x

Ilustrasi Patung Liberti. Gambar oleh NoName_13 dari Pixabay

Iklan

idrus f shahab

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 5 April 2024 06:12 WIB

Amerika (Tidak) Berubah

Betapa berat beban Amerika Serikat menghadapi kelakuan Israel yang belakangan ini bukan saja semakin nakal, tapi sudah kriminal. Fanatik membela Israel dengan bantuan militer dan diplomatik yang tak kepalang tanggung telah membuat adikuasa tersebut terasingkan dari kemanusiaan, keadilan, bahkan dari rakyatnya sendiri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Amerika (Tidak) Berubah

Betapa berat beban Amerika Serikat menghadapi kelakuan adiknya yang belakangan ini bukan saja semakin nakal, tapi sudah kriminal. Fanatik membela sang adik dengan bantuan militer dan diplomatik yang tak kepalang tanggung telah membuat adikuasa tersebut terasingkan dari kemanusiaan, keadilan, bahkan dari rakyatnya sendiri.

Sulit untuk menolak anggapan bahwa serangan balasan sang adik, Israel, ke Jalur Gaza atas serangan Hamas 7 Oktober 2024 bukan merupakan ethnic cleansing atau sebentuk kejahatan kemanusiaan. Lembaga-lembaga Kesehatan setempat menyodorkan data: 32.000 warga Gaza tewas, sementara angka kematian akibat kelaparan dan penyakit naik tajam –melampaui saat Perang Dunia II, menurut surat kabar The Guardian. 

Boleh jadi, situasi yang tak menguntungkan inilah yang membuat Amerika Serikat mengambil langkah di luar dugaan, awal minggu ini. Dalam rapat Dewan Keamanan PBB, keadaan lumayan genting. Ada 10 anggota Dewan yang mendesakkan resolusi untuk segera memberlakukan gencatan senjata, pembebasan terhadap semua sandera dan kepastian bantuan kemanusiaan cepat  sampai ke tangan warga Gaza. Tak ada waktu lagi, apalagi ummat Islam tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan –sementara itu pesawat-pesawat tempur Israel terus menggempur sasaran empuk: rakyat sipil. 

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selama ini, tiada yang bisa menahan laju Israel. Pemerintahan ultranasionalis -  ekstrem kanan Netanyahu yang secara agresif mendorong pembangunan pemukiman Yahudi di kantong-kantong Arab Palestina di Tepi Barat, kini mendesak para pengungsi Gaza bergerak ke perbatasan Rafah --yang bertetangga langsung dengan Mesir. Tampaklah bahwa rezim ekstrem kanan ini sama sekali tidak berminat pada perdamaian model two state solution yang selama ini digadang-gadang masyarakat internasional. Suka atau tidak, semua ini akan bermuara pada penyelesaian one state solution di mana Israel menguasai seluruh wilayah Palestina. Termasuk Gaza. Dari langkah yang agresif ini lahirlah kolonialisme modern yang tegak dengan sistem apartheid di Tepi Barat dan Gaza.

Dalam pesannya, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan: kegagalan untuk menerapkan resolusi ini adalah kesalahan yang “tak bisa dimaafkan.” Hasilnya, 14 anggota Dewan Keamanan menyetujui resolusi, dan  kali ini Amerika Serikat yang biasa memveto segala keputusan yang mencederai kepentingan Israel itu memilih abstain. Sang adik yang sudah basa dimanja dengan perlidungan tak terbatas sang kakak pun meradang keras. Pengkhianatan kata mereka.

Israel seperti memiliki privilese untuk tidak dinilai menurut ukuran masyarakat internasional. Sejak 1945, Amerika telah menggunakan 89 kali veto – 45 veto di antaranya untuk melindungi Israel dari resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengutuk atau mengecam tindakan atau sikap Israel yang tak mengindahkan hak asasi orang Palestina. Kalaupun itu sampai lolos --ini sangat jarang terjadi-- Amerika tetap melindungi Israel yang mengabaikan resolusi. Israel telah menjadi negara yang sukar mendengarkan pendapat yang berbeda dengan kepentingannya.

Diakui atau tidak, perubahan sikap terakhir Amerika Serikat dalam sidang di Dewan Keamanan tidak bisa dianggap kecil. Namun, menaruh harapan  terlampau besar atas perkembangan ini juga merupakkan satu sikap yang tidak realistis. 

Bagaimana pun juga, 99 persen dari impor senjata Israel yang dipakai di medan perang Gaza berasal dari Amerika Serikat dan Jerman. Tanpa mengaitkan pengiriman senjata dengan syarat penghargaan terhadap hak asasi manusia dan akses terhadap bantuan kemanusiaan di Gaza, perubahan sikap ini tak berarti apa-apa. Dari persyaratan inilah, kita bisa memastikan apakah Amerika Serikat mempraktekkan standar ganda atau tidak.

 

Ikuti tulisan menarik idrus f shahab lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler