x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 30 Juli 2019 13:49 WIB

Gibran for Walkot Solo

Bagaimana kans anak-anak elite politik untuk menjadi pejabat publik? Dibandingkan calon-calon berlatar artis dan sebagainya, anak-anak elite politik punya keuntungan [advantage] tersendiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Nama Gibran Rakabuming, putra pertama Presiden Joko Widodo, jadi buah bibir. Kali ini bukan terkait bisnis kulinernya yang kian melambung, melainkan dalam hubungannya dengan soal politik. Menyusul survei oleh tim Universitas Slamet Riyadi [Unisri] Solo, yang menyebutkan bahwa Gibran termasuk figur populer di tengah masyarakat Solo, muncullah dukungan kepada Gibran untuk mencalonkan diri sebagai walikota Solo.

Beberapa partai politik tampak begitu antusias menyatakan dukungan. PPP, misalnya, menyatakan tertarik untuk mendukung Gibran bila memang ingin maju ke medan kompetisi pemilihan walikota Solo tahun 2020. Begitu pula PKB, yang memuji Gibran sebagai sosok muda yang kaya ide. Seolah tak mau tertinggal, NasDem juga melontarkan pujian bahwa Gibran cerdas dan santun. Golkar pun senada: jika Gibran dan Kaesang memiliki potensi popularitas dan elektabilitas, Golkar akan mempertimbangkan mengusung salah satunya. Sedangkan PDI-P membuka pintu lebar bila Gibran hendak ikut pilkada Solo.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Gibran, dan adiknya, Kaesang, memang populer, sering muncul di media televisi dan aktif di media sosial. Follower-nya banyak. Popularitas menjadi faktor penting yang berbobot tinggi di mata elite partai, karena itu nama-nama populer selalu dilirik oleh elite sekalipun mereka bukan kader partai. Potensi elektabilitas yang tinggi semakin menambah ketertarikan elite partai untuk mengusung nama-nama populer.

Dalam hal Gibran, elite partai pasti mempertimbangkan faktor tambahan yang tidak dipunyai nama-nama lain yang selama ini muncul sebagai calon potensial walikota Solo. Bahwa Gibran merupakan anak Presiden jelas menjadi faktor yang sangat menguntungkan, terlebih lagi bila ia berkompetisi di Solo—kota yang ayahnya pernah menjadi walikota. Tak heran bila ada politikus yang berucap, “Rakyat Solo rindu Jokowi.” Karena Jokowi tidak mungkin ‘turun pangkat’ dan kembali memimpin Solo, Gibran menjadi penggantinya untuk mengobati kerinduan wong Solo.

Bagi sebagian orang, politik memang menawarkan daya tarik dan pesona tersendiri. Seseorang yang merasa sudah sukses dalam bisnis biasanya tertarik untuk menjajal kemampuannya di politik. Ada yang terdorong oleh alasan patriotik seperti ingin mengabdi kepada masyarakat, ada pula yang dilandasi oleh alasan-alasan lain. Menjajal kemampuan di bidang pemerintahan merupakan tantangan tersendiri.

Gibran sendiri, seperti dikutip media, pernah mengatakan ketertarikannya kepada politik. Jika memang benar akan terjun ke medan pemilihan walikota Solo tahun depan, Gibran akan menambah barisan anak elite politik yang mengikuti jejak orangtuanya. Kita bisa sebut beberapa nama, seperti Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, Prananda Paloh, dan Hanafi Rais. Di tingkat lokalpun, provinsi dan kabupaten/kota, pola serupa telah berjalan. Anak walikota mencalonkan jadi walikota, anak bupati mencalonkan jadi bupati.

Tiap-tiap warga negara memiliki hak berpolitik, termasuk maju ke gelanggang pemilihan walikota. Bekal yang kerap diandalkan oleh partai politik untuk mengusung seseorang yang berminat berkompetisi biasanya popularitas dan elektabilitas. Latar belakang seseorang ini tak harus politikus atau orang yang pernah terjun ke dunia politik, tapi boleh saja ia artis film, olahragawan, musisi, pengusaha, dokter, pengacara, apa saja yang penting punya dua bekal tadi. Jika seseorang ini kaya, partai semakin berminat karena kebutuhan untuk promosi pencalonannya tak perlu merogoh laci partai. Bagaimana dengan integritas, kapabilitas, dan kompetensi? Pertimbangan mengenai tiga hal penting ini seringkali dikalahkan oleh pertimbangan popularitas dan [potensi] elektabilitas. Tak heran jika banyak kepala daerah kedodoran dalam mengelola pemerintahan di wilayahnya.

Bagaimana kans anak-anak elite politik? Dibandingkan calon-calon berlatar artis dan sebagainya itu, anak-anak elite politik punya keuntungan [advantage] tersendiri. Jejaring politik yang dipunyai orangtuanya dapat dengan mudah digerakkan, sehingga ia tidak akan menemui kesukaran yang berarti untuk menjalin relasi dengan elite politik di daerah. Namanya juga akan lebih cepat dikenal oleh massa pendukung partai pengusung. Siapakah yang tak mengenal Puan, AHY, Hanafi, dan selanjutnya Gibran?

Apakah anak-anak elite ini mendapatkan perlakuan istimewa dari organisasi dan pengurus partai? Walaupun mungkin saja pengurus partai mengatakan bahwa anak-anak elite partai ini harus mengikuti proses sebagaimana calon-calon lain yang berminat, dalam kenyataannya praktik prioritas akan tetap dijalankan. Lihatlah bagaimana respons elite partai ketika Jokowi melontarkan keinginannya untuk merekrut menteri dari generasi milenial. Nama-nama yang dimunculkan oleh partai adalah nama anak elite partai.

Dengan dua bekal tambahan itu, selain popularitas dan elektabilitas berbasis survei yang sudah didapat, jalan bagi pencalonan anak-anak elite politik akan lebih terbuka. Dan karena itu, peluang mereka untuk terpilih juga semakin lapang. Mengingat begitu berminatnya partai-partai koalisi pendukung Jokowi, Gibran akan jauh lebih mudah memperoleh dukungan dari partai-partai itu. Jika maju dan terpilih, Gibran akan mengulangi sejarah ayahnya menjadi walikota Solo. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler