Diantara Tawaran Menggiurkan dan Perjuangan Perih

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Banyak anak bangsa selain Arcandra yang mempunyai kecerdasan tinggi dan dunia memperhitungkannya, dan tiba di masa ketika tawaran menggiurkan datang

Pilih senang di Negeri orang atau Perih di Negeri sendiri

Tidak sedikit anak bangsa selain Arcandra yang mempunyai kecerdasan tinggi dan dunia memperhitungkannya.  Rata-rata diawali dengan bersekolah ke luar Negeri dengan dana beasiswa karena prestasinya  atau pun bisa juga karena kemampuan finansial keluarga, dan atau bahkan ada yang sampai sekolah sambil bekerja. Apapun itu intinya mereka pergi ke luar Negeri menempuh pendidikan di sana, dan memberikan “surprise” kepada dunia atas kecerdasan bangsa Indonesia.  Gelar Doktor Teknik atau Doktor Filosofi atau sejenisnya mampu diraih dengan nilai yang bahkan bisa melebihi orang-orang luar Negeri lainnya yang  sama-sama mengenyam pendidikan di waktu dan tempat yang sama.  Al-hasil banyak datang tawaran-tawaran menggiurkan bagi anak-anak bangsa tersebut.

Beberapa kawan peneliti dan dosen bercerita, ketika mereka lulus kuliah di luar Negeri, tawaran pekerjaan dengan bayaran dollar ada di depan mata.  Apabila dibandingkan dengan apa yang mereka bisa dapat di Indonesia nilainya bisa berkali-kali bahkan puluhan kali lipat lebih.  Sebagai contoh seorang peneliti yang berasal dari suatu lembaga riset Nasional kita yang berpenghasilan sekitar 7 juta per bulan, ada yang ditawari menjadi Research Associate di lembaga penelitian Eropa sana dengan gaji per bulan 75 hingga 100 juta rupiah bahkan lebih. Contoh lainnya dosen yang berpenghasilan 5 juta rupiah per-bulan ditawari menjadi expert engineer di perusahaan manufaktur di Amerika sana dengan gaji 50 hingga 100 juta per bulan bahkan lebih. Contoh lain yang paling dekat, Malaysia menawarkan gaji sekitar 25 juta rupiah per bulan bagi dosen muda, yang apabila di Indonesia rata-ratanya untuk dosen muda gajinya paling tinggi hanya 4-5 juta rupiah saja.  Sungguh merupakan tawaran menggiurkan.

Apakah kita mau hidup senang di Negeri orang, atau kita memilih hidup perih di Negeri sendiri sambil berjuang memberi arti pada Negara, itu adalah masalah pilihan.  Akan susah bagi kita untuk menilai derajat Nasionalisme dari sudut pandang dua pilihan ini.  Bisa jadi ketika seseorang menerima pekerjaan di luar Negeri sebagai jembatan saja untuk kelak dia berkontribusi maksimal bagi Negaranya.  Mungkin difikiran dia bahwa sekarang Negara seolah tidak membutuhkannya, maka dia memilih berkarya di luar Negeri, dan ketika mampu berprestasi di luar sana, maka namanya akan menjadi dikenal, sehingga Pemerintah memberi perhatian, dan suatu saat akan meminta pulang ke Tanah Air untuk disuruh mengabdikan kemampuannya tersebut.  Di sisi lain, ada yang menolak untuk hidup enak di luar Negeri namun dia berani untuk hidup prihatin dengan segala permasalahan yang ada di bangsa ini, dan ikut berjuang untuk memberi arti pada Bangsa dan Negara tercinta.  Tidak sedikit seorang cerdas yang pulang ke Tanah Air setelah menyelesaikan gelar doktornya, kemudian menolak tawaran menggiurkan, malah yang ia pilih yaitu memulai semuanya dari nol, dengan gaji seadanya, tekun menjadi peneliti dan atau pengajar, dan akhirnya lambat laun bisa menjadi profesor yang memberi manfaat yang sangat banyak kepada masyarakat dan Negara, dan karyanya tidak kalah oleh bangsa lain.

Sebagian mungkin saja memberi apresiasi yang lebih tinggi bagi yang berani berjuang dengan perih di Negeri sendiri dibanding yang hidup enak di luar Negeri sambil menunggu panggilan Negara.  Namun sebenarnya letak permasalahannya bukan disitu.  Kehadiran Negara bagi orang-orang cerdas tersebut masih dirasakan antara ada dan tiada.  Itu cerita umum yang tidak bisa dipungkiri, dan itu adalah letak permasalahan yang sesungguhnya.  Kasus Arcandra merupakan salah satu bukti nyata terang benderang bagaimana inti masalah yang terjadi di Negara kita terkait keberadaan orang-orang cerdas ini.  Mengapa tidak sedari dahulu Pemerintah sadar akan kemampuannya, kecerdasannya, bukannya nunggu sampai Negeri Paman Sam memberikan tawaran kenegaraan baginya.  Ini bukan satu-satunya kasus, masih banyak kasus-kasus yang lainnya.  Salah satu kasus yang pernah terjadi ada seorang cerdas yang tidak diterima ketika melamar jadi Dosen di Tanah Air, dan akhirnya dia menjadi Dosen di Jepang sana, meraih gelar profesor dengan paten-paten yang mendunia.

Sekali lagi Negara kehadirannya dirasakan antara ada dan tiada.  Bisa jadi perang politiklah yang lebih diurusin,  perang kekuasaanlah yang mengisi hari-hari. Buktinya bukan kecerdasan Arcandra yang dilihat, bukan kemampuannya dalam turut serta membangun Negara yang dilihat, namun passport-nya lah yang malah dipelototin dan dipermasalahkan.  Seolah menjadi senjata empuk, maka pihak-pihak yang ingin melanggengkan kekuasaan, atau ingin kekuasaan baru, atau keinginan kekuasaan lainnya dengan serta merta menyerang dan menghakimi Arcandra.  Apesnya, mereka benar secara hukum untuk kasus ini.  Bisa jadi ini memberikan trauma tersendiri bagi orang-orang cerdas anak-anak bangsa kita. Apakah kita tidak takut ditinggalkan orang-orang cerdas?  Harusnya takut, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang cerdas!  Kita hanya dapat berdoa saja semoga orang-orang cerdas tetap sabar dan tetap mau mengabdikan hidupnya demi Negara.  Sungguh ironi ketika banyak Negara memperebutkan anak-anak bangsa Indonesia, namun di kita-nya sendiri malah ribut tidak karuan.  Sungguh memprihatinkan!

Heri Andreas, Pengajar dan Peneliti Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

Institut Teknologi Bandung

Bagikan Artikel Ini
img-content
Heri Andreas

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua