x

Iklan

Eko S. Nurcahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 Juli 2019

Senin, 5 Agustus 2019 19:18 WIB

Jadilah Mubalig yang Selalu Dirindukan Jama’ah!

Para mubalig seiring perkembangan zaman akan hadir sesuai citra yang diinginkan publiknya. Mereka bisa hadir dengan penampilan kyai kampung, kyai panggung hingga selebriti dakwah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Peran mubalig atau penceramah tidak pernah pudar dalam kehidupan masyarakat. Banyak momen pribadi dan sosial yang menjadi kurang lengkap tanpa kehadiran mubalig. Sebutlah setiap peringatan hari besar islam (PHBI) di kampung-kampung, panitia merasa wajib mengalokasikan waktu untuk tausiyah para mubalig. Demikian pula halnya untuk acara-acara hajatan keluarga seperti resepsi pernikahan, khitanan, selamatan kelahiran, tasyakuran dan lain-lain.

Hal ini sejalan dengan perkembangan masyarakat akan perlunya memberikan makna lebih untuk memenuhi selera rasional dalam menjalankan tradisi turun-temurun tersebut. Tidak salah memang, walaupun sebenarnya pada setiap prosesi ritual tradisi itu sendiri sudah berdimensi spiritual dan memuat pesan moral.

Kebutuhan akan jasa para mubalig perlu direspon dengan peningkatan kualitas materi sebagai pesan tambahan dalam mengiringi acara-acara yang biasa dilaksanakan warga masyarakat. Ketrampilan public speaking juga wajib diasah untuk memenuhi standar selera masyarakat modern.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Empat hal penting yang diperlukan seorang mubalig agar disebut memenuhi standar naik mimbar yaitu:

  1. Memiliki cukup referensi keagamaan yang lengkap dan bersanad.

Rujukan yang komplit memberika keleluasaan penceramah untuk memeberikan variasi materi sesuai tema acara. Dengan begitu bahan bicara untuk publik tidak menjemukan dan validitas isinya dapat dipertanggungjawabkan.

 

  1. Menguasai 12 macam tema narasi

Sedikitnya seorang mubalig mengantongi dua belas macam narasi masing-masing dengan dukungan beberapa referensi yang memadai. Kedua belas narasi tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan dua belas macam acara yaitu: halal bi halal, maulud Nabi Muhammad SAW, tahun baru hijriyah, hari raya idul adha, resepsi penikahan (walimatul ursy), khitanan, hajat naik haji (walimatu syafar), khaul para wali, isra mikraj, nuzulul qur’an, akhirus sanah dan ceramah kedinasan.

 

  1. Memberikan ice breaking

Memberikan daya tarik kepada pendengar merupakan suplemen penting suksesnya bertablig. Mubalig perlu memiliki banyak koleksi joke yang berbeda untuk masing-masing momen agar ceramah tidak kaku. Bahkan perlu sekali diciptakan lelucon yang tidak sama untuk tiap lokasi meskipun satu tema acara yang sama.

 4. Bangunlah keterlibatan pendengar

Kesuksesan bicara di depan umum juga diukur dari tingkat keterlibatan penuh minat para jamaah. Karena itu menguraikan tema dengan mengaitkan persoalan yang sedang mereka alami akan menggugah antusiasmenya. Sudut pandang baru yang didapat akan menyenengkan hati mereka.

Selain itu sering-seringlah menyapa mereka sebagai bentuk panggilan kepedulian. Sesekali ajaklah para pendengar melantunkan potongan syair atau sholawt yang umumnya sudah mereka kenal.

Dengan penguasaan empat hal tersebut komunitas para mubalig akan dimudahkan dalam menjalankan tugas dan fungsi sosialnya. Sebagai agen pencerahan sekaligus pemberi penghiburan sehingga para penceramah agama selayaknya menjadi sosok yang selalu dinantikan dan dirindukan kehadirannya.***

Ikuti tulisan menarik Eko S. Nurcahyadi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu