Tip Jitu agar Santai Naik Becak di Kota Yogyakarta - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Annisa Solikhah Nugraheni

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 April 2020

Minggu, 5 April 2020 12:15 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Tip Jitu agar Santai Naik Becak di Kota Yogyakarta

    Dibaca : 960 kali

    Saat ini transportasi sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat karena berkesinambungan dengan aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi. Berbagai alat transportasi sudah diciptakan dan memiliki nilai guna yang tinggi. Sebelum mengalami evolusi, alat transportasi belum secanggih sekarang ini.

    Di Indonesia, transportasi juga sudah berkembang walaupun tidak secepat negara maju lainnya. Perkembangan tersebut menghasilkan alat transportasi yang dapat dipesan secara online dan lebih mudah. Namun, keberadaanya mengancam eksistensi alat transportasi tradisional seperti bajaj, andong, dan becak. Akibatnya, alat transportasi konvensional mulai melesu dan jarang ditemui sehingga mulai kehilangan pamornya.

    Di Yogyakarta, alat transportasi konvensional memang sudah tidak menjadi transportasi utama dalam hiruk pikuk kota. Namun, setidaknya masih banyak transportasi konvensional yang memperoleh dukungan dari pemerintah. Pemerintah masih mempertahankan transportasi ini dengan memberikan wadah dengan tujuan mejaga kearifan lokal.

    Salah satu tranportasi tradisional yang masih menjadi primadona di Kota Yogyakarta adalah becak. Ratusan becak tersebar di berbagai sudut kota walau memang jumlahnya sudah mengalami kemerosotan dan tidak sebanyak dulu.

    Bagi wisatawan yang baru pertama kali berkunjung ke Yogyakarta tentunya akan terpaku dengan pemandangan jajaran becak yang tersebar di pinggir jalan. Becak ini banyak di temukan khususnya di daerah pusat kota seperti di Jalan Malioboro, Jalan Mayjend Pandjaitan, Jalan Tegal Panggung, Jalan Brigjen Katamso, dan masih banyak lagi.

    Sejak dulunya becak menjadi alat transportasi yang digemari penduduk lokal. Namun, saat ini kebanyakan becak fungsinya mulai beralih menjadi angkutan wisata di kota ini. Hal tersebut terlihat dari banyaknya becak di Jalan Malioboro yang siap mengantarkan wisatawan berkeliling Kota Yogyakarta ataupun sekadar membeli oleh-oleh.

    Sepanjang Jalan Malioboro deretan becak menyelimuti pandangan mata. Para penarik becak terlihat semangat menawarkan jasanya kepada wisatawan yang berlalu lalang. Ada pula yang hanya berbincang dengan sesama tukang becak sembari beristirahat, bermain catur, duduk santai diatas becaknya, dan mengisap rokoknya.

    Becak yang tersedia di sini berupa becak kayuh dan becak motor. Menaiki becak kayuh dan mengelilingi kota ini memang menjadi pilihan sebagian besar wisatawan karena memiliki sensasi tersendiri. Lajunya yang perlahan membuat penumpang dapat menikmati syahdunya Kota Yogyakarta sembari memandangi bangunan tua dan tempat eksotis di sini.

    Namun, wisatawan perlu memahami beberapa hal sebelum menaiki becak agar tidak terjadi tembak harga yang kerap terjadi terutama bagi wisatawan yang baru pertama kali ke sini. Untuk mengantisipasi hal tersebut terdapat beberapa cara untuk menghindari tembakan harga serta tips menaiki becak dengan aman dan nyaman.

    Pertama, negosiasikan harga di awal waktu. Becak tidak memiliki sistem argo sehingga tidak ada patokan harga yang pasti untuk tiap penarikannya. Harga yang ditawarkan untuk becak kayuh dan becak motor pun berbeda. Becak kayuh cenderung lebih mahal karena memerlukan tenaga yang ekstra dan eksistensinya pun mulai berkurang akibat meningkatnya jenis becak motor.

    Harga juga ditentukan berdasarkan tempat tujuan yang akan dikunjungi. Biasanya tarif untuk sekadar jalan-jalan dari Malioboro menuju tempat wisata terdekat seperti keraton, Taman Sari, dan Taman Pintar lebih mahal. Harga yang ditawarkan berkisar antara Rp25 ribu sampai Rp50 ribu tergantung pengemudi becak.

    Namun, jika penumpang minta diantarkan ke pusat oleh-oleh seperti sentra batik dan bakpia, harga yang ditawarkan justru sangat murah yaitu Rp5.000,00. Hal ini karena becak yang membawa wisatawan ke toko oleh-oleh akan mendapatkan komisi dari toko tersebut sehingga mereka tidak rugi walaupun menawarkan dengan harga yang rendah. Oleh karena itu, negosiasi diawal waktu perlu dilakukan agar saat hendak membayar wisatawan tidak diterkena harga tembak.

    Kedua, gunakan lafal bahasa Jawa saat berkomunikasi. Di daerah Yogyakarta, bahasa sehari-hari yang digunakan oleh penduduk adalah bahasa Jawa. Dengan menggunakan bahasa tersebut akan tercipta keakraban antara penumpang dan penarik becak. Adanya keakraban memudahkan mereka untuk tawar menawar harga dan memperoleh kesepakatan harga yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Setidaknya wisatawan bisa sedikit mengerti dan sedikit belajar bahasa Jawa untuk menanyakan harga dengan menggunakan kata ‘pinten’ atau ‘piro’ yang artinya berapa.

    Ketiga, pilih becak yang sedang melaju. Sudah terbukti oleh banyak wisatawan bahwa memilih becak yang sedang melaju lebih murah dari pada becak yang sedang mangkal. Jika calon penumpang memerlukan becak, segera cari becak yang sedang melaju lalu memberhentikannya dengan melambaikan tangan. Biasanya tawar menawar lebih mudah dan lebih cepat dengan model yang seperti ini. Tarif yang diberikan tentunya juga akan lebih miring dari biasanya.

    Namun, perlu dicatat, jangan sampai memberhentikan becak yang melaju di depan barisan becak yang sedang mangkal karena dapat memicu konflik dan keirian karena penumpang lebih memilih becak yang sedang berjalan.

    Keempat, perhatikan penarik becak. Jika bisa dapat memilih penarik becak, usahakan memilih penarik yang berusia matang sekitar 40 tahun ke atas. Alasannya yaitu karena biasanya penarik yang masih muda mamatok harga yang lebih tinggi sehingga harus ekstra menawar. Selain itu terkadang mereka membawa becaknya ugal-ugalan sehingga justru tidak bisa bersantai menikmati perjalanan.

    Penarik becak yang sudah berumur biasanya lebih santai dalam membawa becak dan mematok tarif yang wajar serta tidak menipu walaupun tidak semua orang seperti itu.

    Kelima, jaga barang bawaan dengan hati-hati. Penumpang becak rawan terkena perampokan sehingga jangan memilih menaiki transportasi becak saat membawa barang mencolok misalnya uang puluhan juta setelah dari bank. Selain itu jangan bermain hanpdhone di atas becak karena dapat memicu kesempatan aksi penjambretan. Hal yang telah dijelaskan perlu diperhatikan untuk menjaga kemanan penumpang dan barang bawaan agar selamat sampai tujuan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    4 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.029 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).