Para Sultan di Nusantara Memerangi Portugis - Analisis - www.indonesiana.id
x

Bayu W |kuatbaca

Penulis Manis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Maret 2022

Sabtu, 7 Mei 2022 18:58 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Para Sultan di Nusantara Memerangi Portugis

    Begitu banyaknya perlawanan terhadap Portugis dikarenakan sejak awal keberangkatannya mereka dibekali dengan dekrit penaklukan. Perjanjian Tordesillas yang disetujui pada 7 Juni 1494 antara Portugis dan Spanyol bermaksud membelah dunia di luar Eropa ke dalam kekuasaan mereka. Perjanjian tersebut bahkan berjalan atas restu dari Paus dengan dikeluarkannya dekrit berjudul Inter caetera Devinae, “Keputusan Ilahi”.

    Dibaca : 376 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berkenaan dengan kehadiran Islam di Nusantara, Ricklefs memberikan penggambaran tentang warna Islam yang lebih nyata dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ricklefs menegaskan, era “Indonesia modern” dimulai sejak kedatangan Islam. Agama ini telah mempersatukan suku-suku Nusantara menjadi satu “kesatuan sejarah yang padu” (a coberent historical unit). Dalam melawan hegemoni kolonial, Islam telah menjadi simbol identitas pribumi dan pembangkit daya juang, seperti juga pernah ditegaskan Prof. Dr. George McTurnan Kahin di dalam Nationalism and Revolution in Indonesia, serta Prof. Dr. Harry Jundrich Benda di dalam The Crescent and the Rising Sun.

    Kehadiran Putri Ong Tien ke Cirebon di tahun 1481 merupakan kisah adanya hubungan erat antara penguasa-penguasa di Cina terhadap Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), seorang yang kemudian bergelar Senopati Sarwajala dengan tugas membangun armada gabungan Demak-Cirebon, Palembang dan Cina guna menggempur Portugis di Malaka. Bahkan, setelah runtuhnya Kesultanan Demak, aliansi untuk melancarkan serangan terhadap keududukan Portugis di Malaka maupun Maluku, tetap dilanjutkan oleh Jepara bersama dengan Aceh, Ternate, Hitu, juga Johor.

    Sementara itu, di Jawa, setelah tewasnya Sultan Trenggono dalam ekspedisi Demak menundukkan Jawa Timur dikarenakan elit dari Majapahit menjalin persekutuan dengan Portugis, konsentrasi kekuatan Islam di Jawa kemudian mengerucut di antara Banten, Jepara dan Giri (Gresik). Masing-masing dari ketiga kekuatan tersebut menghadapi persoalan di dalam teritorinya masing-masing.

    Ketika Jepara masih bisa melancarkan serangan terhadap Portugis di Malaka dan juga Maluku, di barat Jawa panembahan Banten masih harus menghadapi Pajajaran yang telah menjalin persekutuan dengan Portugis. Sementara itu, di timur Jawa, selain mesti menjadi arbriter atas perseteruan yang pecah antara Pajang —kemudian juga Mataram— dengan Surabaya (yang memimpin para adipati di Jawa Timur), Giri juga harus melakukan ekspedisi ke Bali dan Nusa Tenggara guna mencegah Portugis masuk ke perairan Timor. Sebab, di masa itu Portugis telah berhasil menarik Ternate ke dalam pengaruhnya melalui peran sejumlah elit istana, sehingga Sultan Ternate harus menunggu dukungan dari luar (Jepara dan Hitu) sebelum akhirnya ia berhasil membersihkan monopoli Portugis dari Maluku.

    Selain kehadiran Portugis, sebenarnya yang cukup menarik adalah kedatangan Kapal Victoria milik Spanyol di tahun 1521 yang secara tidak sengaja tiba di kepulauan Maluku dan turut mendapatkan keuntungan mencapai lebih dari 2500 persen melalui perdagangan rempah-rempah, terutama dari komoditi cengkeh dan pala yang hanya dihasilkan dari Maluku. Selain karena monopolinya yang terancam, Portugis berang karena Spanyol telah melanggar perjanjian pembagian kawasan pengaruh (“sphere of eventual interests”) yang dibuat di Todersillas pada tahun 1499.

    Namun, meskipun mendapat kecaman keras, Spanyol tetap mengirim armada lagi yang terdiri dari 7 kapal, dimana hanya dua kapal yang sampai setelah satu kapal terdampar di Mindanao dan yang lainnya mendarat di Tidore. Kedatangan kapal Spanyol di Tidore pada waktu itu mendapat sambutan baik dari Sultan, yakni dengan maksud dijadikan alat penekan bagi Ternate yang menjadi saingannya dan telah jatuh ke dalam pengaruh Portugis.

    Oleh karena itu pula, Paus pun segera memprakarsai diadakannya perjanjian Zaragosa (22 April 1529) yang menjadi penegas lanjutan dari perjanjian Tordesillas. Hal ini dilakukan untuk meredam adanya persaingan yang berujung pada peperangan terbuka antara Portugis dengan Spanyol di Maluku.

    Sementara itu, di seberang semenanjung Malaka, Aceh mulai dapat menunjukkan supremasinya berkat dukungan militer dan teknologi persenjataan dari Turki sehingga Portugis kesulitan untuk masuk lebih jauh ke Laut Jawa ataupun pantai barat Sumatera. Dan, dalam jangka waktu yang panjang, hal ini turut memberi jalan bagi pesatnya perniagaan di Selat Sunda.

    Untuk menghindari Portugis yang dirasakan sebagai ancaman, pedagang-pedagang muslim dari belahan timur Nusantara segera mengalihkan jalur pelayaran dan langsung memusatkannya perniagaan ke Jepara, Banten, Aceh, atau Johor. Dengan demikian, langkah strategis untuk mengunci dan memonopoli perdagangan di Nusantara yang dulunya dilakukan oleh Portugis melalui pendudukan atas Malaka seolah menjadi sia-sia. Bahkan, untuk mendapatkan rempah-rempah Maluku, Portugis "terpaksa" merintis jalur baru melalui perairan di utara Pulau Kalimantan. Selain karena waktu tempuh yang lebih cepat, hal ini dilakukan untuk menjaga pasokan dagang Portugis dari gangguan kapal-kapal Aceh, Banten, dan Jepara, yang mendominasi di sepanjang Laut Jawa hingga ke Selat Malaka.

    Akan tetapi, di antara segala kepungan yang mengancam Portugis di Malaka, perkembangan kekuatan Aceh yang justru terbentur oleh Johor merupakan keberuntungan tersendiri. Johor yang merupakan keturunan dari Kesultanan Malaka tidak membiarkan Malaka jatuh selain ke tangannya. Sementara itu, baik Aceh maupun Johor, juga masing-masing sempat meminta bantuan dari Jawa (Demak/Jepara) dalam rangka mengusir Portugis dari Malaka. Dan, Johor pun sempat pula menjadi taklukan Aceh. Konflik segi tiga di antara Aceh, Johor, dan Portugis ini terus berlarut tanpa kesudahan yang final bagi mereka.

    Sedangkan di Jawa, naiknya kekuasaan Mataram (Islam) justru mengawali kemunduran hegemoni pelaut-pelaut Jawa di Nusantara. Mataram memulai eksistensinya dengan merebut kekuasaan dari Pajang dan bersikap konfrontatif terhadap Tuban, Giri, Surabaya dan Banten, yang mengakibatkan terpecahnya antara kekuatan Jawa di pesisir dan pedalaman (selatan). Mataram terlibat konflik dengan semua wilayah yang dulu dibangun Walisongo. Dan, di saat Mataram mencapai masa keemasannya, kebijakannya secara pasti berhasil memindahkan orientasi militer maupun basis perekonomian Jawa ke darat. Sedangkan untuk menstabilkan posisinya di laut, Mataram menyiasatinya dengan membangun persekutuan bersama Kesultanan Gowa.

    Begitu banyaknya perlawanan terhadap Portugis dikarenakan sejak awal keberangkatannya mereka memang dibekali dengan dekrit penaklukan. Kepentingan yang dibawa Portugis lebih jauh dari sekedar berburu rempah.

    Perjanjian Tordesillas yang disetujui pada 7 Juni 1494 antara Portugis dan Spanyol bermaksud membelah dunia di luar Eropa ke dalam kekuasaan mereka. Perjanjian tersebut bahkan berjalan atas restu dari Paus dengan dikeluarkannya dekrit berjudul Inter caetera Devinae, “Keputusan Ilahi”.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.