Polisi Kebersihan Sekolah, Cara Efektif Menuju Sekolah Merdeka dari Limbah Plastik - Analisis - www.indonesiana.id
x

Latihan Engrang untuk Persiapan Lomba Engrang

sisca tristanti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 2 Desember 2021

Rabu, 12 Januari 2022 07:41 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Polisi Kebersihan Sekolah, Cara Efektif Menuju Sekolah Merdeka dari Limbah Plastik

    Masalah limbah plastik adalah masalah global yang tak kunjung terselesaikan. Indonesia merupakan negara dengan peringkat no 2 di dunia, sebagai negara penghasil limbah plastik terbanyak.

    Dibaca : 266 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masalah limbah plastik adalah masalah global yang tak kunjung terselesaikan. Indonesia merupakan negara dengan peringkat no 2 di dunia, sebagai negara penghasil limbah plastik terbanyak. Berbagai sektor kehidupan di Indonesia menggunakan plastik sebagai bahan bakunya, minuman kemasan, kemasan makanan ringan, sendok garpu dalam makanan siap saji, sedotan dan gelas plastik pada minuman take away, kantong belanjaan, hingga plastik pembungkus pada kiriman paket belanja. Tentu saja pemerintah serta berbagai pihak yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup tidak tinggal diam dengan keadaan ini. Bahkan sejak semakin banyaknya kasus lingkungan yang berkaitan dengan sampah ditemukan, misalnya banyak hewan laut yang ditemukan mati di pinggir pantai dengan kondisi sampah yang menumpuk di dalam perutnya, banyak bermunculan komunitas-komunitas di tengah masyarakat yang ikut turun tangan membantu pemerintah dalam menangani masalah tersebut.

                    Sejak tiga tahun terakhir, peraturan-peraturan pemerintah yang berkaitan dengan plastik akhirnya dibuat, misalnya : restoran siap saji tidak diperbolehkan memberikan sedotan plastik kepada pelanggannya, mall dan swalayan meniadakan kantong belanja berbahan plastik dan harus menggantinya dengan kantong belanja berbahan kain atau kertas , mengganti kemasan plastik pada makanan/minuman take away dengan kemasan yang terbuat dari kertas yang dapat didaur ulang, serta menganjurkan produsen minuman kemasan mengganti botol kemasannya dengan botol yang dapat didaur ulang. Peraturan-peraturan yang terkesan sederhana namun akhirnya pelan-pelan menurunkan jumlah limbah plastik yang dihasilkan masyarakat setiap harinya.

                    Bukan hanya rumah tangga yang menyumbang limbah plastik setiap harinya, sekolah melalui perilaku siswa-siswanya pun menjadi penyumbang menumpuknya limbah plastik setiap hari. Untuk itu semua warga sekolah sudah sepatutnya ikut serta dalam usaha memerdekakan  sekolah dari limbah plastik. Hal-hal yang dapat warga sekolah lakukan untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan sekolah, antara lain :

    1. Mengganti semua kemasan makanan dikantin dengan kemasan non-plastik,
      Kantin merupakan tempat favorit bagi anak-anak sekolah, karna disanalah mereka bebas mengekspresikan diri, tempat melepas penat, tempat saling mengenal satu sama lain bahkan bagi beberapa orang menjadi tempat untuk menunjukkan kepopulerannya. Karena itu kantin selalu jadi tempat tujuan saat tidak ada jam pelajaran. Selain dari itu, kantin merupakan tempat penghasil sampah plastik terbesar di lingkungan sekolah, misalnya : plastik kemasan kue-kue, plastik pembungkus makanan, atau plastik kemasan bahan masakan para pedagang di kantin sekolah. Dengan menggalakkan kampanye anti plastik di kantin sekolah, diharapkan pedagang sekolah dapat mengganti  semua kemasan plastik sekali pakai yang mereka gunakan seperti gelas atau kotak plastik sekali pakai dengan kemasan lain seperti kotak atau gelas berbahan kertas yang banyak diperjual belikan dipasaran.
    2. Melarang penggunaan sedotan plastik di kantin atau mini market sekolah,
      Sama halnya dengan kemasan makanan, sedotan plastik juga menjadi penyumbang limbah plastik terbanyak di dunia. Dengan melarang penggunaan sedotan plastik di kantin atau mini market sekolah, berarti kita sudah mengurangi bertumpuknya limbah plastik yang sulit diurai. Sebagai penggantinya, warga sekolah dianjurkan membawa sedotan berbahan lain seperti stainless, kertas, mika atau bambu yang penggunaannya bisa dilakukan berulang-ulang.
    3. Membentuk tim perwakilan kelas sebagai ‘polisi kebersihan sekolah’,
      Seperti polisi pada umumnya, polisi kebersihan sekolah yang dibentuk di sekolah, berfungsi sebagai tim pengamanan sekolah dari perilaku warga sekolah yang tidak bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan sekolah, termasuk juga hal yang berkaitan dengan sampah. Tim ini dipilih berdasarkan pengamatan guru pembimbing tentang perilaku mereka secara personal terkait kepedulian terhadap kesehatan lingkungan sekolah.
    4. Menyediakan tempat sampah organik dan anorganik,
      Memisahkan sampah organik dan anorganik merupakan langkah penting dalam usaha pengendalian limbah plastik di sekolah. Dengan menyediakan tempat sampah yang memisahkan antara tempat sampah organik dengan tempat sampah anorganik, kita jadi lebih mudah mendaur ulang sampah-sampah tersebut. Sampah organik nantinya dapat diolah menjadi pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dapat diolah kembali menjadi barang-barang multifungsi lainnya.          
    5. Pada mata pelajaran tertentu, menjadikan sampah anorganik sebagai media pembelajaran,
      Sampah anorganik yang telah terkumpul dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, hal ini dapat dipergunakan pada mata pelajaran Seni Budaya (dalam materi seni rupa), mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan (dalam materi kerajinan), juga pada mata pelajaran matematika (dalam materi bangun ruang).
    6. Mewajibkan siswa mengumpulkan 1 botol ecobrik berukuran 1,5 L setiap semester
      Ecobrik adalah salah satu cara pengurangan limbah plastik dilingkungan kita dengan cara yang tidak merepotkan. Cukup siapkan botol kosong bekas minuman kemasan berukuran 1,5 L, lalu masukkan sampah plastik bekas kemasan makanan yang telah dibersihkan , isi hingga botol penuh dan padat. Agar project ini dapat berjalan lancar di sekolah, maka siswa/I diwajibkan mengumpulkan 1 botol ecobrik berukuran 1,5 L setiap semesternya.            

    Itulah enam cara efektik memerdekakan sekolah dari limbah plastik, karena mengajarkan tentang pelestarian lingkungan harus dimulai sejak dini. Kalo bukan sekarang, kapan lagi? Dan kalo bukan dimulai dari kita sendiri, siapa lagi?



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.