x

Surya Paloh dan Anies Baswedan Berpelukan. Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh memeluk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan saat pengumuman deklarasi Calon Presiden Republik Indonesia 2024 di Nasdem Tower, Jakarta, Senin, 3 Oktober 2022. Partai Nasdem resmi mendeklarasikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) yang akan diusung pada Pilpres 2024 mendatang. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 4 September 2023 10:24 WIB

Anies Tumbang Sebelum Berlaga

Mampukah Anies mempertahankan asosiasinya dengan ikon perubahan ataukah dengan menerima penjodohan dengan Muhaimin sesungguhnya ia telah ditumbangkan, bahkan sebelum proses pemilihan presiden dimulai?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sejak menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan telah menunjukkan karakternya sebagai pemimpin yang tidak mudah goyah oleh terpaan badai. Berbagai upaya untuk menjatuhkannya terus-menerus berlangsung sepanjang masa jabatannya. Tapi, Anies mampu bertahan hingga masa jabatannya selesai. Masyarakat pada umumnya juga berpandangan positif atas kinerjanya.

Ketika kemudian Anies diusung oleh Surya Paloh bersama Nasdem-nya, banyak pihak yang mengharapkan perbaikan merasa menemukan figur yang dapat membawa angin perubahan. Keberanian Paloh untuk mengambil jalan yang berbeda dari arus-utama politik, yang berporos pada Presiden Jokowi, menjadi tumpuan harapan pihak yang ingin melihat persoalan bangsa dari perspektif yang baru dan segar.

Boleh dikata, harapan banyak pihak demikian tinggi kepada Anies. Bergabungnya PKS dan Demokrat untuk membentuk aliansi dengan Nasdem menguatkan karakter yang diusung, yaitu perubahan—sebuah pilihan yang melawan arus utama. Ikon perubahan (untuk persatuan) diusung sebagai pembeda, sebagai tawaran alternatif terhadap arus utama, yang bagi banyak pihak telah keliru jalan kendati didukung lebih banyak elite politik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dalam waktu cukup lama, penentuan bakal calon wakil presiden menjadi isu krusial yang tidak kunjung menemukan titik temu. Entah apa yang sesungguhnya terjadi dalam koalisi tiga partai yang dari luar terkesan baik-baik saja itu. Entah apa yang sedang berlangsung di dalamnya hingga akhirnya gempa politik terjadi tatkala nama Muhaimin Iskandar muncul sebagai pendamping Anies Baswedan.

Hingga saat ini belum jelas benar apa yang sesungguhnya terjadi. Mengapa Surya Paloh dan Anies Baswedan tidak membicarakan lebih dulu nama Muhaimin dengan partai koalisi? Apakah Paloh menghadapi tekanan kuat sehingga ia tidak punya pilihan kecuali menerima Muhaimin? Begitu pula Anies? Atau benarkah penerimaan terhadap nama Muhaimin merupakan hasil kalkulasi politik bahwa bergabungnya PKB akan mampu meningkatkan perolehan suara elektoral yang menguntungkan Anies dan Nasdem? Benarkah pula ini sepenuhnya inisiatif Paloh?

Andaikan Paloh mengambil langkah menerima Muhaimin karena tekanan, siapa yang mampu melakukannya? Demi kepentingan siapa Paloh mengambil langkah krusial yang ia tahu berpotensi memecah koalisi—baik karena nama yang dipilih sebagai pendamping Anies maupun caranya menetapkan. Itu semua masih misteri, setidaknya hingga saat ini.

Bila pilihan atas Muhaimin dengan mengorbankan Demokrat itu merupakan hasil kalkulasi, bagaimana jika hal sebaliknya yang terjadi, yakni banyak calon pemilih yang kemudian meninggalkan Anies karena kecewa? Seberapa kuat arus balik ini bergantung kepada seberapa besar warga masyarakat yang memandang langkah Paloh tersebut sebagai pertanda merosotnya standar etika politik kaum elite. Walaupun, mungkin saja, sebagian warga masih memandang langkah itu sebagai 'politik biasa' dan tidak melampaui batas, atau mereka tidak peduli apapun yang dilakukan politikus. 

Ada sudut pandang lain, yang barangkali agak usil: mungkinkah penjodohan Anies dan Muhaimin merupakan cara untuk menggerogoti Anies? Setidaknya, penjodohan ini telah menggerus modal utama yang ia tonjolkan, yaitu karakter kepemimpinan perubahan yang telah ia bangun selama ini. Ketika karakter kepemimpinannya tergerus oleh peristiwa ini, masih mampukah ia bersama Muhaimin meraih keunggulan? Ataukah sesungguhnya Anies telah tumbang, bahkan sebelum proses pemilihan presiden dilangsungkan, sebab ia tak lagi dipandang memiliki karakter yang berbeda dari elite politik lainnya? Masih layakkah ia menampilkan diri sebagai ikon perubahan? Bagaimana ia akan bangkit dari tantangan ini? >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler