Kabinet Baru Jokowi: Penyebab Manuver SBY Kalah Lincah Dibanding Prabowo - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menerima kedatangan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di DPP PKB, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Anung Suharyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 Oktober 2019

Selasa, 15 Oktober 2019 20:52 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kabinet Baru Jokowi: Penyebab Manuver SBY Kalah Lincah Dibanding Prabowo

    Dibaca : 9.560 kali

    Sungguh menarik mengamati manuver para tokoh politik  akhir-akhir ini, menjelang pengumunan  kabinet baru oleh Presiden Joko Widodo.  Mula-mula  Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang bersua Jokowi di Istana pada 10 Oktober lalu.  Sehari kemudian giliran  Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang bertemu Jokowi di tempat yang sama.

    Hasil  dua lobi agaknya berbeda. Partai Demokrat, yang mungkin akan menyodorkan putra SBY, Agus Yudhoyono, untuk masuk kabinet,   belum mencapai kesepakatan dengan Jokowi. Indikasi ini terlihat pula  dari pernyataan seorang politikus Demokrat yang memberikan sinyal bahwa SBY kemungkinan akan bertemu lagi dengan Jokowi untuk finalisasi.

    Kesepakatan Jokowi dengan Partai Gerindra pun sebetulnya juga belum final.  Namun hasil lobi partai ini mungkin lebih baik, setidaknya terlihat dari langkah Prabowo yang amat percaya diri dan lincah. Setelah bertemu Jokowi, ia mengadakan safari ke sejumlah pemimpin partai koalisi pemerintah, yakni Nasdem,  Partai Kebangkitan Bangsa, dan Golkar.  Jauh sebelumnya,  Prabowo juga pernah bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

    Maju mundur sikap Demokrat
    Kendati mendukung pasangan  Prabowo-Sandiaga Uno  pada pemilu presiden lalu, Partai Demokrat sebetulnya bersikap mengambang. Saat itu Demokrat berharap memasangkan  jagonya sebagai calon wakil presiden untuk mendampingi Prabowo.  Tapi keinginan itu tak tercapai.

    Renggangnya  hubungan Demokrat dengan koalisi penyokong Prabowo-Sandi itu terlihat sekali dalam kampanye pemilu lalu. Bahkan, jauh hari  Demokrat menyatakan akan berpisah dengan koalisi Prabowo begitu  hasil pilpres diumumkan. Saat itu pula Demokrat mulai melirik ke kubu Jokowi.

    Ikhtiar SBY yang jauh lebih dahulu mendekati Jokowi itu rupanya tidak serta merta membuahkan hasil positif. Faktor X,  yakni  perseteruan SBY dengan Megawati di masa lalu, boleh jadi masih selalu menjadi ganjalan.

    Adapun Prabowo lebih cepat membuka lagi hubungannya dengan Megawati.  Kebetulan  ia pernah calon wakil presiden mendampingi Mega pada pilpres 2009.  Dari aspek ideologi, Partai Gerindra juga tidak jauh berbeda dengan PDIP.

    Hal itu jelas membantu mempercepat proses pengakraban  kembali Prabowo-Mega.  Ini pula yang mungkin menjelaskan: Prabowo kemudian lebih gesit dan percaya diri untuk menemui partai-partai penyokong  Jokowi.

    Siapa yang mau oposisi?
    Inilah pertanyaan yang jauh lebih penting karena menyangkut masa depan demokrasi kita.  Jika tidak ada partai besar yang beroposisi, maka pemerintah akan bisa melakukan kebijakan apa saja  dan tidak ada yang menentang atau mengkritiknya,

    Bila Gerindra dan Demokrat sama-sama bisa dirangkul oleh Jokowi, maka tak ada lagi oposisi yang kuat.  Mungkin tinggal Partai Keadilan Sejahtera dan satu-dua partai lain yang tersisa di luar pemerintahan.

    Menjadi oposisi di era sekarang sebetulnya akan menguntungkan secara politik . Hal ini perlu dipertimbangkan lagi oleh Gerindra dan Demokrat, mumpung belum kebacut masuk ke pemerintahan.  Ketika masyarakat banyak yang kecewa terhadap kebijakan pemerintah, mereka akan cenderung mengeluk-eluknya partai penentang. Bukankah hal ini bisa menjadi tabungan politik yang  berharga untuk berlaga dalam pemilu 2024? ***

    Baca juga:
    Nyinyir di Medsos, PNS Bisa Dipecat: Kenapa Aturan Ini Agak Ngawur?

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.076 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).