x

Iklan

Irfantoni Listiyawan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Islam Sontoloyo: Terobosan Pemikiran Keagamaan Soekarno

Selain sosok bapak pendiri bangsa, Soekarno juga memiliki terobosan pemikiran Islam jauh kedepan. Pemikirannya terangkai dalam bukunya "Islam Sontoloyo".

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Siapa yang tak kenal sosok Soekarno, sang founding fathers, pemimpin bangsa sekaligus proklamatorNamun, dibalik itu semua Soekarno memilki pandangan yang sangat luas dan cerdas dalam ranah pemikiran, baik itu pemikiran tentang kenegaraan, filsafat, hingga agama.  Sebagaimana telah disebutkan salah satu tokoh intelektual muda era 1960-an, Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran menggambarkan sosok Soekarno sebagai lanjutan dari raja-raja Jawa yang memiliki tiga aspek gelar di bidang politik, militer, dan agama. Dalam bidang politik, Soekarno mendapat gelar Kawula ing Tanah Jawi, di bidang kemiliteran gelar Soekarno adalah Senapati ing Ngalanga serta gelar agama Syekh Sahidin Ngabdulrachmad.

Sebagai sosok pemimpin yang memiliki gelar Syekh Sahidin Ngabdulrachmad sebagaimana diungkapkan Soe Hok Gie, Soekarno memiliki pandangan keagamaan yang dapat dibilang progresif untuk ukuran pemikiran agama kala itu. Pandangan dan pemikiran pemabaruan agama oleh Soekarno dituangkan dalam buku Islam Sontoloyo. Inilah yang membuat dirinya menghadapi polemik sepanjang 1934-1940 dengan Mohamad Natsir seorang tokoh bangsa yang berhaluan agamis. Polemik tersebut diakui nyaris belum ada tandingannya bobotnya dalam sejarah polemik di Indonesia.

Pemikiran Keagamaan Bangsa Indonesia

Terkait masalah pemikiran, R.G Collingwood sebagaimana dikutip Kuntowijoyo dalam buku Metodologi Sejarah menyebutkan bahwa semua sejarah adalah sejarah pemikiran.  Oleh karenanya, manusia sebagai “daging yang hidup” tidak dapat hidup tanpa pemikiran-pemikiran. Sebagai contoh, seorang yang saleh tidak akan melepaskan kehidupan pribadinya tanpa lepas dari sifat teologis keagamaan yang dianutnya. Pelaku pemikiran juga terbagi atas dua term, yakni pemikiran yang berasal dari seorang individu dengan pandangan tertentu dan pemikiran yang berasal dari kolektivitas individu yang membentuk organisasi dan membuahkan pemikiran dan pandangan tertentu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengacu pada anggapan diatas, dalam ranah pemikiran keagamaan di Indonesia dari segi pelaku pemikiran terdapat beberapa pemikir ulung keagamaan dalam hal ini agama islam mulai dari jaman kerajaan hingga jaman pergerakan. Pada jaman kerajaan dahulu, ada sosok Sunan Kalijaga. Buah pemikiran Sunan Kalijaga diantaranya adalah, bahwa dalam menyebarkan agama tidaklah harus memakai jalan pedang namun juga dapat melalui kebudayaan setempat. Sebagai contoh, Sunan Kalijaga menggunakan media wayang dalam menyebarkan ajaran islam.

Beberapa abad kemudian, di Indonesia mucul sosok HOS Tjokroaminoto, salah seorang tokoh pemikir ulung filsafat dan keagamaan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Islam dan Sosialisme ditulis tahun 1924 yang terinspirasi oleh kesalehan pemimpin islam. Selain itu juga muncul tokoh lain seperti Kyai Hasyim Asyari, Kyai Ahmad Dahlan, Buya Hamka, hingga Natsir. Kontribusi para pemikir keagamaan Islam tersebut memberi dampak bagi perkembangan keagamaan di Indonesia yang kemudian mempengaruhi pula pandangan dan pemikiran keagamaan Soekarno.

Perdebatan Agama sebagai Ideologi Bangsa Indonesia

Dengan keberagaman yang begitu besar, seakan menjadi sulit bagi Indonesia untuk dijadikan satu negara dengan keseragaman. Para tokoh pergerakan bangsa pun  menyadari akan hal ini, Indonesia sulit untuk diseragamkan namun perbedaan tersebut dapat disatukan dengan suatu dasar ideologis Bhineka Tunggal Ika (Berbeda Namun Tetap Satu Jua) yang tekandung dalam Pancasila. Penggunaan Pancasila sebagai dasar negara dalam perkembangannya tidaklah berjalan mulus.  Dalam perumusan ideologi bangsa misalnya, Pancasila mendapat tentangan dari golongan kaum agamis seperti M.Natsir sebagai contohnya. Para tokoh nasionalis Islami  tersebut beranggapan bahwa sebagai negara dengan mayoritas muslim sudah saatnya Indonesia berdiri dalam garis ideologi Islam.

Ketika kita membicarakan perdebatan agama sebagai ideologi bangsa, dapat kita lihat salah satunya dalam buku Ideologi Islam dan Utopia : Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia karya Luthfi Assyaukanie. Dalam bukunya Luthfi Assyaukanie menuliskan sosok Natsir sebagai tokoh yang sangat getol dalam memperjuangkan islam sebagai ideologi negara. Natsir memperkenalkan “Negara Demokrasi Islam” . Walaupun Natsir hanya lulusan Sekolah Menengah Atas Belanda, namun dia memiliki pemikiran brilian secara otodidak. Dirinya mengetuai Masyumi pada 1949-1958 dan menjadi Perdana Menteri Tahun 1950. Masyumi sendiri menjadikan pijakan pemikiran HOS Tjokroaminoto dalam Islam dan Sosialisme menjadi suatu pedoman organisasi. Pemikiran Natsir kemudian mendapatkan tantangan dari kelompok nasionalis lainnya. Para pemikir nasionalis lainnya beranggapan, bahwa walaupun Indonesia memiliki mayoritas penduduk muslim namun Indonesia bukanlah negara Islam. Pendapat Natsir kemudian membuat perdebatan hangat dalam sidang BPUPKI yang menghasilkan Piagam Jakarta.

Perdebatan ideologis agama sebagai ideologi mengalami masa kelam pada masa pemberontakan Darul Islam / Tentara Islam (DI/TI) pimpinan Kartosuwiryo. Pemberontakan tersebut bertujuan untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara. Presiden Soekarno merespon peristiwa tersebut dengan operasi militer. Dari sini kita dapat melihat bahwa terdapat dua jalur bagi pemikir keagamaan Indonesia dalam menjadikan dasar agama Islam sebagai dasar negara. Pertama, menggunakan jalur politik sebagaimana yang dijalankan oleh M.Natsir dan Masyumi. Cara kedua adalah dengan menempuh jalur kekerasan (jalan pedang) sebagaimana dilakukan oleh Kartosuwiryo dengan DI/TI-nya.             

Islam Sontoloyo

Sigmund Freud pernah mengemukakan bahwa rahasia kekuatan agama terletak pada kuatnya keinginan para pemeluk agama itu sendiri. Pendapat tersebut nampak pula pada pemikiran Soekarno dalam memandang Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Namun, bagi Soekarno Islam yang dijalankan di Indonesia kala itu masih dapat dibilang kolot dan tidak mau membuka diri terhadap alternatif pandangan baru. Inilah yang kemudian ia tuangkan dalam buku Islam Sontoloyo karyanya. Buku tersebut berisi sebelas bab pemikiran Soekarno tentang Islam. Diantaranya dia menyoroti keberadaan tabir (pemisah) pria dan wanita dalam suatu pertemuan, hingga masalah transfusi darah yang dianggap haram oleh golongan islam kolot saat itu. Selain itu Soekarno juga menyoroti pemisahan antara urusan agama dan dunia di Turki pada masa Kemal Attaturk.

Bab pertama dari buku Islam Sontoloyo berisi surat-surat Soekarno pada saat dia diasingkan di Ende. Surat tersebut merupakan bentuk kehausan dan kegundahan Soekarno akan pemikiran agama yang kurang terbuka saat itu. Oleh karena itu dia berkirim surat kepada karibnya, A. Hasan salah seorang tokoh organisasi “Persatuan Islam” di Bandung. Dari sosok A. Hasan ini Soekarno kemudian banyak menerima kiriman buku-buku tentang islam dan pemikir-pemikir Islam kontemporer kala itu. Setelah lama Soekarno membaca dan menelaah  buku yang dikirimkan oleh A.Hassan pemikiran pembaruan akan Islam pun mulai terbentuk.

Soekarno berpendapat Islam haruslah berani mengejar zaman dalam sebuah suratnya kepada A. Hassan. Untuk dapat mengejar zaman salah satunya adalah mengalahkan kekolotan itu, jika telah mengalahkan kekolotan pemikiran maka Islam akan dapat mengejar tantangan jaman. Soekarno mengkritik pemikiran kolot yang menganggap segala bentuk kemajuan dan modernitas saat itu seperti radio dan listrik adalah ciptaan orang kafir dan dianggap bidah. Pada surat lainnya, Soekarno kembali menyayangkan sikap para ulama saat itu yang tidak mengakui sains dan menolak produk Barat, sehingga tidak memasukkannya kedalam pengajaran di pesantren dan sekolah Islam. Soekarno lantas menawarkan gagasan “Islam-Science” yakni pengetahuan Al-Quran, Hadist Nabi ditambah pengetahuan umum.

Selanjutnya tentang sikap Soekarno terhadap aliran Ahmadiyah. Disinilah terlihat kecerdasan Soekarno sebagai pemikir ulung dalam menanggapi masalah Ahamdiyah dengan mengurangi pretensi buruk . Soekarno tidak mempercayai Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi sebagaimana orang Ahamdiyah yakini. Namun, disisi lain walaupun Soekarno tidak sependapat dengan Ahamdiyah dirinya berterima kasih kepada Ahmadiyah yang membuatnya mendapatkan pengetahuan baru dari buku karya Mohamad Ali. “Memang umumnya saya mempelajari agama Islam itu tidak dari satu sumber saja, banyak sumber yang saya datangi dan saya minum airnya”, ujar Soekarno dalam hal ini.

Bagian selanjutnya dalam buku Islam Sontoloyo adalah kritik Soekarno terhadap adanya tabir atau pembatas antara pria dan wanita. Menurutnya disinilah terjadi kontradiksi, Islam sejati mengangkat derajat seorang perempuan namun pada sisi lain ortodoksi-lah yang menjadi penghalangnya. Baginya, tabir (pembatas) merupakan bentuk simbol perbudakan. Dan dia menuliskan bahwa Haji Agus Salim pernah merobek tabir tersebut dalam suatu rapat. Tentang pembaruan pemikiran dalam Islam, Soekarno mengutip perkataan Heraclitus...”Panta Rei”.  Menurutnya, Islam sejati, dasar agama tidak berubah, firman Tuhan, sabda nabi dan sunahnya tidak berubah. Namun, pengertian manusia tentang hal inilah yang berubah. Pengoreksian itu selalu ada dan itulah hakekat ijtihad. Pengoreksian tersebut membawa kita kepada kemajuan beragama.

Soekarno juga menyoroti pemsiahan antara agama dan urusan dunia di Turki secara panjang lebar. Intisari dari pemisahan tersebut menurut Soekarno yang ia kutip dari Attaturk adalah “Islam di Turki telah menjadi satu agama konvensional karena diikatkan pada satu negara yang konvensional”. Dari sisi lain, adalah mindset rakyat Turki sendiri yang berfikiran melenceng tentang agama. Baginya, proses penyerahan diri terhadap Tuhan secara berlebihan dengan beribadah tanpa memikirkan hal duniawi adalah hal yang keliru. Dengan demikian perekonomian menjadi terpuruk dan orang menjadi malas bekerja. Pada bulan Ramadhan misalnya, banyak orang Turki saat itu malas bekerja hanya karena alasan berpuasa.

Hal lain yang menjadi sorotan Soekarno saat itu adalah perilaku para pemuka agama yang berbuat sewenang-wenang dengan mengatasnamakan Al-quran dan Hadist serta ilmu Fiqih lainnya yang ditelan mentah-mentah tanpa interpretasi yang luas. Keengganan pemuka agama mempelajari ilmu lain selain agama yang dianggap bidah inilah yang membuat kesesatan. Sebagai contoh, Soekarno menggambarkan bagaimana kehidupan para kyai kala itu yang menikahi muridnya hanya karena urusan duniawi semata. Selain itu, Soekarno mengkritisi para pemuka dan tokoh agama Islam kala itu yang dengan mudahnya melabeli “kafir” sesamanya tidak sependapat. Serta menganggap hal yang modern untuk kemajuan sebagai bidah.

Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf....bahwa banyak di kalangan kita yang Islamnya masih Islam sontoloyo !!

 

Penutup

Hal diatas merupakan salah satu diantara pemikiran Soekarno dalam buku Islam Sontoloyo karyanya. Masih banyak yang tentunya kita dapati pemikiran-pemikiran Soekarno dengan kita menyelaminya lebih dalam lagi. Fenomena keagamaan saat ini, terutama sikap saling unggul antar golongan umat beragama dan diantara umat seagama sendiri sejatinya telah menjadi kegundahan hati Soekarno berpuluh-puluh tahun lalu. Sudah saatnya kita saat ini hendaknya berfikir dan bertindak lebih dewasa dalam menjalankan kehidupan beragama di masyarakat. Islam Sontoloyo memberikan kita gambaran luas tentang bagaimana kita menyikapi agama dan perubahan jaman yang ada agar tidak terjadi pertikaian atas nama agama dan aliran agama. Fakta telah membuktikan bahwa agama juga menjadi faktor penyulut konflik sosial di masyarakat. Oleh karena itu mengutip Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam buku Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, diperlukan upaya untuk mengembalikan agama sebagai rahmat bagi semua umat manusia dengan cara mereduksi bahkan mengeliminasi aktor agama sebagai sumber konflik sosial. Panta Rei, agama itu dinamis dan selalu mengikuti perubahan jaman apabila kita memiliki pengetahuan interpretasi luas dan sikap saling menghormati dalam menjalankan kehidupan beragama baik dengan sesama maupun pemeluk agama lain.

Sumber Referensi :

  • Assyaukannie, Luthfi. 2011. Ideologi Islam dan Utopia : Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia. Jakarta : Freedom Institute
  • Gie, Soe Hok. 2011. Catatan Seorang Demonstran. Jakarta : LP3ES
  • Hamengku Buwono X, Sri Sultan. 2008. Merajut Kembali Keindonesiaan Kita. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta
  • Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah (Edisi Kedua). Yogyakarta : Tiara Wacana.
  • Pals, Daniel. 2012. Seven Theories of Religion. (terjemahan). Yogyakarta : IRCiSoD.
  • Soekarno. 2010. Islam Sontoloyo : Pikiran-pikiran Pembaruan Sekitar Islam. Bandung : Sega Arsy

 

Ikuti tulisan menarik Irfantoni Listiyawan lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler