x

Iklan

Hijrah Ahmad

Editor Penerbit Erlangga
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Koantas Bima T510 Riwayatmu Kini

Soal perubahan-perubahan dalam transportasi umum

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dekil, kumal, agak bau, tapi dinanti, diminati, didambakan, bahkan dikejar-kejar. Koantas Bima T510 adalah primadona pada masanya.

Siapa pun yang pernah hidup atau sekadar singgah ke wilayah Ciputat Tangerang Selatan tak bisa memungkiri bahwa bis Koantas Bima T510 tidak pernah sepi dari penumpang. Bis trayek jurusan Kampung Rambutan-Ciputat ini benar-benar idola paling sejak era 90 an.

Mudah-mudahan tidak berlebihan jika dikatakan kalau siapa pun juga tahu bahwa tidak ada harapan sedikit pun untuk mendapatkan kursi di dalam bis itu jika menaikinya dari depan kampus UIN misalnya. Sama halnya juga bahwa tidak akan ada harapan mendapat kursi jika penumpang menaikinya di Pasar Rebo. Uniknya, bagi penumpang yang ingin mengarah ke Ciputat, jika mereka benar-benar ingin duduk, penumpang tersebut harus menaiki bis yang mengarah ke Kampung Rambutan terlebih dahulu, ikut masuk terminal, menunggu penumpang asal Ciputat turun di Kampung Rambutan, Nah, barulah orang itu mendapat duduk, itu pun harus berebut karena di terminal Kampung Rambutan, puluhan laskar T510 yang militan pun sudah menunggu bis ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ketika masa kuliah, tahun 2002, hampir setiap harinya saya langganan mengisi saf paling belakang alias berdiri di pintu dan hanya berpegangan satu tangan. Berdiri di pintu bis (waktu itu) memang (seperti) terlihat gagah. Ditambah memakai stelan ala-ala demontran. Jeans lengkap dengan robek-robek grunge di dengkul, rambut gondrong, kaos Che Guevara, tas selempang rumbai-rumbai, sandal jepit, sungguh setelan yang ngehits banget.

Tapi kondisi boleh menjuntai-juntai ala demonstran di pintu itu hanya terjadi kalau bis yang kita naiki tidak taat peraturan. Beda ceritanya kalau kita naik bis yang taat peraturan, justru itu sengsaranya minta ampun. Jadi, sebelum masuk tol, penumpang dipaksa berhimpitan ke dalam agar pintu bisa ditutup rapat. Persis pakaian kotor yang dipadatkan ke dalam mesin cuci bukaan depan. Sang kondektur menutup pintu depan dan belakang dari luar bis. Setelah dipastikan aman, si kondektur lalu masuk ke dalam bis lewat pintu supir. Ajib.

Begitulah, T510 selalu punya cerita dan juga tak kalah pentingnya, selalu punya kondektur yang multitalenta! Selain mampu menyulap manusia menjadi pakaian kotor, para kondektur ini sepertinya punya kemampuan lain seperti menghafal dalam waktu singkat, paham akuntansi, sekaligus auditor andal. Jadi, meskipun kondektur itu mati-matian berjuang menyelami lautan punggung manusia, namun jangan berharap si kondektur terlewat menagih ongkos kita. Saya pastikan itu jarang terjadi.

Itulah T510. Mereka benar-benar menikmati perannya sebagai idola. Hampir tak pernah saya melihat T510 disewa untuk mengangkut para demonstran. Mungkin bagi T510, job itu lebih pantas diambil oleh T509 atau T102 jurusan Tanah Abang- Ciputat yang cenderung sepi penumpang.

Namun, kisah-kisah itu tinggallah sejarah. Mobil bertubuh kuning yang belakangan baru saya tahu kalau itu kepanjangan dari Koperasi Angkutan Lintas Bis Madya itu kini sepi dan dingin karena tergerus transportasi baru, murah, aman, dan nyaman bernama Transjakarta. Sejak raksasa biru nan manis ini mulai berekspansi ke trayek Kampung Rambutan-Ciputat awal tahun lalu, T510 mulai ditinggalkan. T510 Terkapar terseok-seok di trayek sakral tempat mereka pernah membangun dinasti kerajaannya sejak lama.

Tempo hari, saya memutuskan naik T510 lantaran saya ketinggalan jadwal transjakarta pukul 06:30.Pilihan ini jelas harus saya ambil karena saya tidak mau menunggu 30 menit untuk mendapatkan bis Transjakarta selanjutnya. Ada rasa haru sedikit mengingat sudah lama sekali saya tidak menginjak bis idola anak kampus ini. Saya penumpang ketiga yang naik. Satu per satu penumpang pun mulai bertambah sambil menyusur kemacetan. Jumlah penumpang tak juga bertambah saat badan bis singgah di Pasar Jumat. Selintas saya melihat murung muka pak supir. Sepi! mungkin itu teriaknya.

Saya sendiri merasa sedih, jelas kondisi ini sangat jauh berbeda. Benar-benar sepi bis ini. Ongkos T510 saat ini dibandrol 5000 rupiah, lebih mahal 1.500 dibandingkan Transjakarta. Boleh jadi T510 semakin ditinggalkan. Ditambah lagi Transjakarta berencana meluncurkan kendaraan baru bernama ‘Transmini’ untuk menggantikan bis-bis yang sudah lama dan using. Otomatis Koantas Bima, Metro Mini, Kopaja, dan sejenisnya akan ditiadakan.

Bis yang mengantar saya kini tiba di Pasar Rebo. Beberapa penumpang turun. Tinggal beberapa saja yang bertahan, itu pun sudah ambil ancang-ancang untuk turun. Benar-benar sepi ini bis. Rasanya imbauan ‘awas copet’ yang ada di bagian dalam depan bis ini juga sudah tidak terlalu relevan lagi karena nyatanya T510 kini sepi. Para pencopet tentu berpikir  tujuh kali untuk beroperasi di bis yang sepi.

Dulu, dosen Bahasa Belanda saya pernah bercerita waktu ia kuliah di sana. “Kalau di Belanda, Bus tidak akan menunggumu jika kamu terlambat. Enggak kayak di Indonesia. Saya ragu kita bisa seperti Belanda. Entah kapan kita akan kayak mereka?” Keraguan Pak Dosen waktu itu tentu wajar adanya karena memang waktu itu wujud transportasi kita hampir tidak ada harapan. Ternyata waktu membuktikan lain. Revitalisasi angkutan umum sudah bukan wacana lagi. Semua sudah terjadi.

Di satu sisi tentu perubahan transportasi kita sangat membanggakan. Banyak hal positif yang tidak perlu disampaikan di sini. Namun, di sisi lain ada keharuan yang saya rasakan ketika sebuah bis dengan trayek terfavorit tiba-tiba begitu saja berakhir dengan kesepian. Terima kasih T510. Terima kasih kenangannya. Begitulah perubahan, selalu mengharukan.

Ikuti tulisan menarik Hijrah Ahmad lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler