bukan buta secara harfiah, matanya tidak melihat dunia. Namun, buta hatinya. Tidak melihat kebenaran. Manusia hanya kelaparan akan kekuasaan dengan tidak memikirkan masyarakat. Mereka dibutakan mata hatinya. Ketika hati telah buta mereka akan bertindak semaunya dan yang penting keinginannya tercapai. Suatu zaman yang sangat merusak dan menghacurkan kehidupan dunia.

Banyak yang terkena malu karena terpaksa. Kelaparan akan kekuasaan dan dibutakan hati dari kebenaran menjadikan orang akan terkena rasa malu. Mereka akan melakukan tindakan yang melawan hukum agama dan hukum negara. Mereka akan melakukan tindak kejahatan demi memenuhi tujuan dan ambisi. Namun, pada akhirnya hanya rasa malu yang diperoleh walau dalam keterpaksaan.

Misalnya saja, orang kelaparan akan melakukan tindakan apapun asal bisa memenuhi perutnya dan menghilangkan rasa lapar tersebut. Apapun dikerjakan. Tidak peduli benar menurut aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Akhirnya, karena keterpaksaan tersebut menjadikan mereka malu. Malu karena tertangkap atas kejahatan yang dilakukan. Bahkan mereka yang memiliki hubungan dekat pun kena getahnya. Kena rasa malu walau terpaksa. Ini terjadi karena hidup ibarat perdagangan. Ada proses jual beli.

Para pembeli membujuk penjual. Proses hidup di dunia adalah jual beli. Anda menjual, mereka membeli. Mereka menjual, kalian membeli. Mereka berlaku baik, kita berlaku baik. Mereka berlaku buruk, kita akan menghindar. Namun, kebanyakan dari kita berlaku sesuai keuntungan yang diperoleh.

Dalam perdagangan, untuk memperoleh barang bagus, seorng pembeli tidak sekedar memilih barang. Tapi, mereka akan berusaha membujuk penjual dengan berbagai macam rayuan mautnya. Sama seperti musim pemilu. Pembeli berusaha membujuk pemilik suara.

Di pasar, kita melihat transaksi jual beli. Pembeli merayu penjual agar menjual barangnya dengan murah. Wah, pedagangnya rugi dong? Belum tentu. Sebab para penjual sekarang banyak akalnya.

Para penjual semakin banyak akalnya/ menipu. Penjual jelas tidak mau rugi. Mereka akan berusaha mendapatkan untung yang besar. Semakin pembeli merayu, semakin penjual berlaku akal-akal/ menipu. Misalnya mereka menjual barang. Motif sama. Bentuk sama. Ukuran sama tapi kualitaslah yang berbeda. Ada istilah KW 1, KW 2 dan seterusnya. Penjual menjual barang KW 2 eh dibilangnya KW 1. Ini kan menipu. Akal-akalan saja. Tapi itulah jaman dimana ramalan Jayabaya menjadi kenyataan. Kenyataan terjadi di negeri ini.

Apa yang perlu kita lakukan menghadapi ini? Kita perlu hati-hati. Berlaku menurut aturan agama dan norma yang diyakini kebenarannya. Semoga kita dijaga Allah dari berlaku dusta dan curang. Sebab kebaikan hanya untuk orang yang eling/ ingat dan waspada. Selamat membaca dan ikuti lanjutan ramalan Jayabaya ini di tulisan selanjutnya. Terima kasih.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rusdi Ngarpan

Penulis Indonesiana/ Alumnus UNNES Semarang, berkarya di SMP

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua