Mengetahui Filsafat Adat Alam Minangkabau - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Josi Louisianna Tambazana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Januari 2022

Rabu, 26 Januari 2022 06:26 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Mengetahui Filsafat Adat Alam Minangkabau


    Dibaca : 265 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sebagai definisi yang sederhana, filsafat adat alam Minangkabau memiliki makna sebagai filsafat yang mendasarkan diri pada ketentuan hukum agama dan hukum alam. 

    Filsafat adat dan pepatah petitih Minangkabau sangat lengkap dengan nilai-nilai pendidikan. Yang paling kita terkenal adalah ‘alam takambang jadi guru’ (Alam terkembang jadi guru). Alam takambang jadi guru merupakan sebuah pepatah di Minangkabau. Di sini, ‘alam’ berarti tempat kita hidup, sesuatu yang berada di sekitar. ‘Takambang’ berarti bahwa alam memiliki keluasan cakupan, tempat terjadinya dinamika kehidupan. ‘Jadi guru’ berarti bahwa alam tersebut dapat dijadikan sumber belajar yang lebih luas dan lebih bervariasi. Jadi menurut filsafat Minangkabau, semua orang mendapatkan peluang untuk belajar sepangan hidup, yang didukung oleh ketersediaan sumber belajar dimana-mana. Jadi dapat dikatakan bahwa orang Minangkabau berpikir dan menarik pembelajaran dari ketentuan alam. Dalam filsafat alam Minangkabau, ‘manusia’ diposisikan sebagai salah satu unsur yang memiliki status yang sama dengan unsur lainnya, seperti tanah, rumah, suku, dan nagari.

    Kemudian, arti dari kato nan ampek dalam filsafat Minangkabau. Kato nan ampek merupakan aturan yang mengikat orang Minangkabau dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pikiran mereka di kehidupan sehari-hari.  Kato nan ampek terdiri dari empat konsep yang penting, yaitu kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereng.

    • Kato mandaki atau kata mendaki dimaksudkan bagaimana kita menyatakan pikiran kita ketika berkomunikasi atau membicarakan tentang seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi daripada kita, misalnya orangtua, pemimpin negara, guru, tokoh masyarakat, dan lainnya.
    • Yang dimaksud dengan kato manurun atau kata menurun adalah cara berkomunikasi atau membicarakan tentang seseorang yang memiliki posisi di bawah kita, terutama yang lebih muda (umurnya) atau kepada remaja dan bocah.
    • Kato mandata atau kata mendatar adalah cara berbahasa dengan teman sejaman dalam pergaulan.
    • Kato malereng atau kata melereng merupakan cara bagaimana kita berkomunikasi dengan pihak yang rasanya sulit ketika mengungkapkan perasaan atau pikiran kepada pihak tersebut secara terang.

     

    Dalam filsafat Minangkabau juga terdapat empat tingkatan adat, yaitu adat yang sebenar benar adat (kenyataan yang berlaku dalam alam), adat yang diadatkan (sesuatu dari nenek moyang sebagai peraturan untuk masyarakat), adat yang teradat (adat yang dapat berkembang dan dapat hilang), dan adat istiadat (kebiasaan yang sudah berlaku dan berkaitan dengan tingkah laku).

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.