Jalan-jalan Ke Batu (Bagian 1) - Travel - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Jalan-jalan Ke Batu (Bagian 1)

    Kota Batu di Jawa Timur tampak serius mewujudkan cap Kota Wisata dengan membangun sektor pariwisata. Ada apa saja di sana?

    Dibaca : 2.975 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Udara sejuk, ladang-ladang sayur beserta hutan cemara, jalan berkelok atau naik turun di punggung gunung dan berkabut, adalah pemandangan khas Kota Batu, Jawa Timur, dan masih minggu lalu ketika saya membawa anak-anak berlibur. Setelah menetap di Aceh, belum sekalipun saya kembali ke Batu yang dulu, jaman saya kecil, sering jadi tujuan wisata kami sekeluarga karena dekat Tulungagung, kampung halaman saya. Sekarang mumpung kembali ke asal, saya ingin juga mengenalkan Batu pada dua putri saya.

    Kalau mengingat-ingat, Batu itu identik wisata pemandian. Sengkaling, Selecta, Songgoriti yang kami kunjungi dulu, adalah pemandian dengan air super dingin bagi saya yang berasal dari dataran rendah. Selebihnya, Batu tempat tepat berburu bibit tanaman, ya sayur, ya buah, terutama bunga-bunga cantik.

    Dari kunjungan beberapa hari lalu, Batu jauh berubah ternyata, dan bagi saya, paling terasa saat melintas di alun-alun kota. Seingat saya, dulu, ikon apel hijau di Batu sekedar monumen penanda simpang jalan, tapi kemarin, bangunan itu ada di alun-alun. Kabarnya, alun-alun itupun baru, diresmikan pertengahan 2011 atau sepuluh tahun setelah Batu ‘lepas’ dari Malang dan ditetapkan menjadi daerah tingkat dua tersendiri. Ini alun-alun termutakhir yang pernah saya temui, bahkan mugkin satu-satunya di Indonesia, dengan ferris wheel. Menumpang kincir raksasa itu, kita bisa saksikan Batu yang menawan dari ketinggian termasuk menandai puncak atau lereng Panderman, Banyak, Anjasmara, Arjuna, Welirang, juga Butak, gunung-gunung yang melingkupi kota.

    Batu terlihat sungguh-sungguh mewujudkan cap Kota Wisata dengan membangun banyak tujuan pelesir. Museum saja, yang sering membosankan di lain kota, lumayan berhasil menjadi tempat menarik menurut penilaian saya dan akhirnya jadi tujuan wisata di Batu. Dua yang saya datangi kemarin, ialah Museum Satwa dan Museum Angkut.

    Museum Satwa ada di dalam kompleks Jawa Timur Park 2 berisi diorama satwa berbagai habitat. Bagi penggemar fotografi, kotak-kotak kaca lebar yang menyuguhkan beragam situasi, bisa jadi latar menarik. Jika mahir mengambil gambar, kita bisa seolah-olah berada di depan kawanan bison di tengah padang pasir, menjadi buruan segerombolan macan tutul, tidak jauh dari seekor beruang yang panik di tengah kebakaran hutan hebat, atau jadi saksi seekor zebra malang dalam lingkaran predator ganas. Ini cara jitu, menurut saya, membawa kita mengenal bermacam satwa. Kuncinya, siapkan kamera.

    Satu kilometer, kurang lebih, dari Jawa Timur Park 2, tempat Museum Angkut. Ini juga tempat berfoto yang bagus, tapi kita akan dikenai tiga puluh ribu rupiah jika terlihat membawa kamera apapun kecuali kamera telepon genggam. Mungkin demi menjaga kebersihan museum, memasuki kawasan ini bawaan kita akan digeledah, dan makanan minuman tidak diizinkan masuk kawasan. Tapi tidak perlu khawatir lapar atau kehausan karena di dalam museum ada kios penjual makanan ringan dan minuman yang sepertinya ditata tepat pada area-area yang tidak akan mengganggu kebersihan koleksi, pun di luar, bersebelahan dengan lahan parkir, ada pasar apung dengan berbagai kuliner Jawa Timuran.

    Salah satu hal mengagumkan dari Museum Angkut, menurut saya, adalah penataan koleksinya yang dibuat beralur. Ada zona-zona dalam Museum Angkut yang kabarnya museum transportasi pertama di Asia Tenggara ini.

    Pada lobi setelah pintu masuk hingga lantai dua kita dikenalkan berbagai moda transportasi secara garis besar. Jika terus, kita ke zona Batavia, jika naik, kita menuju semacam hanggar tempat bermacam koleksi pesawat termasuk helikopter pertama presiden pertama Indonesia, Bung Karno.

    Mereka yang terobsesi dunia penerbangan akan dimanjakan flight simulator. Harus membayar lagi memang, tapi sepertinya sepadan dengan sensasi menjadi co-pilot di sebelah seorang pilot asli, yang akan jadi mentor, dalam badan pesawat yang menurut salah satu petugas museum, 90% asli. Pesawat yang siap ‘diterbangkan’ adalah jenis Airbus Boeing 737-200 dan kabarnya lagi, ini flight simulator pertama di dunia yang benar-benar berada dalam badan pesawat.

    Lurus dari ruang-ruang pertama pengenalan alat transportasi ada zona Batavia diwakili gambaran Stasiun Kota jaman dulu, Pecinan, dan Pelabuhan Sunda Kelapa. Seterusnya adalah zona era perang dengan menara intai dan semak-semak untuk penyamaran, jeep-jeep perang, sepeda motor-sepeda motor tua, ditambah alat transportasi lama produksi Jepang seperti Honda, Yamaha, dan Kawasaki.

    Keluar dari gedung jalan beraspal selebar sepuluh meteran dan sepanjang kira-kira seratus meteran dengan trotoar-trotoar lebar, mungkin dimaksudkan menduplikasi jalan Broadway di Manhattan, New York. Saya menandainya dari sebuah motif pintu di dinding dengan tempat poster pertunjukan di kanan kiri mirip gedung teater Broadway. Sayangnya yang menghias dinding atas adalah poster film Al Capone dan lukisan bintang film era ‘50an, Marylin Monroe yang padahal sama sekali tak terkait Broadway masa itu. Jadi lorong ini mungkin mewakili era ‘50an maksudnya.

    Dari sana berbelok ke kiri sesuai penunjuk jalan, kita sampai di Zona Eropa, lengkap dengan replika taman Istana Buckingham, mobil Mr. Bean, koleksi Volkswagen asli Jerman, miniatur menara-menara ikon Eropa, sampai sebuah dinding berlukis sampul album The Beatles, Abbey Road. Sebelum pintu keluar adalah zona Hollywood memajang alat transportasi yang dipakai dalam film-film. Ada mobil kayu Mr. Flintstones sampai mobil Citroen yang dipakai Roger Moore dalam Film James Bond. Di halaman luas akhir perjalanan, patung raksasa Hulk tengah marah menginjak sebuah mobil sampai ringsek. Tapi karena dalam Museum Angkut, Si Hulk pun dibuat dari onderdil mobil dan sepeda motor bekas.

    (Bersambung)

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.