x

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 30 Januari 2024 08:34 WIB

Politisi sebagai si Malin Kundang

Ada Malin Kundang yang lompat partai karena tidak dicalegkan lagi, ada Malin Kundang yang bergabung dengan partai lawan karena diiming-imingi ‘naik jabatan’, ada juga Malin Kundang yang melompat ke perahu sekoci karena ia melihat tanda-tanda kapal yang selama ini ia tumpangi hendak karam

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di tengah hawa panas pilpres saat ini, Malin Kundang dibawa-bawa ke ranah politik. Ada politisi yang merasa telah menanam jasa kepada politisi lain dan mengibaratkan politisi yang ia anggap tidak tahu membalas budi itu sebagai si Malin Kundang. Maksudnya, sudah dibesarkan dan disayang-sayang, tiba-tiba saja politisi yang dianggap tak tahu membalas budi ini malah minggat—pergi meninggalkan induk yang membesarkannya.

Bila definisi Malin Kundang di jagat politik seperti itu, berapa banyak jumlah Malin Kundang yang ada di dunia politik saat ini? Susah menghitungnya, dari Malin Kundang kelas ecek-ecek sampai Malin Kundang kelas kakap, semua ada, wow alangkah banyaknya. Ada Malin Kundang yang lompat partai karena tidak dicalegkan lagi, ada Malin Kundang yang bergabung dengan partai lawan karena diiming-imingi ‘naik jabatan’, ada juga Malin Kundang yang melompat ke perahu sekoci karena ia melihat tanda-tanda kapal yang selama ini ia tumpangi hendak karam.

Dalam cerita rakyat yang sangat mashur di Sumatra Barat, Malin Kundang digambarkan sebagai sosok anak yang mendurhakai ibunya. Ketika Mlin pulang ke kampung halamannya, ibunya sangat berharap bertemu dengan anaknya yang sudah bertahun-tahun merantau dan ‘jadi orang’. Sayangnya, Malin yang sudah kaya tak mau kenal dan merasa malu melihat ibunya yang tua serta berpakaian lusuh dan kotor. Karena tidak tahan atas hinaan anaknya, ibu Malin lalu berdoa agar anaknya dihukum. Kutukanpun jatuh pada Malin Kundang, jadilah ia batu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apabila kita menengok kembali cerita rakyat tadi, memang bisa dipahami bila ada politisi yang menempatkan diri sebagai ibu si Malin Kundang. Ia merasa jadi korban pengabaian oleh anak yang sudah ia besarkan. Mungkin ia berharap Malin akan menjaga dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, tapi itu tidak terjadi. Maka, terjadilah ‘drama’ sehingga politisi ini merasa telah dikianati si Malin yang ingin memilih jalannya sendiri. Tapi, bukankah ‘drama’ ini lantas menyerupai ‘playing victim’, menjadikan dirinya seakan-akan korban si Malin? Padahal, mungkin saja ia juga pernah berperan sebagai Malin Kundang.

Apabila pengertian Malin Kundang di jagat politik itu seperti yang digambarkan politisi ini, maka manakah politisi yang bukan Malin Kundang? Apakah Pak Jokowi lantas dapat diibaratkan sebagai Malin Kundang dengan PDIP sebagai ibunya? Apakah beberapa politisi yang meninggalkan partainya di saat-saat menjelang pemungutan suara juga bisa diibaratkan si Malin Kundang?

Tengoklah sejarah yang belum lama berlalu tentang bagaimana politisi yang telah didukung habis-habisan oleh rakyat tapi kalah dalam kompetisi. Alih-alih ia tetap menjaga rakyat sebagai ibunya dan memperjuangkan masa depan ibunya, ia justru bergabung dengan pemenang dan ikut berkuasa. Ia tinggalkan rakyat berjuang sendirian. Bisakah ia diibaratkan sebagai Malin Kundang sejati?

Sosok yang paling tepat sebagai manifestasi ibu tak lain adalah rakyat serta hati nurani. Rakyatlah sang ibu dalam cerita itu, dan Malin Kundang merupakan manifestasi politisi, khususnya politisi yang lupa akar kelahirannya, yang lupa bahwa ia menempati posisi tertentu dalam kekuasaan adalah berkat suara rakyat yang mendukung dirinya.

Nah, musim kampanye ini dapat diibaratkan sebagai masa ketika si Malin Kundang membujuk dan merayu sang ibu agar mau memberikan kasih sayangnya kembali. Malin sangat berharap bisa duduk di kursi kekuasaan dengan kaki dan tangan yang kuat karena memperoleh asupan gizi alami yang luar biasa dari ibunya. Malin, yang semula tak mengacuhkan keadaan ibunya, kini berbaik-baik dan membujuk-rayu agar ibunya yang semula ditinggalkan mau berpihak kembali kepadanya.

Andaikan kemudian si ibu mau mendukung si Malin agar mampu meraih kemenangan dalam kompetisi, akankah ia betul-betul merawat ibunya setelah itu? Ataukah watak aslinya akan muncul kembali, ia akan pongah dan berkata kepada ibu yang telah membesarkan dan mendukungnya dengan mengucapkan perkataan serupa: “Aku tidak mengenalmu, sorry yee….” >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu