Kaum Muda, Apakah Masih Ingin Menjadi Petani - Analisa - www.indonesiana.id
x

Babinsa Koramil 0815/12 Ngoro Sertu Samhudi Dampingi Petani Bajak Sawah

Ratna Sari Dewi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Oktober 2019

Kamis, 10 Oktober 2019 11:20 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Kaum Muda, Apakah Masih Ingin Menjadi Petani

    Dibaca : 53 kali

    Setiap tanggal 24 September yang sudah lewat, diperingati sebagai hari tani nasional, namun peringatan ini semakin lama makin kehilangan mknanya, padahal peringatan tersebut pada awalnya merupakan momentum pembebasan Petani dari ketertindasan, yang bermula pada tahun 1960 sebagai penanda disahkannya UU Agraria waktu itu, memberi kesempatan bagi para Petani untuk memiliki tanah pertanian sendiri, membebaskan masyarakat dari menjadi pekerja di lahan-lahan orang lain (baca: sisa kolonial) dengan penghasilan yang sangat kecil.

    Tan Malaka pernah menulis dalam bukunya 'Madilog', "Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan terlalu pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul, yang hanya memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali".

    Setidaknya ungkapan yang ditulis Tan Malaka tersebut, masih kita rasakan hari ini, betapa orang-orang yang telah menempuh pendidikan tinggi tidak berminat menjadi petani, bahkan juga sangat jarang yang bercita-cita mengembangkan pertanian. Fenomena di masyarakat, juga masih kita saksikan banyaknya masyarakat yang menjadi pekerja-pekerja di perkebunan lahan milik Perusahaan-Perusahaan besar. Di Sisi lain, Pemerintah sepertinya belum menemukan cara terbaik untuk mengembangkan pertanian termasuk memberikan pelayanan di bidang pertanian. Hal ini setidaknya menandakan bahwa negara belum mampu mensejahterakan para Petani dan belum mampu melakukan pengembangan teknologi terkini di bidang pertanian.

    Jika kita sedikit mengintip sistem pertanian di negara tetangga, seperti di Singapura, Saat ini dalam beberapa sumber disebutkan, Mereka telah melakukan penerapan sistem pertanian modern berbasis teknologi, dari proses penyiraman dan pengawasan menggunakan drone, pengecekan kelembaban tanah dan serangan hama dilakukan semua dengan memanfaatkan internet of thing (IOT). Selain itu, dalam rangka mewujudkan swasembada pangan, beragam teknologi telah digunakan di sektor pertanian, antara lain dalam budi daya sayur menggunakan pencahayaan LED untuk memaksimalkan hasil panen, budi daya ikan dengan menjaga ekosistem dari gangguan racun dan tumpahan minyak juga dipantau menggunakan sistem teknologi.

    Pemanfaatan internet of thing (IOT) adalah memanfaatkan internet untuk koneksi berbagai komponen dan kecepatan transfer data yang tinggi, misalnya saat tanaman mengalami serangan hama, maka akan laungsung tertangkap oleh sensor, kemudian internet langsung mengirim informasi tersebut kepada Petani di lokasi dimaksud, yang mana segera dapat tertangani.

    Sementara di Indonesia, masalah pertanian masih berkutat pada akses permodalan dan pemasaran. Para Petani di Desa-desa kesulitan melakukan pemasaran ke tempat-tempat yang lebih baik, sehingga hasilnya tidak cukup menguntungkan. Aspek permodalan juga menjadi momok bagi petani, terutama Petani konvensional di Desa.

    Berdasarkan data indexmundi dan data BPS, menyatakan bahwa Indonesia termasuk lima negara dengan pertanian terbaik di Dunia, yang mana lima besar negara tersebut adalah:1). Amerika Serikat, memiliki lahan Pertanian seluas 4.058.625 kilometer persegi pada 2015, dengan mayoritas dari komoditas Jagung senilai 9 milliar dolar AS, kedelai dan Gandum. 2). China, luas garapan mencapai 5,278,330 kilometer persegi. unggul di sektor kapas, beras, kentang, dan banyak produk sayuran, juga termasuk Ikan dan Teh.

    Selanjutnya, 3).Australia, lahan pertaniannya mencapai 3,659,130 kilomenter persegi. mayoritas pemasukan devisanya dari tanaman pangan dan peternakan 4).Brasil, memiliki luas lahan pertanian sebesar 2,825,890 kilometer persegi. Ekspornya antara lain; kedelai dan gula 5).Indonesia, Jika kita mengacu pada data indexmundi, Indonesia memiliki jumlah lahan pertanian sebesar 570 ribu kilometer persegi. ekspor produk pertanian bertambah lagi jumlahnya yakni 41,3 juta ton. Eksport andalannya adalah Sawit dan Produk pertanian (manggis dan nanas termasuk yang sering diminati).

    Mencermati eksport andalan Indonesia adalah sawit, maka saat ini juga dalam masalah besar, karena Uni Eropa akan menghentikan sama sekali pemakaian minyak sawit sebagai bahan bakar hayati pada tahun 2030, yang akan dimulai sejak 2024. Sebanyak 28 negara Uni Eropa sepakat memasukan minyak sawit sebagai kategori tidak berkelanjutan sehingga tidak bisa digunakan untuk biodiesel. Mereka menyoroti masalah deforestasi alias perusakan hutan akibat adanya budidaya sawit yang massif.

    Penggiat lingkungan Eropa dikabarkan menyebut pembukaan lahan yang terjadi akibat perluasan perkebunan sawit menyebabkan gas rumah kaca tidak dapat dinetralisir. Kampanye melawan sawit digaungkan agar negara-negara berhutan tropis seperti Indonesia dan Malaysia berhenti eksploitasi lahan untuk sawit. Jika dilihat faktanya, betapa kesulitannya Indonesia menangani permasalahan berulang mengenai kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan sebagai Daerah penghasil Sawit, maka apa yang disampaikan negara-negara Uni Eropa tersebut sulit disangkal.

    Mencermati kondisi ini, Eksport Sawit Indonesia yang selama ini menjadi primadona, sepertinya akan mulai mengalami kemunduran, sehingga perlu dicari produk alternative lainnya yang mampu bersaing di pasar global. Sementara, Indonesia juga kesulitan untuk unggul dari produk sayuran dan buah, karena negara-negara lain juga memiliki dengan teknologi yang lebih canggih, artinya Indonesia sangat mungkin kesulitan bersaing di pasar global.

    Dalam website Kementerian Pertanian, salah satunya terdapat informasi mengenai Grand Design 2020-2024 untuk meningkatkan persaingan pasar global khususnya di bidang hortikultura, meliputi buah-buahan, sayuran, tanaman hias dan tanaman obat harus komprehensif, perlu sarana pra sarana pendukung seperti irigasi, jalan usaha tani, alat mesin pertanian, fasilitas pasca panen hingga pembiayaan dan pemasaran harus berpadu membentuk jejaring kerja yang harmonis, namun belum terdapat informasi mengenai pemanfaatan teknologi terbaru secara maksimal, sehingga masyarakat juga masih akan mengolah pertanian secara konvensional dan melakukan improvisasi berdasarkan pengalaman dengan segala keterbatasannya.

    Salah satu aspek yang dapat dikembangkan adalah teknologi di sektor pangan, antara lain meliputi Beras, gula, garam, Jagung dan gandum, karena sebagai negara beriklim tropis, Indonesia dapat mengembangkan sektor pangan, dengan resiko pergantian musim yang relative kecil.

    Hemat Penulis, untuk mencapai kemajuan pertanian, Pemerintah perlu melakukan langkah proaktif, baik di Pusat dan Daerah. Jangan membiarkan para petani, khususnya di Desa untuk berjalan sendiri mengusahakan pertaniannya secara konvensional. Perlu perhatian lebih untuk memberikan Pelayanan Publik di sektor pertanian, dalam beberapa hal, antara lain; a).Perkembangan teknologi bidang pertanian dan penggunaanya, b).Pengelolaan yang dapat dibantu Pemerintah, c).Mekanisme pasar dan pemasaran (nasional dan internasional) d).Pendidikan serta pelatihan bidang pertanian serta e).Informasi harga dan perkembangan kebijakan. Beberapa hal ini perlu dilakukan untuk mengembangkan sektor pertanian dan juga dapat menjadi strategi pencapaian kemajuan sektor pertanian.

    Pelayanan yang memadai dan strategis di bidang pertanian akan mempercepat kemajuan sektor pertanian, namun apabila aspek pelayanan diabaikan, maka sektor pertanian akan berjalan di tempat dan para Petani mengelola pertanian tetap dengan cara-cara konvensional yang tidak diminati oleh orang-orang muda, sementara prospek pengembangan pertanian yang lebih baik memerlukan pergantian dan alih generasi ke generasi berikutnya, juga memerlukan para ahli pengembangan pertanian, oleh karena itu, Pemerintah perlu memperhatikan pelayan bidang pertanian lebih baik lagi untuk kemajuan pertanian Indonesia serta  upaya persaingan di pasar global. Semoga !


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.