x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Sikap Adil, Sisi yang Memudar

Ihwal fatsun ini layak untuk diingatkan kembali ketika caci maki, olok-olok, dan kabar palsu menciptakan polusi yang mengotori jagat politik di negeri ini.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

Kompetisi politik yang semakin mendekati puncaknya kian menyingkapkan watak manusia yang terlibat di dalamnya. Isu semacam ini barangkali tidak seksi bila disandingkan dengan politikus tersandung narkoba, atau saling ejek di antara kontestan capres dan timnya, ataupun trik-trik politik seperti yang dibeberkan oleh majalah Tempo edisi pekan ini.

Ketika watak memengaruhi perilaku seseorang dalam berpolitik, ternyata isu semacam ini dianggap pinggiran dan tidak seru. Namun begitu, kendati dianggap tidak seru, sesungguhnya sikap dan perilaku individu dan institusi memengaruhi proses-proses politik dan karena itu akan memengaruhi perkembangan demokrasi—apakah akan menuju kedewasaan ataukah mengulangi pementasan drama-drama politik yang sama tanpa pernah mencapai tataran kematangan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Beberapa tahun yang silam, Nurcholish Majid membahas isu-isu semacam ini di rubrik fatsoen tabloid politik Tekad, yang diterbitkan oleh harian Republika. Nurcholish mendiskusikan isu-isu terkait politik, tapi bukan pada ‘siapa membujuk siapa’ atau ‘gosip politik terpanas pekan ini’, melainkan mengenai etika, keadaban, tanggung jawab, serta perilaku politik orang-orang dan masyarakatnya. Karena itu, rubriknya dinamai Fatsoen.

Ihwal fatsun ini layak untuk diingatkan kembali ketika caci maki, olok-olok, dan kabar palsu menciptakan polusi yang mengotori jagat politik di negeri ini. Salah satu hal yang krusial dan nyaris pudar lantaran digerus oleh kepentingan politik untuk meraih kekuasaan adalah sikap adil kepada orang lain, terutama jika orang itu dianggap berada di seberang jalan.

Pepatah lama mengatakan: “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.” Betapapun besar kesalahan sendiri, kita cenderung menolak untuk mengakuinya. Kita berusaha keras menutupinya atau berkelit menampiknya. Sebaliknya, betapapun kecil kekeliruan orang lain, kita lebih suka melihatnya sebagai cacat yang harus dibongkar. Kita punya kegemaran untuk mengobok-obok, mengungkit, membesar-besarkan, dan menceritakan berulang kali kesalahan dan keburukan orang lain.

Di sisi lain, klaim kebenaran selalu dikemukakan, bahkan opini kerap terus dikumandangkan sehingga banyak orang kemudian menganggap opini itu sebagai kebenaran dan sebagai fakta yang benar adanya. Sebaliknya, fakta yang sebenarnya lenyap ditelan oleh tiupan opini yang disuarakan berulang-ulang dan berantai. Di era pasca-kebenaran (post truth), opini dianggap lebih penting ketimbang fakta.

Klaim kebenaran cenderung berdiri di atas keangkuhan diri dan menjadikan diri sendiri sebagai pusat (self-centric). Para elite masyarakat terlihat merasa senang bersikap seperti ini, menjadikan dirinya pusat perhatian, menganggap dirinya selalu benar. Sikap seperti ini membuat seseorang cenderung untuk tidak bisa bersikap adil terhadap orang lain, terlebih jika orang itu berada di seberang jalan.

Sikap tidak adil menghalangi mata kita untuk melihat adanya kebenaran di pihak lain dan untuk mengakui bahwa kita pun sangat mungkin keliru. Dikotomi ‘saya’ dan ‘dia’ atau ‘kita’ dan ‘mereka’ menjadikan sikap tidak adil semakin subur bermekaran di arena politik, khususnya. Para elite melontarkan olok-olok manakala melihat lawan politiknya melakukan kesalahan, bahkan jika perlu meng-geceg-nya sampai tak berdaya. Seakan-akan, memang harus seperti itulah adab berpolitik di zaman now, terutama jika ingin menang.

Padahal, Sang Mahapencipta sudah memperingatkan manusia sejak 14 abad yang silam: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah. Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Jelaslah, sikap adil bukan sekedar urusan hubungan antar manusia, tapi juga mengandung dan bahkan terutama memuat unsur spiritualitas. **

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler