Bung Hatta dan Kebenaran Versi Pemimpin - Pilihan - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

5 hari lalu

  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Bung Hatta dan Kebenaran Versi Pemimpin

    Bila para pemimpin sepakat dengan pandangan Bung Hatta, mereka akan menjadi bukan hanya penegak demokrasi, melainkan juga penjaga demokrasi, menjadi orang yang percaya bahwa kebenaran bukanlah milik orang seorang—apa lagi sebagai penguasa, melainkan buah pencarian bersama.

    Dibaca : 778 kali

     

    Apakah Anda masih atau setidaknya pernah membaca tulisan-tulisan Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh perintis serta pejuang kemerdekaan bangsa ini? Bila ada lembaga survei yang bersedia mengajukan pertanyaan seperti itu kepada para elite politik serta pemimpin negeri ini, barangkali kita dapat mengetahui gambaran tentang pengetahuan dan pemahaman pemimpin masa sekarang mengenai cita-cita perjuangan para pendahulu itu.

    Dan ini bukan sekedar gambaran tentang pengetahuan serta pemahaman yang kita peroleh, melainkan juga kita dapat mengetahui seberapa dekat pikiran, hati, dan sikap pemimpin masa sekarang dengan apa yang dicita-citakan oleh para pejuang kemerdekaan itu. Apakah elite sekarang berusaha mewujudkan cita-cita proklamasi seperti yang diimajinasikan oleh Soekarno-Hatta serta tokoh-tokoh lain di masa lampau? Atau sebaliknya, mereka tidak tahu, apa lagi paham, dan bahkan merasa tidak memiliki tautan atau relasi dengan cita-cita para pendiri Republik itu.

    Karena itu, survei ini akan menarik apabila dilakukan. Selama ini, elite politik sering berbicara tentang cita-cita proklamasi dan seterusnya, tetapi belum pernah diketahui seberapa dalam pemahaman para elite tersebut mengenai cita-cita proklamasi. Apakah itu tentang kekuasaan, demokrasi politik, demokrasi ekonomi, keadilan sosial, kebenaran, penegakan hukum, pemerataan kesejahteraan, dan isu-isu lain. Seperti apa imajinasi elite politik dan pemimpin masa sekarang mengenai semua isu tersebut?

    Dalam hal kebenaran, umpamanya, seperti apa pemahaman elite dan pemimpin negeri ini? Kita tidak pernah tahu. Klaim kebenaran selalu menjadi bagian paling krusial dari kekuasaan—di manapun, klaim kebenaran selalu menyertai kekuasaan. Tidak mudah bagi kekuasaan untuk menerima kebenaran yang datang dari tempat lain dan pihak lain. Salah satu alasan keengganan untuk menerima kebenaran yang datang dari pihak lain ialah kecemasan kekuasaan untuk terlihat lemah di mata masyarakat.

    Bila pemimpin dan elite masa sekarang membaca tulisan Bung Hatta, seorang figur yang hingga wafatnya konsisten dengan sikap seorang demokrat, akan dapat mengetahui dan memahami pemahaman Bung Hatta mengenai kebenaran. Sebagai intelektual, Bung Hatta tidak mengklaim kebenaran bahwa intelektual pasti benar. Bung Hatta menyepakati rasionalisme Sokrates bahwa kebenaran bisa lahir dari siapa saja asal kita pandai membantu lahirnya kebenaran dari orang tersebut dan tidak justru menghalanginya. Pandangan inilah yang dipegang oleh Bung Hatta sekalipun ia tengah duduk di kekuasaan.

    Kebenaran, dalam pandangan Sokrates yang disetujui oleh Bung Hatta, merupakan hasil pencarian bersama, bukan hasil renungan individual. Kebenaran didapat dari pergaulan dengan orang lain, karena kita menghadapi orang lain dengan sikap seorang pencari kebenaran, bukan sikap seorang pemilik kebenaran. Pencari kebenaran tidak akan memandag orang lain yang berbeda pandangan sebagai lawan, melainkan sebagai sesama kawan yang bersama-sama berusaha menemukan kebenaran.

    Apakah pemimpin dan elite masa sekarang berpandangan seperti Sokrates, yang juga disepakati oleh Bung Hatta, figur yang integritasnya tidak pernah diragukan hingga akhir hidupnya?  Bila para pemimpin sepakat dengan pandangan Bung Hatta, mereka akan menjadi bukan hanya penegak demokrasi, melainkan juga penjaga demokrasi, menjadi orang yang percaya bahwa kebenaran bukanlah milik orang seorang—apa lagi sebagai penguasa, melainkan buah pencarian bersama. Sebagai penguasa, ia akan menolak klaim kebenaran atas nama kekuasaan, sebab kebenaran bisa datang dari mana saja. Dan sebagai penguasa, ia akan bersikap rendah hati untuk mendengarkan pandangan orang lain, yang bersama-sama berusaha menemukan kebenaran. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.