Pengidap Dunning-Kruger Effect di Sekitar Kita, Merasa Pintar Padahal Sebaliknya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

apriadi apri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2021

Selasa, 3 Agustus 2021 16:07 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Pengidap Dunning-Kruger Effect di Sekitar Kita, Merasa Pintar Padahal Sebaliknya

    Dalam psikologi, orang-orang yang merasa dirinya pintar bisa saja terkena Dunning-Kruger Effect. Orang tersebut akan merasa unggul dari segi pengetahuan maupun kemampuan lain. Dia tak menyadari bahwa pengetahuan dan kemampuannya masih jauh berada di bawah orang lain. 

    Dibaca : 763 kali

    Dalam psikologi, orang-orang yang merasa dirinya pintar bisa saja terkna Dunning-Kruger Effect. Orang yang mengalami efek tersebut akan merasa unggul dari segi pengetahuan maupun kemampuan yang dimilikinya. Akan tetapi, ia tak menyadari jika pengetahuan dan kemampuannya itu masih jauh berada di bawah orang lain. 

    Apa itu Dunning-Kruger Effect?

    Dunning-Kruger Effect adalah suatu bias kognitif atau kekeliruan dalam menilai dan berpikir mengenai kemampuan yang dimilikinya. Orang tersebut percaya bahwa ia lebih pintar dan lebih mampu daripada kenyataannya. Ini terjadi karena kombinasi antara kesadaran diri yang buruk kemampuan kognitif yang rendah sehingga membuatnya terlalu tinggi dalam menilai kemampuan diri sendiri.

    Orang dengan Dunning-Kruger Effect akan berbicara panjang lebar mengenai suatu topik dan menyatakan bahwa dirinya benar sementara pendapat orang lain salah. Meski orang lain tak tampak tertarik dengan yang dibicarakannya, ia akan terus mengoceh dan mengabaikan ketidaktahuannya.

    Efek ini pertama kali digambarkan oleh dua psikolog sosial, yaitu David Dunning dan Justin Kruger. Dalam serangkaian penelitian, orang-orang yang memiliki hasil yang rendah pada tes tata bahasa, humor, dan logika justru menilai dirinya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dan orang lain sangatlah buruk. Padahal, rendahnya pengetahuan atau kemampuan yang ia miliki membuatnya tak dapat mengenali tingkat keterampilan dan kompetensi orang lain, sehingga secara konsisten memandang dirinya lebih baik, lebih mampu, dan lebih berpengetahuan. Selain itu, ia juga tak mampu mengenali kesalahan diri sendiri. (Dunning & kruger, 14 : 1999)

    Dampak Dunning-Kruger Effect

    Umumnya, orang dengan Dunning-Kruger Effect memang kepercayaan diri yang luar biasa. Ketika ia memiliki secuil informasi mengenai suatu topik, ia merasa sangat berpengetahuan dan menjadi ahli. Sebagai contoh sesorang yang mengambil waktu 1-2 jam mempelajari digital marketing melalui video atau artikel, ia akan merasa percaya diri karena sebelumnya ia tidak mengetahui subjek tersebut. Namun ketika setelah mempelajari hal tersebut ia menganggap telah mengetahui semuanya, sama seperti mereka yang telah menghabiskan waktu puluhan tahun bahakan melalui riset tentang digital marketing.

    Ia juga bisa saja memercayai informasi yang salah dan dengan percaya diri menyebarkannya pada orang lain. Sialnya, pada saat ia telah berhenti akibat merasa mengetahui banyak hal, merasa puas,  dan mendapatkan pujian dari orang lain maka ia telah mengalami Dunning-Kruger Effect, yakni kesalahan menilai kompetensinya. Padahal kata Socrates semakin seseorang belajar, semakin ia mengetahui bahwa ia tidak mengetahui apapun.

    Bagi seseorang yang mengalami Dunning-Kruger Effect pengetahuan bagaikan sebuah kotak, dan ia pikir telah ia kuasai seutuhnya, padahal kotak itu hanya sebagian kecil dari kotak yang besar, dan kotak yang besar merupakan bagian dari kotak yang jauh lebih besar lagi, dan lebih jauh lagi kotak yang besar tadi bagian dari pohon pengetahuan yang pada hakikatnya terus berkembang, tak heran orang pintar menganggap dirinya masih kurang pintar sehingga akan terpacu ingin terus belajar.

    Dalam keseharian kita Dunning-Kruger Effect dapat ditemukan di mana-mana. Seberapa sering kita bekerja dengan orang yang tidak sehebat seperti mereka katakan, sebaliknya mungkin kita sering melakukannya. Dalam kadar tertentu itu adalah hal yang normal karena kepercayaan diri merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan.

    Tapi masalahnya sebagai bias kognitif Dunning-Kruger Effect dapat menciptakan hal-hal yang sangat merugikan saat ia secara tidk sadar menjangkiti masyarakat dan kehidupan kita dengan : menjelma sebagai guru-guru gadungan, ahli-ahli bodong, intelek-intelektual karbitan, influencer-influencer norak yng sayangnya kerap mendapatkan dukungan yang berlebihan. Sebab pepatah mengatakan “tong kosong nyaring bunyinya” saking nyaringnya itulah yang masuk ke gendang telinga kita.

    Bahkan menurut penulis, di level-level pengambil kebijakan, Dunning-Kruger Effect menjadi sangat berbahaya, bukan tidak mungkin Dunning-Kruger Effect merupakan penyebab penyumbang sebagian kekacauan dunia. Menurut pendapat penulis, bukan perubahan iklim, bukan kelebihan populasi, bukan perang dingin bahkan bukan Covid-19, masalah terbesar yang ada didunia adalah terletak pada pembuat kebijakan yang bersifat “The Man Behind the gun”.

    Di Indonesia tercinta masalah ini menjadi kian kronis, sebab kita selalu dapat menemukan “The Wrong Man in wrong place” (orang yang salah di tempat yang salah) dari tingkat RT sampai Negara. Apabila di lihat dari segi agama ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Imam Alghazali tentang “jenis manusia yang paling buruk, yaitu jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki pengetahuan, padahal ia tidak tahu apapun” dan repotnya manusia jenis ini jika diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Inilah jenis manusia yang tidak tahu dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu.

    Jika dibiarkan, kekeliruan informasi dari orang yang mengalami Dunning-Kruger Effect bisa menyebar dan mungkin menyebabkan keresahan. Fenomena ini dapat muncul di mana saja dalam berbagai bidang.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.