Polemik Ekspor Benih Lobster: Diserang Susi, Inikah Tanda Menteri Edhy Kehabisan Dalih? - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Polemik ekspor benih lobster

Dian Novitasari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 15 Oktober 2019

Selasa, 17 Desember 2019 05:32 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Polemik Ekspor Benih Lobster: Diserang Susi, Inikah Tanda Menteri Edhy Kehabisan Dalih?

    Hampir setiap hari, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melancarkan serangan terhadap rencana kebijakan untuk membuka lagi ekspor benih lobster ke Vietnam. Bagi Susi rencana ini bisa menyebabkan persediaan lobster di laut kita habis alias punah.

    Dibaca : 7.376 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hampir setiap hari, mantan Menteri  Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melancarkan serangan terhadap  rencana kebijakan untuk membuka lagi ekspor benih lobster ke Vietnam. Bagi  Susi rencana ini bisa menyebabkan persediaan lobster di laut kita habis alias punah. 

    Melalui akun Twitternya @susipudjiastuti, misalnya,  Susi  mengatakan lobster belum bisa di-breeding in house atau budidaya ternak. Semua bibit lobster saat ini, kata dia, berasal dari alam.  "Negara lain yang punya bibit tidak mau jual bibitnya. Kecuali kita, karena bodoh," kata Susi di Twitter, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.

    Menurutnya, budidaya lobster di Vietnam hanya membesarkan, tidak ternak secara langsung. "Dan hanya dari Indonesia mereka bisa dapat (bibit), lewat singapura atau yang langsung," ujarnya. Ketika masih menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi tegas melarang ekspor benih lobster sejak akhir 2016.

    Susi mengatakan lobster yang bernilai ekonomi tinggi tidak boleh punah hanya karena ketamakan menjual bibit. Bahkan, kata dia, ada yang menjual bibit dengan harga tidak sampai satu per seratus dari harga pasaran di luar negeri. "Astagfirullah, karunia Tuhan tidak boleh kita kufur akan nikmat dari-Nya," kata dia.

    Menurut dia, satu ekor bibit lobster mutiara dijual seharga Rp 100 ribu sampai maksimal Rp 200 ribu. Kalau sudah besar satu ekor misalnya jadi 800 gram dikalikan harganya Rp 5 juta per kilogram, maka yang satu ekor tadi jadi Rp 4 juta. Dengan begitu ada nilai keuntungan kali lipatnya.

    Reaksi Menteri Edhy
    Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo tak mempersoalkan adanya kritik dari Susi Pudjiastuti, terkait wacana membuka keran ekspor benih lobster. "Oh, itu hak bicara. Jadi biar saja," kata Edhy di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 16 Desember 2019.

    Ia juga mengatakan kementeriannya tengah mengkaji agar di masa depan lobster tidak habis karena kerap ditangkapi masyarakat. Caranya adalah dengan membesarkannya di dalam negeri dan memberikan persyaratan agar lobster itu sebagian dikembalikan lagi ke alam.

    "Kenapa tidak ada upaya agar mengembalikan kembali lobster yang dia besarkan, enggak usah yang besar banget, yang dewasa untuk dilepas di alam. Misalnya 2,5 atau dua persen," ujar Edhy di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Senin, 16 Desember 2019.

    Dengan dua persen saja lobster itu dikembalikan ke alam, Edhy meyakini populasi lobster besar di alam akan meningkat dari kebiasaan umumnya di alam. Berdasarkan penelitian, ia mengatakan kalau benih lobster dibiarkan secara natural di alam, hanya 1 persen yang bisa tumbuh menjadi lobster dewasa. "Dengan cara restocking anda kembalikan 2,5 bahkan 5 persen ke alam. Ini dikaji."

    Edhy memang berharap Indonesia nantinya bisa membesarkan lobster sendiri di Tanah Air. Pasalnya, Indonesia adalah penghasil benih lobster terbanyak di dunia. Benih itu pun tersebar di banyak wilayah di dalam negeri. "Kenapa kita tidak berpikir untuk melakukan pembesaran sendiri saja?" ujar Edhy. Ia mengatakan pembesaran lobster ini adalah peluang besar untuk perekonomian Indonesia, apabila dilakukan.

    Mana yang lebih masuk akal, kebijakan Susi atau Eddy?
    Argumen Menteri Edhy terkesan  dicar-cari.   Soal melepas lagi lobster yang cukup besar ke laut, misalnya, siapa yang melakukannya?  Siapa pula yang mengawasinya?     Sulit mengontrol kebijakan seperti ini, karena kita tidak mungkin mengeceknya.

    Begitu pula ide mengenai pembuatan lokasi ternak lobster sendiri.  Ini terkesan hanya wacana untuk menutupi pokok persoalan sebenarnya, yakni mengapa kita harus mengekspor benih lobster?  Siapa pula yang diuntungkan dengan kebijakan ini.

    Kalau benar ingin merencanakan bikin ternak lobster sendiri, bukankah hal itu bisa dilakukan dengan tetap menutup larangan ekspor benih lobster.

    Fakta menunjukkan bahwa setelah larangan ekspor benih lobster di zaman  Susi,  ekspor lobster yang besar kita terus meningkat. Sebelum peraturan tersebut diteken pada 26 Desember 2016, ekspor lobster secara tahunan rata-rata 600 -700 ton. Bahkan tahun 2015 cuma  324 ton.

    Setelah larangan ekspor benih dilakukan,  angka ekspor lobster besar mencapai 1.264 ton. Pada 2017  nilai ekspor lobster jenis Panulirus spp dengan Rp 224 miliar, pada 2018 Rp 366 miliar dan sepanjang 9 bulan pertama tahun 2019  mencapai  234 miliar.

    Dengan  adanya tambahan ekspor benih, mungkin saja dalam jangka pendek, total ekspor lobster akan meningkat tajam.  Tapi sampai berapa lama? Setahun dua  tahun, hampir dipastikan akan habis juga persediaan lobster kita di laut.  ***

    Ikuti tulisan menarik Dian Novitasari lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.