Mengubah Indonesia, Alasan Ahok Masuk Politik - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Cover buku Merubah Indonesia

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 21 November 2019 09:38 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Mengubah Indonesia, Alasan Ahok Masuk Politik

    Dibaca : 776 kali

    Judul: Merubah Indonesia – The Story of Basuki Tjahaja Purnama

    Penulis: Basuki Tjahaja Purnama

    Tahun Terbit: 2008

    Penerbit: Center for Democracy and Transparency                                         

    Tebal: 127

    ISBN:

    Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau lebih dikenal sebagai Ahok adalah salah satu politisi dari etnis Tionghoa yang fenomenal. BTP tidak menyembunyikan etnisitas dan agamanya dalam berpolitik. Bahkan ia menggunakan etnisitas dan agama untuk menunjukkan bahwa semua orang Indonesia harus bertanggung jawab sebagai warga negara yang baik. Sepak terjangnya sebagai Bupati Belitung Timur, sebagai anggota DPRD maupun DPR, sebagai wakil Gubernur dan kemudian Gubernur DKI telah membuat orang terhenyak. Banyak orang yang memujinya sebagai seorang politisi bersih yang berani. Namun tak sedikit pula yang membencinya karena arogansinya serta karena dia adalah seorang “Cina Kristen!”

    Buku ini adalah buku yang ditulis sendiri oleh Ahok saat ia menyiapkan diri sebagai calon legislatif melalui Parta Golongan Karya di tahun 2009. Dalam buku yang terbit bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 63 ini Ahok menjelaskan latar belakangnya masuk ke dunia politik, motivasinya mengapa ingin menjadi kepala daerah dan lika-liku karier politiknya.

    Gagasan untuk masuk ke pemerintahan sebenarnya berasal dari ayahnya. Ayah Ahok ingin menjadi pejabat. Namun karena kesulitan, maka ayah Ahok menyiapkan anak-anaknya untuk siap menjadi pejabat. Ahok dan ketiga adiknya disekolahkan setinggi mungkin.

    Dengan falsafah berburu harimau harus mengajak saudara kandung, ayah Ahok menyiapkan anak-anaknya untuk saling membantu. Salah satu adik Ahok menjadi dokter di kampung halaman. Ahok dan Basuri menjadi pejabat. Sedangkan adik perempuan Ahok menjadi ahli hukum yang bisa membantu kedua kakaknya jika ada masalah di bidang hukum. Ternyata adik Ahok memang menjadi pengacara Ahok saat Ahok terjerat hukum dalam kasus ayat Al Maidah.

    Ayah Ahok tidak saja membekali anak-anaknya dengan pendidikan. Ayah Ahok sendiri adalah teladan dalam hal membantu orang miskin. Banyak kejadian yang diceritakan oleh Ibu Ahok tentang bagaimana ayah Ahok tetap membantu orang lain, meski dirinya sendiri sedang kekurangan.

    Ahok tidak menutupi etnisitasnya. Ia bahkan bangga dengan budaya-budaya leluhurnya yang bisa digunakan untuk membangun karir, sekaligus membangun Indonesia. Ia banyak mengungkapkan pepatah Tiongkok kuno yang dia gunakan sebagai acuan tindakan dalam buku ini. Contohnya adalah: “Orang miskin jangan melawan orang kaya. Orang kaya jangan melawan pejabat.” Artinya supaya bisa membela hak orang miskin orang kaya harus menjadi pejabat.

    Ketika BTP memutuskan untuk masuk dunia politik, ia mendapat tentangan dari Gereja dimana BTP berjemaat. Beberapa jemaat menuduh BTP ambisius dan mementingkan kekuasaan daripada Tuhan. Di sisi lain, fitnah kepada BTP dari kelompok yang tidak seagama juga gencar. Ia dituduh sedang membawa misi kristenisasi yang dibiayai oleh Vatikan (Gereja Katholik, padahal BTP adalah seorang Protestan).

    Keputusannya untuk menjadi Bupati adalah dalam rangka mengimplementasikan imannya. Sebagai seorang Kristen ia harus bisa menolong banyak orang. Menjadi Bupati adalah salah satu cara efektif supaya bisa menolong orang banyak. Sebab kemampuan harta sendiri tentu tidak seberapa jika dibandingkan dengan kemampuan APBD untuk memperbaiki taraf hidup orang banyak. Jadi memilih untuk menjadi bupati adalah sebuah panggilan iman.

    Menjadi pejabat bagi Ahok adalah untuk kepentingan orang banyak dengan pengorbanan, bukan mengatasnamakan Tuhan tetapi menikmati kelimpahan hidup di atas penderitaan masyarakat yang miskin dan tanpa harapan (hal. 25). Bagi Ahok, masuk dunia politik adalah prophetic voice, bukan political voice.

    Ahok tidak segan-segan belajar dari pihak lain. Termasuk kepada hal-hal baik dari agama lain yang tidak diyakininya. Misalnya tentang Hadist Nabi yang mengatakan “Belajarlah sampai ke Negeri Tiongok.” Perenungan Ahok tentang hadist ini membawanya kepada dua prinsip pendidikan Tiongkok, yaitu (1) kalau ada pendidikan maka harus tidak ada diskriminasi, (2) dalam dunia pendidikan harus ada kejujuran (hal. 60). Oleh sebab itu penguasa harus mengupayakan sistem pendidikan yang tidak ada diskriminasi melalui memilih pemimpin yang jujur.

    Ahok mendiskusikan mengapa sistem demokrasi yang telah memberikan kesempatan besar kepada rakyat untuk memilih sendiri pemimpinnya, kok belum bisa mengubah kesejahteraan? Apakah karena sistem demokrasi kita belum sehebat Amerika? Atau sistem demokrasi itu sendiri yang salah? Ahok menyampaikan bahwa rakyat masih mudah dipengaruhi untuk memilih pemimpin yang sesuku, seagama, segolongan daripada memilih pemimpin yang benar-benar mampu mengimplementasikan program-programnya.

    Ia juga menyoroti sumpah jabatan yang dilakukan atas nama Tuhan, tetapi tidak pernah ditaati oleh pemimpin yang disumpah tersebut. Menjadi jujur dan setia pada sumpah memang berat. Ahok membagikan pengalamannya menghadapi suap-suap yang sering disodorkan kepadanya saat menjadi pejabat, khususnya saat menjadi Bupati Belitung Timur. Termasuk saat pembahasan APBD! Untuk menjaga kejujuran Ahok menyarankan (dan sudah mempraktikkan) untuk membuka laporan pajaknya kepada publik. Dengan laporan pajak itu semua orang akan tahu besar pendapatan dan sumbernya.

    Tentang kemiskinan, Ahok memaparkan program pendidikan dan jaminan kesehatan. Tanpa kedua program tersebut, program-program lain seperti UMKM tidak akan mampu mengentaskan kemiskinan.

    Buku ini terbit tahun 2008 jauh sebelum Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun sepak terjang Ahok sebagai pejabat publik sangat dikenal kejujuran dan keberaniannya mencegah korupsi. Ahok jatuh karena hal yang selama ini menjadi musuh utamanya, yaitu SARA. Namun setelah mendekam dalam penjara, ia masih tetap ditakuti. Buktinya saat ia dikabarkan akan ditempatkan sebagai pimpinan di sebuah BUMN, banyak orang yang memprotesnya.

    Ahok juga membawa efek bagi generasi muda Tionghoa. Saya menyebutnya sebagai “Efek Ahok.” Generasi muda Tionghoa yang sepertinya tidak peduli kepada bangsa dan kebanyakan mencari aman dengan konsentrasi ke dunia perdagangan, ternyata kini berbeda. Anak-anak muda Tionghoa Indonesia banyak yang masuk dunia politik tanpa takut. Generasi Tionghoa yang sudah seratus persen merasa Indonesia ini berani berpolitik tanpa takut didiskriminasi karena ke-Tionghoa-annya.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.