x

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep bersiap menggelar rapat perdana dengan sejumlah jajaran pengurus PSI di Gedung DPP PSI, Jakarta, Selasa, 26 September 2023. Kaesang Pangarep memimpin rapat perdana pasca dirinya ditetapkan sebagai ketua umum PSI. Rapat tersebut rencananya akan membahas mengenai berbagai evaluasi dan rancangan strategi menghadapi Pemilu 2024. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 4 Desember 2023 18:55 WIB

Pemimpin, kok, Tidak Melek Sejarah Bangsanya

Tanpa memiliki kesadaran sejarah bangsanya, seorang anak muda masa kini tidak akan mampu memahami keadaan masa sekarang dengan jauh lebih baik. Tanpa berbekal kesadaran sejarah, seorang pemimpin masyarakat tidak akan mampu menyimpulkan bahwa situasi masa lampau yang buruk itu tidak boleh terulang kembali saat ini. Ia akan jadi pemimpin yang kebingungan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apakah karena lahir dan hidup di zaman milenial, anak muda Indonesia (merasa) tidak perlu lagi mengetahui sejarah bangsanya, sehingga terucap kata-kata, “Aku tidak tahu tentang masa itu, aku kan masih kecil waktu itu.” Apabila kata-kata seperti itu terlontar bukan dari lisan pemimpin tertinggi sebuah partai politik, masyarakat mungkin masih dapat memaklumi. Menjadi tanda tanya bagi masyarakat bagaimana mungkin seorang petinggi partai politik tidak memiliki kesadaran sejarah bangsanya secara memadai.

Usia muda semestinya bukan alasan bagi seseorang yang sudah mau menerima jabatan tinggi dalam organisasi kemasyarakatan, khususnya partai politik, untuk tidak melek sejarah. Banyak anak muda yang bukan anggota partai politik, bahkan bukan petinggi partai, justru memiliki kesadaran sejarah begitu tinggi. Anak-anak muda ini bukan hanya tahu, tapi memahami apa yang terjadi pada bangsanya di masa lampau—sejarah di masa Orde Baru yang belum lama berlalu, sejarah di masa Orde Lama, sejarah di seputar tahun-tahun kemerdekaan, sejarah di masa 1920-an dan di awal abad 20, bahkan sejarah di abad-abad sebelumnya yang diwarnai perlawanan lokal di berbagai wilayah Nusantara.

Orde Baru adalah periode terdekat bagi generasi muda sekarang—khususnya yang saat ini masih berusia di bawah 30 tahun. Akses terhadap berbagai informasi yang berlimpah tentang periode ini mestinya mudah diperoleh karena ketersediaan koneksi jaringan internet dan sumber-sumber informasi yang pada umumnya terbuka bagi publik. Karya tulis yang dihasilkan oleh sejarawan, ilmuwan sosial, maupun ilmuwan politik sangat banyak. Untuk dapat memahami apa yang terjadi selama Orde Baru, seorang warga tidak harus pernah hidup pada usia dewasa saat itu. Kuncinya ialah literasi sejarah, yang kemudian akan membawa seseorang kepada kesadaran sejarah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hanya kesadaran sejarah yang membuat seorang warga mampu merasakan apa yang sedang terjadi di masyarakatnya. Hanya warga yang sadar sejarah yang mampu memahami bahwa ada sesuatu yang keliru ketika peristiwa-peristiwa tertentu terjadi. Ketika seorang warga yang pernah hidup di zaman susah dan tertekan di waktu yang lampau, nurani dan pikirannya akan segera merespons bila keadaan serupa kembali terjadi di masa sekarang. Ingatannya otomatis tertaut dengan pengalamannya di masa lalu. Tapi apakah seorang warga harus mengalami sendiri masa lampau itu untuk memiliki kesadaran sejarah? Jawabnya ‘tidak’, sebab ia dapat membaca karya-karya sejarah.

Untuk dapat menangkap aura kesusahan dan ketertekanan, seorang warga tidak mesti harus pernah mengalami masa itu. Dengan membaca karya-karya sejarah—baik dalam konteks dan perspektif politik, kekuasaan, ekonomi, maupun yang lain, mula-mula ia akan memperoleh pengetahuan tentang apa yang dialami masyarakatnya di masa lampau. Setelah itu, jika ia mampu mengembangkan pemahaman atas sejarah tersebut dengan baik, akan tumbuh dalam dirinya kesadaran mengenai sejarah bangsanya. Kesadaran sejarah ini akan menggerakkan aksinya di tengah masyarakat.

Tanpa berbekal kesadaran sejarah bangsanya, seorang anak muda masa kini tidak akan mampu memahami keadaan masa sekarang dengan jauh lebih baik. Tanpa berbekal kesadaran sejarah, seorang pemimpin masyarakat tidak akan mampu menyimpulkan bahwa situasi masa lampau yang buruk itu tidak boleh terulang kembali saat ini maupun di masa mendatang karena berbagai alasan. Apa lagi jika anak muda itu sudah memutuskan terjun ke dunia politik, yang berarti ingin menjadi pemimpin bagi masyarakatnya. Tidak boleh tidak, ia harus membuka mata dan memiliki literasi yang cukup mendalam mengenai masa lampau bangsanya agar ia tahu ke arah mana harus mengajak bangsanya berjalan. Apabila ia tidak memiliki kesadaran yang mendalam mengenai sejarah bangsanya, bagaimana mungkin ia mampu menunjukkan jalan yang harus ditempuh bangsa ini menuju kemaslahatannya. Boleh jadi, ia akan membawa masyarakatnya melalui jalan yang menyengsarakan. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu