Faktor Religius dalam Pemulihan Pasca-trauma Konflik Bersenjata

Rabu, 13 Desember 2023 13:02 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Agama dapat menjadi strategi yang efektif, memberikan kenyamanan, ketahanan, dan pertumbuhan pascatrauma konflik.

Di seluruh dunia, konflik bersenjata dan krisis kemanusiaan masih menjadi masalah yang sangat serius. Daerah seperti Timur Tengah, beberapa wilayah di Afrika, dan bagian lain dari dunia telah mengalami konflik yang berkepanjangan, yang berdampak pada jutaan orang. Situasi ini sering mengakibatkan kerusakan luas, pengungsian massal, dan trauma yang mendalam bagi penduduk sipil yang terlibat.

Dampak konflik bersenjata terhadap kesehatan mental individu yang terlibat telah menjadi fokus penelitian dan perhatian internasional. Isu-isu seperti PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder), depresi, dan kecemasan sering kali menjadi dampak umum dari pengalaman traumatis ini.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Agama dan spiritualitas memainkan peran penting dalam kehidupan banyak orang di seluruh dunia. Di tengah krisis, banyak individu sering kali berpaling ke keyakinan agama atau spiritualitas mereka sebagai sumber dukungan, ketahanan, dan pencarian makna.

Dalam konteks sosial dan budaya tertentu, agama dapat memiliki pengaruh signifikan dalam cara individu menginterpretasikan dan menghadapi trauma.

Psikologi positif, yang fokus pada aspek-aspek positif dari pengalaman manusia, telah menyoroti konsep pertumbuhan pascatrauma (PTG). PTG mengakui bahwa individu dapat mengalami perubahan positif sebagai akibat dari perjuangan mereka dengan peristiwa traumatis.

Ini menjadi penting dalam konteks trauma yang disebabkan oleh konflik bersenjata, di mana individu sering mencari cara untuk membangun kembali kehidupan mereka dan menemukan makna baru setelah trauma.

Studi tentang kesehatan mental, trauma, dan agama menjadi semakin interdisipliner, menggabungkan pandangan dari psikologi, sosiologi, teologi, dan studi perdamaian dan konflik. Memahami bagaimana faktor-faktor ini berinteraksi sangat penting untuk mengembangkan pendekatan terapi dan dukungan yang efektif bagi mereka yang terkena dampak konflik.

Di era digital dan informasi, penyebaran dan akses terhadap informasi tentang konflik dan dampaknya menjadi lebih mudah. Ini juga menciptakan kesadaran global yang lebih besar mengenai isu-isu ini.

Namun, ini juga menimbulkan tantangan dalam hal misinformasi, dan bagaimana media dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap konflik dan kesehatan mental.

Memasuki diskusi artikel "Role of religion in posttraumatic growth among population exposed to armed conflict", konteks-konteks ini membantu kita memahami pentingnya topik tersebut dalam skenario global saat ini, dan bagaimana pemahaman tentang peran agama dalam PTG dapat memberikan wawasan yang berharga untuk mendukung individu yang terkena dampak konflik bersenjata.

Artikel yang ditulis oleh Irfan Fayaz di Jurnal Mental Health, Religion and Culture itu merupakan sebuah tinjauan sistematis yang mengkaji peran agama dalam pertumbuhan pascatrauma (Posttraumatic Growth, PTG) pada individu yang terpapar konflik bersenjata. 

Artikel tersebut berfokus pada hubungan antara kesehatan mental dan kekerasan pada orang dewasa, dengan penekanan khusus pada dampak konflik bersenjata terhadap kesejahteraan psikologis. Trauma akibat konflik bersenjata dapat mengganggu keyakinan dasar individu dan mempengaruhi sistem kepercayaan inti mereka.

Konsep PTG mengacu pada perubahan positif yang dialami individu sebagai hasil dari perjuangan dengan peristiwa traumatis. PTG telah diamati pada individu yang mengalami berbagai peristiwa traumatis, termasuk bencana alam, konflik militer, dan kekerasan.

PTG bisa meliputi perubahan dalam persepsi diri, perubahan dalam hubungan dengan orang lain, dan perubahan dalam keyakinan agama atau spiritual. Agama dan spiritualitas sering dianggap sebagai sumber daya penting dalam menghadapi trauma dan dapat mendukung pertumbuhan pascatrauma.

Fayaz mengeksplorasi bagaimana agama dapat memberikan kerangka kerja untuk pencarian makna, dukungan sosial, mekanisme koping, dan ketahanan dalam menghadapi trauma. Ia melakukan tinjauan sistematis menggunakan pedoman PRISMA, dengan fokus pada literatur yang membahas trauma akibat konflik bersenjata dan PTG.

Ditemukan bahwa penelitian tentang peran agama/spiritualitas dalam PTG pada korban konflik bersenjata masih jarang dibandingkan dengan trauma lainnya.

Beberapa penelitian mengidentifikasi hubungan positif antara komitmen agama dan strategi koping agama dengan PTG. Ditemukan bahwa orang yang mengalami trauma akibat konflik bersenjata dapat mengembangkan keyakinan agama yang lebih kuat.

Agama dapat menjadi strategi koping yang efektif, memberikan kenyamanan, ketahanan, dan pertumbuhan pascatrauma. Temuan ini memberikan wawasan tentang bagaimana keyakinan agama dan praktik keagamaan dapat memainkan peran penting dalam mendukung ketahanan, pencarian makna, dan pertumbuhan pascatrauma.

Fayaz menyarankan pentingnya mengakui dan mendukung dimensi agama dalam perjalanan penyembuhan individu untuk memfasilitasi kesejahteraan psikologis mereka dan pemulihan. Ia menyoroti hubungan signifikan antara PTG dan agama di antara individu yang terpapar konflik bersenjata, menunjukkan bahwa agama dapat memfasilitasi PTG dengan menyediakan kerangka kerja untuk pencarian makna, dukungan sosial, dan mekanisme koping.

Diperlukan studi lebih lanjut untuk membedakan antara agama dan spiritualitas serta untuk mengembangkan alat ukur yang lebih tepat dalam menilai kontribusi keduanya terhadap pengalaman pertumbuhan pasca trauma. Namun minimal ini bisa memberikan wawasan penting tentang peran agama dalam mendukung individu yang menghadapi trauma, khususnya dalam konteks konflik bersenjata.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Yan Okhtavianus Kalampung

Narablog dan Akademisi

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua