Teknologi Gergaji Situs Kendenglembu dari Cina

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Prasejarah

Sejak awal keberadaan data kepurbakalaan dalam penelitian Arkeologi memegang peranan penting. Sebab, berdasarkan data itulah seorang arkeolog dapat melakukan analisis dan intepretasi terhadap proses budaya manusia masa lampau. Begitu pula hubungan antara manusia dengan alam merupakan hubungan yang sangat erat dan saling berakibat sejak awal kemunculan manusia. Kehidupan manusia prasejarah di Ujung Timur Pulau Jawa (UTPJ) khususnya masa neolitikum dapat diketahui pertama kali melalui keberadaan Situs Kendenglembu.

Situs yang terletak di Banyuwangi Selatan itu pernah diteliti oleh sejumlah arkeolog senior, seperti R.P. Soejono dan Goenadi Nitihaminoto. Data arkeologi dari Situs Kendenglembu mengindikasikan adanya pembagian tata ruang pada masa neolitik yaitu perkampungan, bengkel kerja, dan penambangan. Selain itu, hasil dari metode komparasi ternyata memiliki banyak kesamaan dengan lapisan budaya neolitik Situs Kalumpang di Sulawesi Barat (3.500 SM). Dulu masyarakat prasejarah penghuni situs pemukiman ini lazim disebut manusia Austronesia; suatu komunitas yang berbudaya Austronesia dan menuturkan bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan secara mayoritas di kawasan Asia Tenggara Kepulauan, Micronesia, Melanesia Kepulauan, dan Polynesia.

Mereka mendarat pertama kali di kawasan pesisir utara Pulau Jawa dan Pulau Madura. Dari kawasan tersebut mereka tidak dapat langsung menjangkau Kendenglembu, karena barier alam yang sangat berat berupa busur vulkanik (Gunung Raung). Nenek moyang orang Jawa itu mengkoloni kawasan Cekungan Kendenglembu dari pesisir selatan Samudera Hindia melalui sepanjang aliran Sungai Kali Baru.

Hasil Budaya Neolitik Kendenglembu

Saat masyarakat Austronesia datang di Kepulauan Indonesia, kawasan ini bukanlah suatu daerah kosong yang tidak berpenghuni.  Pada beberapa pulau telah dihuni oleh komunitas pre-Austronesia yang telah eksis sejak masa sebelumnya. Awalnya, mungkin masyarakat neolitik Austronesia tidak mudah menembus Koridor Kepulauan Indonesia, sebagaimana telah dicontohkan di bagian sebelumnya.

Setelah adanya interaksi antara komunitas pre-Austronesia dengan masyarakat Austronesia, maka terjadilah proses integrasi budaya di antara keduanya. Hasil budaya masyarakat Austronesia yang ada di Indonesia contohnya adalah teknologi alat kerang, budidaya tanaman, domestikasi hewan, dan pelayaran antar pulau.

Sementara itu, hasil budaya neolitik yang dihasilkan oleh masyarakat Austronesia yang ditemukan di Situs Kendenglembu sangat beragam. Pada situs tersebut juga terindikasi adanya sebuah tempat yang difungsikan sebagai bengkel alat batu, sebab ditemukan artefak berupa batu inti (bahan baku untuk membuat alat batu) dan  tatal (limbah artefak batu yang dihasilkan pada saat proses penyerpihan, dalam pembuatan bentuk dasar beliung).

Alat-alat batu yang ada di Situs Kendenglembu dan sekitarnya sangat lengkap mulai alat pembuat sampai hasil produsinya. Demikian pula dengan tipe alat batu (beliung) yang ditemukan di areal tersebut. Sofwan Noerwidi mengatakan, di kompleks situs-situs perbengkelan neolitik di Banyuwangi Selatan setidaknya ditemukan empat tipe beliung batu, yaitu beliung persegi, belincung, kapak tembeling, dan pahat.

Keunikan lainnya adalah teknologi yang digunakan untuk membuat beliung yaitu teknik gergaji. Selain di Indonesia, teknik ini juga ditemukan di Kulai Kua, Bien Hoa (Vietnam), Ile Cave serta Palawan (Filipina). Pada umumnya teknik ini digunakan dalam pembuatan beliung bahu dan beliung tangga yang memiliki bentuk berundak pada bagian proximal. Budaya beliung persegi bersama dengan teknologi gergaji yang digunakan di situs perbengkelan Banyuwangi Selatan berasal dari Cina Selatan. Kemudian pahat sangat populer di Asia Tenggara Daratan tempat asal usul beliung bahu. Sedangkan belincung dan kapak tembeling diperkirakan berasal dari Indonesia bagian barat khususnya Sumatera dan Semenanjung Malaysia.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Kendenglembu dan Situs Pemukiman neolitik Banyuwangi Selatan lainnya layak ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya, sebab memiliki posisi yang sangat penting dalam peta prasejarah di Asia Tenggara dan membuktikan keterkaitan di antara mereka secara kultural.

Problema Identitas

Keberadaan Situs Kendenglembu  agaknya menjadi jawaban dari sebuah kegamangan masyarakat Banyuwangi. Sudah lama sejarawan, budayawan, hingga masyarakat awam risau bahwa sejarah UTPJ sampai sekarang belum tercatat dalam buku sejarah Indonesia. Benarkah? Tidak, sebenarnya sejarah dari UTPJ tersebut sudah lama dibahas dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) maupun Sejarah Kebudayaan Indonesia (SKI). Tidak hanya nasional Kendenglembu juga banyak dibahas oleh peneliti internasional seperti Peter bellwood dan dimasukkan dalam jurnal ilmiah internasional, contohnya Bulletin on the Indo-Pacific Prehistory Assocation, Volume 29.

Memang senyampang pengamatan saya, mereka ingin mengangkat sejarah UTJP dari sisi heroismenya saja. Fakta ini terbaca ketika tahun 2008 sejumlah budayawan Banyuwangi mengusulkan Wong Agung Wilis Rempeg Jagapati menjadi pahlawan nasional (https://nasional.tempo.co). Begitu pula dengan penetapan tanggal hari jadi Banyuwangi didasarkan pada peristiwa heroisme Puputan Bayu.

Pola pikir semacam itu  memberi efek yang kurang bagus dan menimbulkan problema identitas. Sebab, perekontruksian sejarah dan identitas daerah mengesampingkan data arkeologi. Akhirnya seperti yang sudah diketahui oleh masyarakat, legenda Sri Tanjung lebih terkenal daripada Kendenglembu dan Blambangan, Minak Jinggo lebih familiar dibanding Bhre Wirabh?mi, dan Perang Puputan Bayu lebih heroik ketimbang Perang Parêgrêg.

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Jingga Kelana

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua