Saya Egois! - Analisis - www.indonesiana.id
x

Nurani

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 19 Juli 2022 09:11 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Saya Egois!

    Di dunia ini, atau di negeri ini, bila mereka tidak egois, tentu tidak ada orang/rakyat yang menderita.

    Dibaca : 477 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berhadapan dengan orang egois, sesabar, sekuat apa pun bantuan, dan upaya untuk menjaga harga dirinya, agar tetap dihargai, dapat dimengerti, sampai rela berkorban, tak akan mempan bila pikiran-hati sudah bercabang dan berduri, ujungnya malah membuka aib sendiri, berbalik menyakiti. (Supartono JW.18072022)

    Di dunia ini, atau di negeri ini, bila "mereka" tidak egois, tentu tidak ada orang/rakyat yang menderita.

    Egois. Tentu pernah hinggap dalam diri setiap manusia. Hanya, kadarnya berbeda. Ada juga yang mampu mengendalikannya, sehingga tak nampak egoisnya. Yang pasti, sifat dan sikap egois tentu akan selalu hinggap di pikiran dan hati manusia.

    Orang-orang yang cerdas dan terdidik, biasanya akan mampu mengendalikannya. Namun, orang yang licik, akan menjadikan sifat dan sikap egois senjata untuk dirinya, demi menang atas semua yang dianggap, merendahkan, melecehkan, membully, melawan, menentangnya, dan sejenisnya.

    Dalam KBBI, egois adalah orang yang selalu mementingkan diri sendiri dan penganut teori egoisme.

    Egoisme merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk orang yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat.

    Dari berbagai literasi dan ilmu psikologi, banyak teori, latar belakang, tujuan, sasaran, alasan, mengapa orang jadi egois. Dan banyak pula nasihat dan arahan bagaimana agar seseorang tidak egois, sembuh dari egoisme.

    Tetapi, dalam kenyataannya, banyak orang lain menganggap orang lain egois, tanpa sadar apa yang dilakukannya juga tindakan egois.

    Sering kali orang yang mampu mengendalikan emosi karena cerdas otak dan kepribadian, maka ketika tahu dan sadar berhadapan dengan orang-orang yang egois, baik itu orang lain, teman, sahabat, keluarga, anak, suami, istri, dll, maka sikapnya akan sabar dan berupaya untuk meredam serta menjaga agar suasana tidak semakin keruh.

    Sebab, biasanya, orang-orang yang egois akan selalu merasa menang, merasa benar, yang salah adalah orang lain. Karenanya, biasanya, orang egois itu tak cerdas otak dan kepribadian, hingga sering kali, karena sifat dan sikap egoisnya, perbuatan yang mempermalukan diri sendiri, membuka aib sendiri, aib teman, sahabat, keluarga, anak, suami, istri pun diobral murah dalam saat diingatkan, dikasih tahu, dinasihati.

    Orang egois akan terus menimpakan kesalahan pada orang lain. Saat ditegur dan diiingatkan, justru akan berbalik lebih galak dan marah. Karena, kebenaran itu=dirinya. Orang lain=kesalahan. (Supartono JW.18072022)

    Apakah saya tergolong orang egois? Saya pasti tahu jawabnya. Mau lihat orang egois? Berserakan! Dari rakyat jelata sampai para elite partai dan pemimpin di negeri ini, pasti rakyat dapat mengidentifikasi.

    Apakah saya, egois? Tanya diri sendiri. Mengapa saya bisa egois? Apa masalahnya? Apa alasannya?@ Yah, terkadang berhadapan dengan orang egois, sesabar, sekuat apa pun bantuan, dan upaya untuk menjaga harga dirinya, agar tetap dihargai, dapat dimengerti, sampai rela berkorban, tak akan mempan bila pikiran-hati sudah bercabang dan berduri, ujungnya malah membuka aib sendiri, berbalik menyakiti.

    Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.