Menyusuri Kota Edirne, Tetangga Yunani dan Bulgaria - Travel - www.indonesiana.id
x

Mimar Koca Sinan, arsitek Masjid Selimiye\xd

Malikha Emayusita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 17 November 2020

Selasa, 1 Desember 2020 17:11 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Menyusuri Kota Edirne, Tetangga Yunani dan Bulgaria

    Adrianople yang sekarang berganti menjadi Edirne, sebuah kota di Turki yang berbatasan dengan negara Yunani dan Bulgaria. Kota ini jauh dari kebisingan dan tak kalah menarik untuk disinggahi.

    Dibaca : 1.331 kali

                Adrianople yang sekarang berganti menjadi Edirne, sebuah kota di Turki yang berbatasan dengan negara Yunani dan Bulgaria.

                Saya pergi ke sana rombongan berjumlah 13 orang. Kami singgah sebentar di Istanbul, yang dulu bernama Constatinople. Begitu tiba di Istanbul, saat mendapat akses internet, kami langsung sibuk dengan hp masing-masing. Tiga ibu menelepon keluarganya, suasana berubah riuh serasa di pasar. Sedangkan saya dalam diam membagikan foto ini di grup WhatsApp keluarga, disertai caption 4 kata. Seketika suasana grup tak kalah ramai, hanya saja berupa rangkaian kata dan emoticon.

               Penerbangan Jakarta - Istanbul 12 jam, mengurus di airport memakan waktu 3 jam, lalu jalan-jalan termasuk makan siang di sekitar hotel 1 jam saja. Tak sempat merebahkan tubuh, karena hanya menitipkan koper, lalu melanjutkan perjalanan selama 3,5 jam menuju Edirne dengan menyewa mobil. Pemandangan lahan pertanian dan bukit menyejukkan mata sepanjang perjalanan.

                 Di kota ini kami berhenti di dekat Masjid Sultan Salim atau di Turki dikenal dengan Masjid Selimiye. Dipandu teman yang sering ke Turki, kami menuju Rida Big, rumah Bahá’u’lláh selama di Edirne.

                  Setelah dari Rida Big, teman-teman menaruh barang-barang di hotel, termasuk punya kami. Sedangkan saya bersama Ibu dan salah satu teman menunggu di area Masjid Sultan Salim, menunggu mereka untuk makan malam di sekitar masjid. Hal ini membuat kami belum mencicipi nyamannya kamar hotel hingga malam. Kami menunggu sembari jalan-jalan menuju Masjid Selimiye, masuk melalui bazaar (pasar) yang menyatu dengan masjid.

                    Dari 13 orang, tersisa 8 yang mampu melanjutkan menikmati suasana Edirne di luar. 5 orang lainnya merelakan tak bergabung karena tertahan di hotel, terbelenggu rasa kantuk, dan terjerat nyamannya kasur. Rasa capek sukses menawan badan.

                 Kami makan malam di Selimiye Kebap yang lokasinya tak jauh dari Masjid Selimiye.. Rasa lelah menguap entah ke mana, yang ada hanyalah ekspresi gembira dalam kebersamaan menikmati suasana Edirne malam itu.

                Salah satu hidangan yang dipesan yaitu Tava Ciger, hati sapi diiris tipis lalu dibumbui tepung sebelum digoreng kering. Istimewanya menggunakan minyak bunga matahari, menghasilkan aroma khas. Hidangan ini salah satu signature dish (menu khas) Edirne. Saya hanya mengambil kurang dari lima potong saja, karena lidah ini hanya akrab dengan olahan hati saat dulu masih kecil.

                Seorang teman yang menghabiskan setengah piring, keesokan harinya di sepanjang perjalanan menuju Istanbul harus meringkuk di pangkuan pasangannya karena demam. Memprihatinkan namun dibalut keromantisan. Yaaah daya tahan tahan tubuh setiap orang terhadap makanan tidaklah sama.

                Setelah selesai, kami bertiga yang belum menikmati nyamannya kamar hotel undur diri. Sedangkan yang lain melanjutkan menikmati momen ini hingga larut malam. Keesokan paginya kami kembali ke Pasar Selimiye dan beberapa tempat lainnya sebelum kembali ke Istanbul.         

                 Kami ke Turki pertengahan Oktober, mulai musim gugur. Suhu udara di Edirne lebih dingin dibanding Istanbul. Pagi itu hingga siang suhunya 13 derajat celsius, bagi warga Eropa masih hangat, tetapi bagi kami yang tinggal di negara tropis sudah kedinginan. Membuat tubuh ini selalu berlindung dalam balutan Long John yang masih harus dilapisi jaket.

                 Edirne, sebuah kota yang jauh dari kebisingan dan tak kalah menarik untuk disinggahi. Berusaha merasa puas walau hanya sehari semalam di sana.

                 

    Tava Ciger

    Selimiye Kebap https://www.instagram.com/p/CGvzlz3hjhI/?igshid=8b0kk7fxj9en

    Roti khas Turki

    Rida Big, Rumah Bahá'u'lláh dengan latar belakang menara Masjid Selimiye

    Musim Gugur di Edirne

     

     

     

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.