Remy Sylado: Proses Kreatif, Tren, dan Otak Porno

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Remy Sylado berbagi pengalaman proses kreatif dan mengisahkan tentang karya terbarunya Perempuan Bernama Arjuna.

Sebelum dikenal luas sebagai Maestro seperti sekarang ini, Remy Sylado juga pernah mengawali karirnya dengan cukup prihatin. Menjadi seorang wartawan dengan gaji pas-pasan, mengelola majalah Aktuil dengan bermodal kreativitas, hingga akhirnya menjadi seorang penulis mapan yang disegani karena kecapakannya berbahasa Indonesia dan kejeliannya mengolah tema.

 

Pada Jumat, 22 Agustus 2014, Remy Sylado menjadi pembicara diskusi rutin yang digelar setiap hari Jumat di Kantor Redaksi Penerbit Nuansa Cendekia Bandung. Dalam diskusi santai itu, Remy Sylado berbagi pengalaman proses kreatif dan mengisahkan tentang karya terbarunya Perempuan Bernama Arjuna. Berikut adalah beberapa hal yang menarik untuk disimak dari diskusi bersama Sang Maestro.

 

Remy Sylado menceritakan pengalaman hidupnya di Bandung di era 1960-1970an. Ia sempat menjadi wartawan dengan gaji yang pas-pasan. “Saat itu gaji di majalah Aktuil sebagai wartawan cuma Rp 4.000. Sekalipun uang itu lazim untuk ukuran saat itu, tetapi sebagai wartawan masih sangat kurang. Mau beli mesin ketik saja tidak ada. Perbandingan sekarang? Gaji wartawan pemula di Bandung sekarang, misalnya Rp 2,5 juta, maka sudah bisa beli komputer (minimalis),” tuturnya.

 

Majalah Aktuil yang pada masa awal beredarnya cenderung kurang diminati berhasil diubah oleh Remy dan kawan-kawannya menjadi produk media yang laku jual dan menjadi tren tersendiri. Menurutnya Remy, “Bagian redaksi juga tidak boleh sembarangan manakala membuat produk tulisan. Tidak semua tulisan yang berbobot dan bernilai ilmiah itu laku jual, kalau tulisan dan pengemasan jelek tetap sulit laku.” Dengan demikian, produk tulisan tetap harus bagus. “Pada akhirnya bagian marketing harus berperan lebih baik dalam menjual produk,” tambahnya.

 

Dalam sesi Tanya jawab, salah seorang peserta diskusi, Harno, bertanya, “Apakah pada era Pak Remy waktu itu sudah ada tren minat baca dengan buku-buku terkenal seperti sekarang ini?” Remy menjawab, “Ya sudah. Misalnya karya Motinggo Busye, ada judul Malam Jahanam, Badai Sampai Sore, Nyonya dan Nyonya, Malam pengantin di Bukit Kera, Hari Ini Tak Ada Cinta, dll.” Menurut Remy, “Motinggo Busye kala itu merupakan penulis yang produktif dan mampu menulis cepat serta menangkap kebutuhan tren generasi saat itu.”

 

Remy kemudian menyinggung soal tren dengan perkara kesenjangan sosial atau lebih tepatnya kesenjangan ekonomi. “Kesenjangan sosial di Bandung sejak dulu sangat tajam. Itu kenapa sering juga muncul konflik di tengah kota. Misalnya kelompok Minang dengan Sunda, dan Cina. Sebenarnya itu bukan soal etnik, tapi urusan ekonomi karena selalu muncul perdagangan dan pergaulan di wilayah ekonomi. Pengalaman percetakan baik di semarang maupun di Bandung saat itu masih dengan secara manual. Generasi sekarang sangat enak dengan teknologi modern. Dulu repotnya minta ampun, kalau ada koreksi harus dioret-oret secara manual di dekat mesin cetak.” Jelasnya.

 

Pertanyaan polos dari peserta lain, Mudris, “Apakah penulis harus mahir berbahasa? Dan bagaimana belajarnya supaya pinter seperti Pak Remy?” Degan mantap Remy menjawab, “Ya. Penulis yang tidak mahir berbahasa jangan jadi penulis. Minimal untuk menulis memang harus menguasai bahasa sekalipun tidak jadi pakar atau munsyi. Misalnya, untuk menjadi penulis itu harus menguasai perbedaan elementer. Kalau tidak bisa membedakan kata “di” untuk di tempat, dan “di” untuk dilakukan (tidak bisa memilah dan kapan memisah kapan menyatukan) itu jelas parah.”

 

“Mengapa para pelawak di Indonesia itu yang dominan sukses adalah pelawak dari Jawa?” Pertanyaan dari Andy, juga salah seorang peserta diskusi, mungkin di luar konteks kepenulisan. Namun, Remy tetap menjawabnya dengan antusias karena masih berkaitan dengan soal kreativitas, “Karena Jawa sudah lama memiliki tradisi perlawakan. Dari pewayangan sudah ada istilah Punakawan, Semar, Bagong, Petruk, Gareng yang sering mengisi humor di pewayangan. Karena tradisi itulah orang Jawa kemudian memiliki kelompok-kelompok seni humor, dan mampu mengisi ruang kesenian secara menonjol.”

 

Sementara itu pertanyaan terakhir dari peserta, Azis, adalah mengenai dwilogi Perempuan Bernama Arjuna (Filsafat dalam Fiksi dan Sinologi dalam Fiksi), “Novel Perempuan Bernama Arjuna kok seperti porno/vulgar?” Remy menjawabnya dengan tenang, “Coba sebut mana yang porno? Misalnya?” Peserta menjawab dengan tawa.

 

“Porno dengan seks itu berbeda. Tidak semua yang sifatnya biologis harus dianggap porno. Tidak ada yang porno dan vulgar dalam novel itu. Saya cerita ya, dulu saya pernah ditegur polisi di Bandung karena saat pementasan Drama ada istilah kontol. Terus dibilang, “jangan seronok seperti itu, tidak sopan,” kata polisi itu. Terus saya Tanya, “mestinya pakai apa dong?” Polisi itu menjawab, “ya misalnya pakai kemaluan”. Lho, saya langsung menjawab balik, ”justru lelaki yang tidak punya kontol itu yang memalukan.” Polisinya tertawa. Jadi tidak porno. Jangan-jangan yang baca novel saya menganggap porno itu otaknya justru sudah porno sebelumnya. Sedikit-dikit dianggap porno. Belum apa-apa sudah ngeres duluan.” Remy menerangkan tentang definisi porno dan vulgar. Meski terdengar seperti kelakar, penjelasannya cukup memuaskan peserta diskusi.

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Yopi Setia Umbara

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Gara-gara Berita Mesum

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Bandung Butuh Solusi Segera Atasi Kemacetan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua