Masihkah Berharap pada OKI ?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Upaya pembebasan negeri-negeri mulsim melalui perundingan, sungguh tak pernah menyelamatkan tanah kaum muslim bahkan sebaliknya.

Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa OKI ke-5 yang digelar di Jakarta pada tanggal 6-7 Maret 2016 memang telah usai. KTT L uar Biasa OKI kali memang tengah membahas isu panas terkait Palestina dan negara penjajahnya Israel. Ada 6 hal yang diangkat dalam KTT Luar Biasa OKI, diantaranya masalah perbatasan Palestina yang semakin mengecil wilayahnya, pengungsi Palestina, masalah status kota Al-Quds, pemukiman Israel yang menggerogoti wilayah Palestina, masalah keamanan dan juga masalah distribusi dan akses air bersih.

OKI sendiri telah berdiri 47 tahun silam yang dilatarbelakangi reaksi pemimpin dunia Islam terhadap penyerobotan Israel atas masjid Al-Aqsa. Namun faktanya telah puluhan tahun, OKI terbukti tak mampu berbuat banyak untuk menghentikan penjajahan Israel atas Palestina. Padahal OKI adalah organisasi negeri-negeri Muslim yang seharusnya mampu berbuat lebih banyak dalam membantu Palestina sebagai sesama Muslim. Bukankah sesama Muslim bersaudara? Yang bisa dilakukan negara-negara Teluk sebagai bagian dari OKI hanyalah mengirimkan donasi, bantuan medis, dan bantuan kemanusiaan lainnya tanpa melakukan tindakan berarti atas Israel yang bisa menghentikan penjajahan dan pembantaian Israel atas Palestina. Bahwa upaya OKI untuk menyelesaikan masalah Palestina dengan negara penjajahnya-Israel- hanya dilakukan melalui dialog di meja perundingan, dan tak menghasilkan solusi  yang dapat menyelamatkan tanah Palestina dari kerakusan dan kekejian Israeil. Kalau sudah begitu jelas Palestina sebagai pemilik sah tanah 'usriyah dan masjid Al-Aqsa sebagai kiblat pertama umat  Islam menjadi pihak yang dirugikan.

Maka pantaslah dipertanyakan independensi negara-negara OKI dalam mengupayakan pembebasan negeri-negeri musim yang terjajah, bila fakta tak menunjukkan hal demikian. Beberapa negara anggota OKI seperti Yordania, Turki, Mesir justru menjalin kerjasama dengan Israel. Bahkan Presiden Mesir Abdul Fatah As-Sisi pernah menyerukan agar negara-negara Arab bekerjasama dengan Israel dengan dalih memerangi terorisme. Tak hanya itu, pemerintah Mesir malah menutup terowongan di wilayah Gaza sebagai jalur pemasok makanan dan obat-obatan. Yang juga mengherankan adalah kehadiran 4 orang negosiasi  Palestina-Israel dan 5 anggota DK PBB. Hal ini membuktikan bahwa OKI tak mampu lepas dari intervensi barat. Bukankah secara nyata PBB tak mampu berbuat banyak untuk Palestina? Kecuali hanya mengecam dan mengecam Israel tanpa mampu menjatuhkan sanksi terhadap kejahatan kemanusiaan yang sudah dilakukannya. Kalau sudah begitu bukankah setali tiga uang antara OKI dan PBB? Keduanya sama-sama tak bisa diharapkan memberikan solusi tuntas atas Palestina.

Secara fakta Israel telah merampas tanah Palestina dan mengusir penduduknya. Bahkan Israel telah membunuh warga Palestina termasuk anak-anak tak berdosa. Maka duduk bersama di meja perundingan bukanlah solusinya. Sebab bukankah dengan begitu kita sama saja membenarkan penjajahan Israel atas Palestina. Israel harus enyah dari bumi Palestina  sebagai pemilik sah tanah tersebut karena keberadaan mereka ilegal. Tentu ini tak mungkin mampu dilakukan kecuali oleh sebuah sistem Khilafah yang agung dan khalifah sebagai pemimpinnya yang akan menjadi tameng  dan pelindung kaum Muslimin. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

"Sesungguhnya Imam (Khalifah) laksana perisai, orang-orang yang berperang di belakang dia dan berlindung kepadanya" (HR. Muslim).

Semoga Allah SWT segera menghadirkan kepada kita seorang pemimpin yang akan mampu menjadi payung bagi kita dan menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan masalah Palestina. (Bogor, Nadiya).

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Erna Rushernawati

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Islam Mengancam Kebhinnekaan?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
img-content

Menanti Bukti dari Sebuah Janji

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua