Perang Kembang - Urban - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Perang Kembang

    Perang terdahsyat adalah pertarungan manusia dengan dirinya sendiri dalam mengendalikan hawa nafsu. Wayang menggambarkannya dalam perang kembang.

    Dibaca : 15.100 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Peperangan terdahsyat adalah peperangan melawan diri sendiri mengalahkan hawa nafsu. Di tiap perjalanan meraih harapan, di tengah usaha mencapai cita-cita, rintangan bukan saja dari luar, malah yang terberat adalah menaklukkan diri sendiri yang dilengkapi Tuhan dengan hawa nafsu. Pejuang sejati adalah yang mampu menaklukkan diri sendiri dan berhijrah, atau pindah, meninggalkan segala keburukan. Pejuang sejati berarti yang sanggup mengekang dan mengendalikan hawa nafsunya sendiri untuk tidak lagi dan lagi terjerumus dalam kesesatan. Perang Kembang adalah gambaran hal sama dalam pewayangan.

    Perang Kembang atau Perang Begal adalah adegan dalam wayang kulit maupun wayang orang yang menggambarkan pertarungan seorang kesatria melawan raksasa. Meski demikian, sesungguhnya ini simbol pertarungan manusia dengan dirinya sendiri. Perang Kembang tepat ada di setengah pagelaran. Pada pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, biasanya perang kembang tepat pada pergantian hari. Maknanya, seperti yang sudah tertulis di atas, bahwa di tengah perjalanan, godaan terbesar sering justru adalah nafsu diri.

    Jawa mengenal empat macam nafsu yaitu Aluamah, Supiyah, Amarah, dan Mutmainah kemudian digambarkan identik dengan tanah, api, angin, dan air sebagai pelengkap kehidupan.  Tanpa empat unsur itu, kehidupan seperti tidak dapat berjalan, namun pada kondisi tertentu yang tak terkendali, salah satu dari empat tadi mungkin juga menjadi perusak dahsyat kehidupan itu sendiri, pun nafsu-nafsu.

    Aluamah mewakili rasa memberontak, melawan, keberanian, menentang segala penghalang. Supiyah adalah trah manusia pada pemujaan, kemewahan, kesempurnaan, kemapanan. Amarah menggambarkan nafsu berpolitik, kecenderungan pada keunggulan, ego, dan olah pikir. Mutmainah dilambangkan air menjelaskan sisi manusia yang dilengkapi keinginan menghamba, taat, baik, dan patuh.

    Perang Kembang selalu dimenangkan oleh kesatria setelah pertarungan dahsyat, memuat harapan bahwa di tiap pertarungan melawan hawa nafsu, manusia harus bisa memenangkannya. Mungkin tepatnya manusia harus mampu mengendalikan keempat nafsu yang dikodratkan Tuhan melengkapi kehidupan demi mencapai keutamaan.

    Perang Kembang adalah adegan setelah gara-gara. Gara-gara sendiri adalah suatu bagian dalam pagelaran yang mengungkapkan kehancuran, bencana, kerusakan. Ini ujian dari luar seandainya kita ibaratkan wayang adalah perjalanan manusia. Cerita kehancuran akan dirangkai dengan keluarnya punakawan, yang sering ditampilkan mbanyol, melucu, terkesan tidak serius, sekedar selingan,tapi sejatinya letak hikmah-hikmah tercurah.

    Punakawan adalah gambaran suara hati pengingat sejatinya hidup atau fitrahnya manusia yang adalah kebajikan. Maka adegan gara-gara yang dirangkai penampilan panakawan semacam pengingat, bahwa saat-saat sulit, tidak perlu kita berduka dan terus memegang teguh hikmah. Cerita kehancuran dan lulucon panakawan dalam Gara-gara yang kemudian dirangkai Perang Kembang juga menyiratkan pesan bahwa dalam alur kehidupan, susah senang silih berganti. Lumrah pada sebuah perjalanan perjuangan mencapai keluhuran cita-cita, tiap manusia diuji gangguan dari luar (gara-gara) maupun dari pribadi berupa nafsu-nafsu (Perang Kembang).

    Selamat berjuang

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.