x

Iklan

Kamaruddin Azis

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jurus Bertahan Kampung Naga

Cerita perjalanan dari desa adat di Tasikmalaya

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejarah terbentuknya komunitas atau kampung tak bisa dipisahkan dari ketersediaan sumber daya: alam, hutan, tanah dan air. Dari ketiganya, para nomad memutuskan menetap, memamah harapan membentuk kampung atau dukuh. Dari alam mereka bersepakat mengikat pola dan aturan pemanfaatannya. Sebagian kampung langgeng, sebagian hilang atau hanya tinggal cerita. Yang bertahan dan terus dijaga hanya ada sebagian seperti di Kampung Naga.

Kampung Naga adalah alasan mengapa pada kunjungan saya di awal bulan Mei ke Tasikmalaya harus menyambangi buah cipta kebudayaan ini. Ingin membaca denyut dan tantangan yang dihadapinya.

***

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kami tiba pukul 11.00 waktu setempat setelah melintasi hamparan sawah menghijau di sisi jalan Tasikmalaya - Garut. Adalah kawan-kawan dari Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Tasikmalaya yang menemani. Butuh sejam dari Kota Tasik untuk sampai ke destinasi pariwisata budaya unggulan Tasikmalaya ini.  Jaraknya sekira 30 kilometer.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Kampung Naga bermula dari masa kewalian Sunan Gunung Jati. Dari seorang abdi Sunan bernama Singaparana yang didapuk menyebarkan agama Islam ke wilayah barat Jawa Barat. Singaparna ini mendapat wangsit dalam mimpinya untuk memilih Kampung Naga sebagai domisili dan pusat dakwahnya. Kampung Naga yang kita kenal saat ini adalah bagian adminstrasi Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Selain itu ada pula versi lain bahwa Kampung Naga terbentuk oleh datangnya suku Badui dari daerah Banten, kedatangannya karena diusir oleh kepala suku Badui Banten yang kemudian singgah di Salawu Desa Neglasari dan mendirikan pemerintahan sendiri bernama Kampung Naga.

Kampung yang diapit sungai, bukit dan hamparan sawah di bawah lembah ini terlihat sebagai spot wisata langka bertameng alam, bermodal daya dukung hutan, sungai dan lahan sawah. Di sini, di Kampung Naga terdapat hutan larangan yang dikeramatkan karena di dalamnya terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di selatan terdapat persawahan, di utara dan timur terdapat Sugai Ciwulan yang menurut warga setempat sumber airnya dari Gunung Cikuray  di Garut.

“Semakin lama tantangannya semakin besar namun kampung ini tetap bertahan. Jumlah penduduk yang bertambah serta kebutuhan makanan yang tambah besar,” kata Abu, pemandu wisata Kampung Naga. Menurutnya hutan, hamparan sawah dan tradisi Kampung Naga dipimpin oleh Kuncen atau pemimpin adat. Terdapat dua macam lembaga yaitu lembaga pemerintah meliputi RT, RK dan Kepala Dusun serta lembaga adat meliputi Kuncen yang bertugas sebagai pemangku adat dan memimpin upacara adat dalam berziarah seperti ke hutan larangan, selain itu terdapat Punduh dan Lebe, yang bertugas mengurusi jenazah dari awal sampai akhir sesuai dengan syariat Islam. Komunikasi warga diikat oleh bahasa Sunda Asli.

Jurus Bertahan

Kampung Naga merupakan akumulasi komitmen mengelola sumber daya alam dengan bijak bestari. Merupakan pelanggengan nilai-nilai luhur kemasyarakatan dan esensi kelembagaan tradisional untuk terus ada, bertahan dan berkembang.

Hal tersebut dapat kita saksikan dari masih langgengnya tradisi menjaga konstruki rumah yang terbuat dari kayu dan tak memberi ruang berdirinya rumah batu. Perabot dalamnya pun tetap bernuansa sederhana dan berbahan lokal. Seperti tungku masak, periuk hingga gentong air.

Rumah-rumah di Kampung Naga adalah rumah kayu beratap serupa ijuk. Rumah-rumah diatur dengan mengikuti arah bujur timur barat menghadap ke selatan. Rumah-rumah terlihat berhadapan alasannya demi menjaga harmoni dan kerukunan warga. Semacam upaya menjaga harmoni antara manusia dan alam, masyarakat setempat menjaga hutan dengan menghormati 2 hutan larangan di sisi timur dan barat kampung.

Ihwal hutan larangan, tempat itu tidak boleh dimasuki oleh seorangpun kecuali pada waktu upacara atau berziarah sebab di sana ada makam keramat. Di dalamnya ada satu bangunan yang dianggap keramat dan disebut Bumi Ageung, lokasi pelaksanaan rutinitas upacara adat. Yang boleh masuk hanya ketua adat (Kuncen).

 “Hutan larangan ini tetap ada dan dijaga warga, ada kepercayaan. Ada contoh yang ditunjukkan orang-orang tua dulu. Kalau nggak diginiin pasti sudah habis,” kata Abu.

Hal lainnya adalah adanya tradisi menjaga pilihan kawin-mawin. Setiap warga yang cukup umur dilarang menikah dengan orang dari daerah lain. Salah satu alasannya adalah perkawinan lintas daerah tersebut akan berpengaruh pada tradisi bawaaan mereka. Misalnya, jika menikah dengan orang kota, maka tabiat orang kota akan mengusik tradisi yang telah berjalan langgeng. Bagi yang tetap menikah dengan orang daerah lain maka dia tak dianjurkan untuk tinggal di Kampung Naga.

“Kuncinya karena warga hormat pada aturan, pada Kuncen,” kata Abu.

Selain ketaatan pada pengelolaan sumberdaya alam seperti hutan yang mewujud dalam relasi budaya, keagamaan dan tradisi itu, terdapat pula modal sosial dalam bentuk lembaga-lembaga sosial atau informal.

Dalam kawasan Kampung Naga yang luasnya sekitar 1,5 hektar ini terdapat 111 bangunan yang terdiri dari 108 rumah dan 3 bangunan ibadah. Ada pula balai pertemuan dan lumbung padi. Rumah warga adalah bilik dari kayu, dinding papan tanpa semen atau pasir.

Konstruksi rumah mukim dan rumah ibadah merefleksikan bentuk homogen, ukuran, alat dan bahan bangunan serupa—kayu, bambu dan atribut hutan. Dengan melihat model bangunan tersebut terasa betul nuansa keselarasan antara manusia dan alam. Apa yang menarik dari kampung ini adalah komitmen warga untuk tetap menjaga alam, menjaga tradisi dan menjauhkan diri dari pengaruh buruk modernitas. Lampu listrik pun tak dibolehkan.  Beberapa rumah terlihat menggunakan jendela kaca namun sebagian lainnya hanya papan.

Jumlah penduduk diperkirakan lebih kurang 300 jiwa yang tersebar di 108 kepala keluarga. Sejak tahun 2005 kawasan Kampung Naga ditetapkan sebagai kawasan pariwisata berdasarkan Perda Nomor 2. Seiring waktu kampung Naga menjadi salah satu lokasi wisata utama di Tasikmalaya.

Sejauh ini mata pencaharian warga adalah petani meski demikian karena lahan sawah kian terbatas, sebagian warga menjadi buruh tani di luar kampung. Selain itu ada yang menjadi membuat kerajinan, beternak serta berdagang. Warga yang membuat kerajinan tangan menjajakan hasil kreasinya di sekitar kampung terutama di di dekat lapangan utama.

Salah satunya bernama Ahmar. Pria beranak dua usia SD ini mengatakan kalau usahanya ini ditekuni untuk menambah pendapatannya sebagai petani. “Sebagian saya beli dari luar, sebagian lainnya bikin sendiri seperti baki,” katanya saat ditemui pada 5 Mei 2016.

Kebutuhan-kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ekonomi warga Kampung Naga dipenuhi dengan berjalan kaki ke luar kampung, menapak tangga menuju pusat-pusat kesehatan masyarakat, sekolah-sekolah dan pusat-pusat perdagangan.

Tepat pukul 13.00 kami sepakat meninggalkan Kampung Naga yang unik dan langka di deru modernitas saat ini. Sebelum benar-benar pulang kami mengaso sejenak lantaran capai menapaki tangga berelevasi ekstrem. Untung saja ada penjaja kelapa muda, hadiah setelah ngos-ngosan di siang terik.

Begitulah, Kampung Naga adalah pilihan mulia dari warga di dalamnya, sekaligus tantangan bagi mereka untuk terus melanggengkannya, tentang pentingnya harmoni antara hutan, tanah dan air. Jurus bertahan mereka adalah memadukan prakarsa mengelola sumberdaya alam dengan bijak bermodal nilai-nilai sosial dan kelembagaan tradisional. Ada tokoh yang dihormati dan tradisi yang terus dijaga.

Mereka, di Kampung Naga terus mencoba mandiri di tengah godaan zaman yang semakin menggiurkan, goda kerlip cahaya kota, visualisasi metropolitan, karena uang atau materialismenya. Godaan-godaan yang terus merangsek, hingga ke relung-relung kehidupan tradisional.

Kampung Naga, sampai kapan bisa bertahan?

 

Ikuti tulisan menarik Kamaruddin Azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu