Membaca Ulang Ashadi Siregar: Gadisku di Masa Lalu - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ashadi Siregar. Foto: tangkapan layar Youtube

atmojo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 14 Juni 2022 12:29 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Membaca Ulang Ashadi Siregar: Gadisku di Masa Lalu

    Novel pop Ashadi Siregar yang dicetak ulang ini tetap menarik untuk dibaca. Berkisah tentang lika-liku percintaan yang dibalut dalam adat Batak.

    Dibaca : 1.218 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Novel populer ini ditulis oleh Ashadi Siregar pada 1978, namun sampai sekarang nilai-nilai etis yang terdapat di dalamnya – terutama tentang kemuliaan hidup, tentang hidup yang bermutu – tetap relevan. Novel ini sekarang dicetak ulang oleh Gramedia Pustaka Utama.

    Saya ringkaskan saja. Kisahnya tentang seorang remaja pria bernama  Budiman, anak seorang pejabat di kota Medan, yang lumayan badung. Di Sekolah Menengah Atas (SMA) ia kerap diskors, tapi juga sekaligus disayangi beberapa gurunya. Bersama genk-nya, ia gemar berkelahi, minum tuak, merokok, dan suka jalan-jalan ke pasar. Saking bandelnya, ia bahkan beberapa kali berusaha mencium gurunya, Bu Anna, seorang janda yang cantik.

    Hingga akhirnya ia bertemu dengan Sylvani (Vani) adik kelasnya yang cantik. Budiman jatuh cinta. Demkian pula Vani. Tapi Budiman yang saat itu kelas tiga, sudah bertekad bahwa setelah lulus akan melanjutkan kuliah ke Yogyakarta. Ia ingin jauh dari keluarga, terutama dari ayahnya yang punya istri simpanan dan koruptor. Ia ingin mandiri, menjadi diri sendiri di kota yang baru nanti.

    Di hari libur menjelang ujian, sekolah mereka menyelenggarakan trip atau darmawisata ke Danau Toba. Budiman dan Vani memisahkan diri dari rombangan, Mereka duduk bersandar di batang pinus, di atas bukit, memandang permukaan danau  yang mengilat bagai cermin raksasa menghadap langit. Vani masih berusaha menahan Budiman agar setelah lulus ia tetap melanjutkan kuliah di Medan. Tapi keinginan Budiman untuk pergi dari Medan sudah tidak bisa dicegah lagi.

    Vania menangis. Budiman lalu menciumnya. Ini bukan ciuman yang pertama. Bahkan kali ini Vania sudah mulai pandai membalas ciuman Budiman. “Jangan, Bang,” kata Vani ketika tangan Budiman menjalar.

                 “Biarkanlah, karena aku mencintaimu,” kata Budiman dalam desah.

                 “Jangan begitu,” kata gadis itu.

                 “Kalau kau mencintaikau, diamlah,” bisik Budiman.

    Vani terpana. Angin gemerik di sela semak belukar. Angin menerbangkan daun-daun pinus yang berhasil diluruhnya. Tubuh mereka menyatu. Angin mengibas keringat di badan mereka. Kemudian Vani menangis. Lalu memeluk erat seperti tak mau melepaskan untuk selamanya. Budiman termangu. “O, gadiku yang kecil, yang lemah, yang suci, apa yang sudah kulakukan ini? Kata Budiman dalam hati. Lalu ia menjilat air mata di wajah Vani.

                 “Kamu akan jadi istriku,” kata Budiman terbata-bata.

                 “Ya, ya, ya,” jawab Vani dalam isak yang mengganjal.

                 Lama mereka saling berpeluk di atas tumpukan daun pinus tua. Matahari menggelesor di langit.

                                                                          ***

    Budiman berangkat ke Yogyakarta. Di sini dia memulai hidup baru, kuliah, dan menjadi dosen. Sampai akhirnya dia menerima surat dari Vita (adik Vania), yang kini sudah beranjak remaja. Surat-surat itu menceritakan bahwa keadaan sudah banyak berubah. Ayahnya bangkrut, dan mereka terpaksa tinggal di rumah kontrakan yang sempit. Dalam kemiskinan itu, Vani dipaksa menikah dengan seorang pengusaha (Sopar). Vani menolak, bahkan sempat kabur dari rumah, tak akhirnya harus menyerah.

    Vita yang tidak tahu secara mendetail hubungan  Budiman dan Vani, kakaknya itu, terus menceritakan kekejaman Sopar dan penderitaan Vani. Budiman akhirnya bercerita apa sesungguhnya yang terjadi.

    Budiman sebenarnya ingin menyelematkan Vani dari penderitaaanya. Tapi ia jugai dapat memaklumi apa yang terjadi. Sebagai seorang lelaki Batak, mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama jika mendapati istrinya ternyata lebih dulu dijarah lelaki lain, alias tidak suci lagi. Maka, jika kehormatan itu dipandang melekat pada kesucian perawan, nista apa lagi bandingannya yang dapat ditanggung suami yang merasa tertipu pada malam pengantinnya?

    Dalam adat Batak, setidaknya menurut novel ini, dalam pesta adat perkawinan, tetua keluarga memberi nasehat dan restu. Lalu seorang nenek memberi sehelai kain putih. Kain itu untuk membuktikan kesucian pengantin perempuan. Jika pengantin itu ternyata tidak suci lagi, dia dapat dikembalikan ke rumah orangtuanya. Dan perempuan itu pun akan memperoleh cela sepanjang umurnya di tengah masyarakat adat Batak (apakah adat ini masih berlaku sampai sekarang, saya tak tahu –KA).

    Konflik batin Budiman terjadi. Ia lalu bercerita pada Vita. “Sekarang kau paham, Vita? Lelaki yang menjadi suami kakakmu itu telah melindungi kehormatan nama keluarga kalian sekian tahun. Dia menelan sendiri nista itu, sehingga tak seorang pun mencibir keluarga kalian. Dapatkah kau membayangkan jika dia meretur kakakmu ke rumah kalian yang sempit itu? Secara adat, dia berhak melakukan itu. Setiap orang Batak akan memuji tindakannya dan akan menghinakan keluarga kalian. Sanggupkah kau menahankan itu?”

    Tapi surat atau telegram Vita yang menceritakan kekejaman dan kebiadaban Sopar akhirnya membuat Budiman tak tahan. Sopar bahkan beberapa kali berusaha merenggut kesucian Vita. Ia diselemuti rasa bersalah sekaligus ingin bertanggung jawab. Ia berangkat ke Medan. Ia ingin menyelematakan Vani. Ia siap menikahi Vani, memelihara ketiga anaknya, dan menjaga Vita. Budiman datang ke rumah Vani dan menganjurkan agar dia meminta cerai. Bahkan Budiman datang ke kantor Sopar agar dia mau menceraikan Vani. Keduanya menolak. Tentu dengan alasan yang berbeda-beda. Akhirnya Vani meminta agar Budiman membawa Vita saja keluar dari rumah itu.

    Singkat cerita, Budiman dan Vita berangka ke Jakarta. Budiman merasa tidak mungkin mengajak Vita ke Yogyakarta. Dia masih bujangan dan tak punya pengalaman mendidik remaja putri. Ia menitipkan Vita di rumah sahabatnya (Bokar), wartawan majalah hiburan dan asisten sutradara film, di Jakarta. Budiman yang membayar biaya pemondokan dan uang sekolahnya. Budiman meneruskan kehidupannya di Yogyakarta.

    Enam bulan kemudian,  Bokar yang datang ke Yogya untuk hunting lokasi, mengabarkan bahwa Vita sekarang sudah mulai jadi fotomodel. Wajahnya mulai sering tampil di sampul depan dan isi majalah hiburan. Bokar dan Budiman menuju Jakarta. Hingga suatu malam Budiman dan Vita punya kesempatan untuk bicara berdua di Ancol.

                “Kenapa dulu Abang tidak membawaku ke Yogya?” tanya gadis itu tiba-tiba.

                “Kupikir di sini kau bisa sekolah lebih baik. Kan sudah pernah kubilang. Aku masih bujangan. Aku tak punya pengalaman mengurus anak perempuan.”

                 “Abang tak menyukaiku!” suara Vita ketus.

                “Kenapa kau bilang begitu?”

                 “Sebenarnya Abang mengangap aku sebagai beban.”

                 “Ah, tidak.”

                  “Iya. Aku tahu persis. Abang hanya ingin berbuat baik pada Kak Vani. Bukan kepadaku. Aku cuma objek agar Abang bisa berbuat baik.”

                 Budiman terdiam. Selanjutnya Vita bercerita, “Ketika meninggalkan Medan, antara aku dan Kak Vani sudah ada kesepakatan. Aku akan menjadi istrimu.”

    Budiman tesentak. Bahkan terperangah. “Tapi ternyata aku ditinggalkan di Jakarta. Bulan demi bulan berlalu. Surat-suratmu yang membalas suratku selamanya memperlalukan aku sebagai anak kecil.....” Tapi Vita tak ingin mengecewakan Budiman Ia tetap sekolah. Sebentar lagi ujian akhir. “Tapi, selain itu, apa salahnya aku menempuh jalan yang kuinginkan?” katanya.  Karier Vita sebagai fotomodel memang terus menanjak.

    Nah, mulai dari sinilah pandangan hidup, sikap etis Budiman,  muncul. Melalui dialog-dialog yang panjang Budiman mengutarakan pendapatnya. Budiman tidak mempermasalahkan pilhan karier Vita, jika itu memang dianggapnya cocok untuknya. “Tapi lain soalnya kalau hanya menganggap karier itu sebagai jalan untuk menuju kehidupan mewah gemerlap. Aku akan mempermasalahkan diriku sendiri, jika kau mempertaruhkan dirimu, kehormatanmu, kesucianmu, untuk mengejar hidup gemerlapan. Aku mempermasalahkan diriku, sebab aku muskin, aku tak mampu memberikan kemewahan padamu,” kata Budiman.

                         “Aku akan ikut bangga kalau kau berprestasiu sebagi artis,” kata Budiman lagi. “Dan akan lebih bangga lagi, jika satu saat kau bertemu laki-laki yang kau cintai, kau tetap punya harga diri. Harga diri yang berasal dari kehormatanmu, kesucianmu, bukan dari kekayaan material. Harga diri yang berasal dari kekayaan cuma palsu. Orang hanya menghargai kekayaan itu, bukan diri pemiliknya. Tapi kalau kau memiliki kesucian diri, kapan pun, di mana pun, orang akan tetap menghargaimu.”

    Dialog di antara keduanya terus belangsung, sampai akhirnya mereka kembali ke pemondokan Vita. Budiman kembali ke Yogya. Melalui surat, Budiman bangga bahwa Vita akhirnya lulus SMA. Tak lupa Budiman memberi beberapa nasehat kepada Vita. Novel ini kemudian ditutup dengan gumam Budiman pada diri sendiri, semacam solilokui, tentang  gadis masa lalunya dan gadis masa kininya.                 

                                                                            ***

    Nasihat-nasehat Budiman, pada intinya, tidak ingin Vita menjadi materialistis dan hedonis, yang semata mengejar kenikmatan. Hedonisme adalah pandangan yang menenpatkan kesenangan sebagai ukuran baik-buruknya perbuatan. Dua tokoh yang berpandangan seperti itu adalah Aristippos dan Epikuros. Meski ada beberapa perbedaan penekanan, keduanya mengangungkan kesenangan dalam hidup. Keduanya menempatkan kesennagan, kenikmatan sebagai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari hakekat manusia. Kritik terhadap pandangan ini adalah bahwa tidak mungkin orang mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya hanya dengan mencari nikmat saja. Kesenangan, kenikmatan, tidak selalu identik dengan kebaikan. Hedonisme hanya mengungkapkan satu dimensi saja dari hakekat manusia.

    Budiman ingin agar Vita tahu persis apa yang menjadi pilihannya. Ia harus berkeja sungguh-sungguh dan bertangung jawab terhadap pilihanya itu. Ia ingin agar Vita menjadi besar di dunia fotomodel karena karyanya. Kehadirannyadi dunia fotomodel harus bisa menjadi standar di dunia itu. Bukan sekadar embel-embel.

    Nasehat-nasehat Budiman pada Vita ini sesekali mengingatkan saya pada gagasan pokok Aristoles, terutama pada etika keutamaannya. Menurut Aristoteles, apapun tindakan manusia selalu memiliki tujuan tertentu. Tetapi tujuan yang paling luhur dan utama bagi manusia dalam bertindak adalah mendapatkan kebahagiaan. Bukan kesenangan atau kenikmatan. Karena kesenangan tidak dengan sendirinya melahirkan kebahagiaan. Kebahagianlah yang membawa kesenangan. Dan sumber kebahagiaan itu ada di dalam diri manusia sendiri. Jika kesenangan datang dari luar diri manusia, maka kebahagiaan datang dari dalam diri manusia. Kesenangan bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan bertahan lebih lama, karena ia ada di dalam diri manusia. Orang yang bahagia adalah mereka yang menjalankan fungsinya dengan baik, dan dalam menjalankan fungsinya itu ia melibatkan pertimbangan akal budi dan nilai-nilai moral.

    Wah, sudah panjang ya. Jadi saya cukupkan sampai di sini dulu. Intinya, novel ini cukup menarik dan enak dibaca. Dan jelas, ini bukan sekadar novel pop biasa. Ini kisah percintaan yang berbalut adat Batak, dan di sana-sani ada hal-hal yang bisa menjadi renungan tersendiri.                  

                  

                                                                        ###

                 

    Ikuti tulisan menarik atmojo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.