Meme Vulgar Mencemari Ruang Publik - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 27 Mei 2022 14:44 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Meme Vulgar Mencemari Ruang Publik

    Dibandingkan beradu argumen yang memerlukan pemikiran, menyerang dengan meme vulgar dianggap jauh lebih gampang untuk dilakukan dengan efek layaknya hantaman palu besar. Penyerang tak perlu bersusah payah menyusun argumen, tak perlu menghimpun data pendukung. 

    Dibaca : 1.494 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Ruang publik virtual sebenarnya berpotensi jadi ruang yang melahirkan gagasan-gagasan segar bagi masyarakat bila pertukaran pendapat antarwarga berlangsung sehat. Sehat dalam pengertian didasarkan argumen rasional, disampaikan secara santun, dalam upaya mencari kebaikan bersama, dan bukan untuk menang-menangan—yang umumnya hanya berwujud kemenangan semu.

    Sayangnya, potensi itu rusak oleh karena sebagian orang menjadikan ruang publik virtual sebagai ajang untuk menghantam orang lain. Bila perlu, dengan cara yang vulgar. Mereka menjadikan ruang publik ajang untuk merendahkan martabat orang lain di hadapan orang banyak. Netizen yang mudah terpengaruh akan tersulut oleh postingan yang vulgar dan cenderung ikut melakukan perbuatan yang sama, setidaknya ikut menaburkan bumbu-bumbu yang menjadikan postingan itu semakin viral.

    Orang-orang ini tidak peduli apakah cara dan konten yang mereka sampaikan di ruang publik itu pertama-tama faktual atau tidak, benar atau tidak, baik atau tidak, bermanfaat atau tidak, serta santun atau tidak. Filter untuk menyaring pesan komunikasi tidak digunakan, malah disingkirkan karena dianggap merintangi kebebasan.

    Bagi mereka ini, kesantunan bukanlah hal yang perlu dipertimbangkan di dalam komunikasi di tengah khalayak ramai sekalipun. Bagi mereka, tujuan jauh lebih penting untuk dicapai. Mereka tidak peduli bahwa konten itu terlampau berlebihan: hiperbolis—dalam kata, dalam gambar, dalam cara menanamkan persepsi ke dalam benak publik agar masyarakat percaya. Bahkan, bila perlu, faktualitas tidak dipedulikan dan sebagai penggantinya dibuatkan fakta rekayasa.

    Dari sisi konten, karena merasa tidak cukup puas dengan kata-kata, mereka lantas memilih meme sebagai sarana untuk mengirim pesan. Meme bukan lagi digunakan sebagai sarana mengirim kritik berbasis fakta secara wajar, tapi sudah dijadikan alat untuk merendahkan martabat orang lain.

    Secara asali, meme itu memuat sejenis kritik rasional yang memuat gagasan, sindiran, anekdot. Lalu tiba waktunya orang menggunakan meme tapi membebaskannya dari muatan kritik rasional. Muncullah meme sarkastik yang vulgar, yang bahkan tidak peduli lagi apakah pesan yang disampaikan itu faktual atau kepalsuan, tidak lagi peduli apakah pesan itu memuat kritik yang logis atau merendahkan martabat.

    Tatkala tujuannya menjatuhkan martabat seseorang di hadapan khalayak atau netizen, bagi mereka cara yang santun dianggap merepotkan. Mereka berusaha memukulkan palu godam yang efeknya seketika menyebar luas—viral dan meninggalkan kesan mendalam pada netizen, bahkan mungkin tidak akan terlupakan.

    Efek buruknya bagi netizen yang tidak melek medsos, meme itu akan dipercaya sebagai cerminan keadaan yang sesungguhnya atau faktual. Padahal, meme itu memanipulasi fakta demi menghancurkan martabat seseorang.

    Pada titik ini, sendi-sendi rasionalitas digerogoti karena pesan meme yang vulgar lebih cepat menguasai segi emosionalitas netizen. Sikap kritis netizen boleh jadi tumpul tatkala menerima paparan meme yang menghebohkan karena respon emosional bekerja lebih cepat dan lebih dulu dibanding respon rasional. Hasrat ketidaksukaan serta merta memperoleh stimulasi dari meme vulgar.

    Dengan cara itulah, ruang publik virtual dicemari oleh prasangka, kebencian, maupun hasrat mempermalukan orang lain. Dibandingkan beradu argumen yang memerlukan pemikiran, menyerang dengan meme vulgar dianggap jauh lebih gampang untuk dilakukan dengan efek layaknya hantaman palu besar. Penyerang tak perlu bersusah payah menyusun argumen, tak perlu menghimpun data pendukung. 

    Berikutnya, pertukaran pendapat berbasis rasionalitas dikalahkan oleh riuh rendah saling balas komentar sarkastis dengan memakai kata-kata dan gambar yang vulgar. Dominasi cara-cara komunikasi bergaya koboi ini menjadikan pencemaran ruang publik virtual cenderung semakin parah. Harapan untuk menjadikan ruang publik virtual tumbuh menjadi alternatif  ruang berpendapat yang bebas dan berbobot terasa semakin jauh. >>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.