Dermaga Sanggam demi Wisata Derawan yang Aman dan Nyaman - Travel - www.indonesiana.id
x

Mentari Pagi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 Januari 2020

Senin, 27 Januari 2020 19:23 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Dermaga Sanggam demi Wisata Derawan yang Aman dan Nyaman

    Dibaca : 670 kali

    Siapa yang tidak kenal Kepulauan Derawan di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur? Tujuan wisata yang mulai ramai diperbincangkan sejak 4-5 tahun silam itu memang memiliki keindahan alam yang khas. Pasir putih dan air laut yang bening serta fasilitas memadai membuat banyak wisatawan asing maupun domestik tertarik untuk berkunjung.

    Biota laut yang tinggal di area laut sekitar pun juga beragam dan unik, seperti misal manta atau ikan pari besar, ubur-ubur tidak beracun dan juga tukik. Hewan-hewan laut tersebut bisa ditemukan di Pulau Sangalaki dan Pulau Kakaban. Umumnya tur yang tersedia untuk mencapai dua lokasi tersebut tergabung langsung dengan paket wisata Pulau Maratua.

    Pulau-pulau indah nan menawan ini terletak di laut sebelah timur Kabupaten Berau. Beruntung akses sudah dipermudah dengan adanya Bandara Kalimarau dan jalan tol yang terhubung langsung dengan dermaga-dermaga di pelabuhan kecil yang akan membawa para turis membelah sungai hingga ke muara, menuju lautan dengan pulau-pulau kecil nan indah ini.

    Dalam menjaga geliat pariwisata, pemerintah perlu mengupayakan pemeliharaan serta kontrol terhadap akses dan fasilitas. Begitu pula yang terjadi akhir tahun silam, pada 18 Desember 2019 ketika Dermaga Wisata Sanggam diresmikan oleh Bupati Berau, H. Muharram. Dermaga ini dahulu bernama Dermaga Pasar Gayam dan kemudian direvitalisasi oleh pemda supaya lebih tertata dan terpusat untuk mengontrol penyeberangan dan perjalanan wisata menuju Derawan, Maratua dan pulau-pulau kecil lainnya.

    Muharram mengungkapkan harapannya terhadap dermaga baru ini supaya bisa menguntungkan bagi masyarakat dan juga wisatawan. Warga bisa turut berjualan di sekitar dermaga supaya terdapat aktivitas ekonomi dan membawa keuntungan, namun tetap harus teratur dan bersih.

    Sementara itu wisatawan juga akan diuntungkan karena dermaga ini akan dilengkapi dengan sarana-sarana yang baik dan aman. Pun akan dilakukan pengawasan kelengkapan speedboat dan perahu, supaya setiap moda transportasi tersebut memiliki catatan perjalanan dan alat keselamatan yang lengkap. Hal ini demi keselamatan penumpang dan juga supaya wisata di Berau memiliki kualitas yang menjanjikan, baik dari segi keindahan alam, fasilitas, layanan dan juga jaminan keselamatan. Dipastikan turis akan merasa ingin terus kembali mampir!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 10:01 WIB

    Surga Bawah Laut Itu Bernama Berau

    Dibaca : 278 kali



    Oleh: Nabil Irhamsyah

    Rabu, 12 Februari 2020 09:59 WIB

    Jalur Trekking Baru di Labuan Cermin

    Dibaca : 294 kali







    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 453 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin