x

Anak-anak SD Pelita Mutiara Parulian serius membaca buku fiksi

Iklan

dedy

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Agustus 2019

Jumat, 9 Agustus 2019 20:54 WIB

Jika Membaca Masih Payah, Literasi Menjadi Kunci

Jika kemampuan membaca anak semakin baik, akan semakin baik pula daya serap mereka terhadap pengetahuan dan mengelola informasi

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

HANNA dan teman sekelompoknya duduk melingkar di ruang aula sekolah. Sedikitnya ada delapan kelompok yang hadir di sana. Pagi itu mereka larut dalam bacaan di balik lembar-lembar buku cerita. Suasana membaca senyap adalah fenomena biasa di SD Pelita Mutiara, Simalingkar, Medan, Sumut.

Sejak 2016 lalu, sekolah dasar ini turut mendeklarasikan lembaganya sebagai sekolah literasi. Program literasi menjadi roh yang menafasi seluruh aktivitas pembelajaran. Pelita Mutiara begitu konsisten menerapkan program literasi sesuai panduan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dari Kemendikbud.

GLS memberi warna baru dalam pendidikan di Pelita Mutiara. Banyak perubahan positif yang terjadi. Meski, memang tidak semua murid di sana gemar membaca, tetapi upaya mendekatkan siswa kepada buku terbilang berhasil. "Dulu, anak-anak kami ini seperti alergi pada buku. Meski kami sudah berusaha keras namun tetap saja banyak mereka yang malas membaca. Tetapi dengan literasi, perlahan perubahan pun terjadi," terang Kepala Sekolah Pelita Mutiara, Lenta Br Karo-karo.

Menurut Lenta, usaha mendekatkan siswa pada buku terasa sulit karena dua hal. Pertama, akses terhadap buku yang amat terbatas. Kedua, sulitnya menemukan role model dari guru-guru. Menerapkan gerakan literasi seperti mencambuk diri para pendidik itu sendiri.

Sekolah Pelita Mutiara pun mau atau tidak, suka atau tidak, harus mengubah diri. Kepala sekolah tampil laksana panglima. Ia memulai dari dirinya dengan membiasakan guru-guru untuk membaca. Guru-guru diwajibkan membaca dan mereviu buku. Barulah kemudian ajakan kepada anak-anak untuk dekat dengan buku seperti gayung bersambut. Setiap pagi, gerakan membaca senyap selama 15 menit dilaksanakan sebelum memulai pembelajaran.
Pembiasaan membaca ini terus dikerjakan. Pafa tahap ini, guru-guru merasakan sendiri perubahan nyata pada anak-anak.

Upaya mendekatkan siswa pada buku pun makin berhasil juga berkat dukungan orangtua. Pihak sekolah meyakinkan program GLS dan dampak positifnya pada anak didik. Tak tanggung, para orangtua murid pun tergerak hati untuk menyumbangkan buku-buku cerita demi menyukseskan gerakan membaca senyap di pagi hari.

Bahkan ada juga orangtua yang ikut membaca sembari menemani anak-anak mereka. Di titik ini, Pelita Mutiara menemukan satu hikmah, bahwa yang perlu diintervensi dalam upaya "mendekatkan siswa kepada buku" adalah orangtua. Orangtua yang menyadari bahwa gerakan membaca buku perlu sekali didukung, mereka pun akan turut bergerilya dengan cara mereka sendiri.

Usaha menjalankan GLS mendapat dukungan dari pihak lain. Ketika itu United States Agency for International Development (USAID) Prioritas turut mendampingi Sekolah Parulian dalam membangun minat baca siswa. Lembaga Amerika ini bahkan menyumbang 600 eksemplar buku berbahasa Inggris untuk menambag koleksi bacaan di YP Parulian (induk dari SD Pelita Mutiara).

Sekolah yang berada di pelosok Simalingkar ini pun semakin gigih melawan budaya malas membaca. Lenta meyakini, dengan pembiasaan membaca buku, khususnya fiksi, imajinasi anak-anak akan terbangun. Dengan imajinasi, anak-anak akan menjulang sebagai sosok kreatif dengan ide-ide brilian. "Kami percaya, jika kemampuan membaca semakin baik, semakin baik pula kemampuannya menyerap pengetahuan," imbuhnya.

Apa yang diyakini Lenta sejalan dengan hasil penelitian di Amerika Serikat pada 2010. Roset itu menunjukkan, seorang pelajar kelas 3 SD yang tidak mampu membaca dengan baik berisiko empat kali tidak menamatkan pendidikan dasarnya. Celakanya, negara kita baru serius mendesain GLS secara nasional pada 2015. Kita ketinggalan jauh. Tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dengan literasi, ini saatnya kita bangkit mengejar ketertinggalan dari negara lain.

Data survey yang dipapar UNESCO pada 2011 tidak bisa kita anggap remeh. UNESCO menyebut hanya satu dari seribu orang anak kita yang punya minat baca. Tamparan keras itu semakin menyakitkan dengan rilis tentang studi "Most Littered Nation In the World" yang dikeluarkan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016. Dikatakan bahwa Indonesia berada di nomor 60 dari 61 negara terkait minat membaca.

Menyadari betapa mendekatkan siswa terhadap buku merupakan pekerjaan berat, maka memilih program literasi sebagai kunci adalah langkah bijak. Gerakan Literasi tidak hanya diterapkan di SD Pelita Mutiara, tetapi serentak diimplementasikan di 16 sekolah mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA dan SMK. Sebelum mengimplementasikan GLS, ratusan guru YP Parulian terlebih dahulu mendapat pelatihan active learning.

“Kami melatih guru-guru ini agar mampu mendesain pembelajaran dengan mengintegrasikan literasi. Mereka harus menghubungkan topik pembelajaran dengan tantangan yang dihadapi di kehidupan sesungguhnya,” terang Agus Marwan, Konsultan YP Parulian.

Tiga Tahap GLS

Koordinator Literasi YP Parulian Poster Manalu menjelaskan, sebagai sekolah literasi, Parulian telah mengintegrasikan literasi ke dalam pembelajaran. Mereka membiasakan siswa menggunakan informasi untuk mencari solusi. Karena itu aktivitas pembelajaran didesain agar siswa melakukan kegiatan 5M yakni mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. “Agar mampu mengintegrasikan literasi, guru-guru kami terlebih dahulu mendapatkan pelatihan soal literasi,” terangnya.

Untuk memperlancar GLS ini, Parulian menguatkannya dengan kebijakan dan kelembagaan. YP Parulian menerbitkan surat edaran yang mewajibkan setiap unit satuan pendidikan (mulai SD sampai SMA/SMK) di seluruh sekolah binaannya mendesain program literasi. Kemudian membentuk tim literasi di setiap sekolah untuk mengejar target yang ditetapkan.

Tak pelak, GLS tumbuh menjadi gerakan masif. YP Parulian yang berdiri sejak 1957 itu tersebar di empat daerah, yakni Medan, Deliserdang, Tobasa dan Dairi. Parulian mewadahi 16 sekolah yang terdiri dari tujuh SD, empat SMP, dua SMA dan tiga SMK. Yayasan ini memiliki 1.084 siswa SD, 851 orang siswa SMP, 555 orang siswa SMA dan 944 siswa SMK. Dengan 16 sekolah itu, Yayasan merekrut 341 guru yang terdiri dari 79 guru SD, 88 guru SMP, 54 guru SMA dan 102 guru SMK.

GLS di YP Parulian bisa berkembang pesat sampai sejauh ini juga berkat didukung para orangtua murid. Orangtua berlomba-lomba menyumbang buku-buku bacaan, dan mendorong anaknya untuk rajin membaca. Sehingga murid-murid semakin senang karena didukung orangtua mereka. (*)

Ikuti tulisan menarik dedy lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler