Kenapa Kita Tidak Perlu Berdebat di Medsos? - Pilihan - www.indonesiana.id
x

Mahendra Ibn Muhammad Adam

Sejarah mengadili hukum dan ekonomi, sebab sejarah adalah takdir, di satu sisi. *blog: https://mahendros.wordpress.com/ *Twitter: @mahenunja - FB: Mahendra Ibn Muhammad Adam
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 28 Juni 2020 06:10 WIB
  • Pilihan
  • Berita Utama
  • Kenapa Kita Tidak Perlu Berdebat di Medsos?

    Dibaca : 456 kali

    Cara menghentikan bullying, diam atau berkata yang positif!

    Dalam KBBI menghina adalah memandang rendah atau memandang tidak penting. Mengina menurut KBBI juga adalah memburukkan nama baik orang atau menyinggung perasaan orang. KBBI memberi contoh dalam bentuk kalimat, “Ia sering menghina kedudukan orang tuanya”. Contoh kedua, “Tulisannya dalam surat kabar itu dipandang menghina kepala kantor itu”.

     

    Menurut  hukum seperti diatur dalam KUHP dan lainnya, ujaran kebencian dapat berbentuk, penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong. Semua tindakan itu memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan/atau konflik sosial.

     

    Apa sebenarnya bullying atau penghinaan itu? Dalam konteks media sosial lisan maupun tulisan (bahkan video), penghinaan atau bullying dilakukan oleh si pembully untuk memenangkan sebuah pertarungan non-fisik (short message, chatting, comment dan seterusnya).

     

    Bagaimana menghentikan bullying? Rumus bullying seperti pernah kita alami sejak masa remaja ketika perang lisan dengan teman sebaya saat masih remaja adalah semakin kamu tidak dapat mengendalikan diri atau semakin kamu marah maka semakin senang si pembully itu. Si pembully menguasai emosinya sedangkan kamu tidak menguasai emosimu. Dialah pemenangnya ketika kamu semakin menjadi marah dan tak terkendali.

     

    Jika hanya perang lisan atau tulisan bagaimana menghentikannya? Ingat pula, karena perang lisan dapat memuncak menjadi perang fisik, kita jadi tau bahwa ini adalah poinnya! Ini persoalan menang dan kalah!

     

    Bagaimana kita bisa menang ketika kita di-bullying?

     

    Jawablah seperlunya atau jika tidak dapat berkata yang baik maka diamlah, berhenti komentar. Jawablah dengan cara anggun, kamu boleh marah tapi terkendali dengan lisan yang terbaik, kalau kamu marah dan tak terkendali orang akan melihat bahwa kamu sama saja dengan si pembully tidak dapat berkata sopan, bahkan menghabiskan energi cukup banyak untuk itu. Menurut pengalaman penulis ketika berdiskusi di kolom komentar Kompasiana pada satu artikel penulis selalu saja berbalas comment, tidak tahu ujungnya. Karena tidak tahu ujungnya maka tidak ada kesimpulan dalam balas-berbalas comment tersebut.

     

    Jadi apa perlunya diskusi jika 90 persen isinya saling hujat?

     

    Artinya tidak perlu berdebat di Facebook, Twitter, Youtube, whatsapp, Kompasiana, Indonesiana, Wordpress, Blogspot, atau portal dan media sosial lainnya bila tidak ada moderator yang meyakinkan dan terpercaya. Tidak perlu pula terpancing oleh bullying yang dilakukan oknum tertentu yang ingin membuat konflik sosial.

    Sayangnya ada sejumlah orang tergoda menjadikan media tersebut sebagai tempat pengadilan, tidak ada perangkat-perangkat untuk menegakkan keadilan di sana, tidak ada hakim, jaksa, pengacara, saksi dan seterusnya. So masih ingin terpancing oleh status orang lain? Masih gatal tangan untuk mengetik membalas comment yang mencerminkan kata-kata yang buruk dan tidak sopan?

    Brook Gibs mencontohkan cara yang belum benar dalam menghentikan bullying, malah membuat diri sendiri ketika dibully menjadi kalah karena kemarahan kita sendiri.

     

    Misal  Alan membullying Bronto.

     

    A: Kamu idiot!!!

    B: Apa katamu???

    A: Kamu idiot!!!

    B: Kamu yang idiot!!!

    A: Kamu jelek!!!

    B: Itu menyakiti perasaan ku tau!!!

    A: Ya aku tak peduli!!!

    B: Akan ku buat kamu dalam masalah!!!

    A: Ok, dasar orang pendek!!!

    B: Aku lebih tinggi dari kamu!!! Diam!!! Kamu panggil aku idiot sekali lagi, akan ku tendang wajahmu!!!

    A: Aku tak peduli!!! Seolah kau bisa melakukan apa saja dengan bajumu itu!!!

    B: Baju ini keren sekali, tau!!!

    A: Tentu rompi kotak-kotak dan sweater!!!

    B: Oh kamu memiliki mata yang buruk. Berhentilah jahat!!!

    A: Aku benci wajahmu!!!

    B: Berhentilah jahat!!!

    A: Aku benci orang pirang!!!

    B: Ahhhhhhhhhhhhhhh !!!!!!!!!

     

    Seharusnya Bronto menjawab dengan tanpa marah sama sekali dan suara tidak perlu meninggi.

     

    A: Kamu Idiot!!!

    B: Oh, kamu pikir aku idiot?

    A: Ya!

    B: Ya, kadang aku melakukan hal-hal bodoh. Itu benar.

    A: Ya kamu lakukan itu. Kamu selalu melakukan hal-hal bodoh.

    B: Aku tahu kamu sangat pintar. Kamu sangat beruntung.

    A: Ya, benar!

    B: Kamu Menakjubkan.

    A: Terima kasih. Dan kamu tidak!!!

    B: Aku tahu kita… Kita terlihat keren. Kebahagiaan ku tidak didasarkan pada apakah kamu pikir aku keren atau tidak. Aku akan bahagia bahkan jika kamu membenciku.

    A: Ok!!!

    B: Dan aku akan selalu bersikap baik padamu ganteng.

    A: Ok. Tidak!!!

    B: Kamu sangat tampan.

     

    Alan akan terdiam bingung mau ngomong apa, ini orang kok gak marah-marah!

     

    Contoh lagi. Alan membullying Bronto yang menyebabkan Bronto marah-marah dan tak terkendali.

     

    A: Aku benci kamu !!!

    B: Diam!!!

    A: Gak kan pernah!!!

    B: Aku benci kamu!!!

    A: Gak peduli !!!

    B: Kamu menyakiti perasaanku !!!

    A: Itu intinya, bodoh !!!

    Seharusnya Bronto menjawab dengan lisan yang terbaik yang akan menyebabkan Alan bingung mau ngomong apa lagi ya.

    A: Aku benci kamu !!!

    B: Gak apa, Menyenangkan.

    A: Bau badan !!! Kamu jahat !!!

    B: Terima kasih atas informasinya.

    A: Wajahmu jelek !!!

    B: Anda memiliki wajah seperti malaikat. Pipi yang manis.

     

    Sebentar lagi penulis kutipkan contoh penghinaan yang penulis ambil dari salah satu grup facebook, kemudian penulis edit sebagian agar mudah dipahami maksudnya dan penulis persingkat tapi tidak mengubah makna dasarnya tentang penghinaan. Kemudian tentu kita tahu bagaimana menjawabnya dengan jawaban terbaik.

     

    Penulis suka salah satu komentar dari satu akun, “Grup ni sekarang hanya sebagai wadah saling hujat saling fitnah dan adu domba.” Ada juga komen  lucu, “Biarin aja mbak.. sudah tau kok biangnya siapa..jangan sindir Partainya, pasti temen-temennya pada muncul hihihi… atau komentar yang lain, “Betul juga broo.. yang waras ngalah!”

     

    Perlukah kita terpancing dengan komentar yang tidak beradab, tidak sopan, kasar dan liar? Apakah di sana tempat keadilan ditegakkan? Adakah moderator di sana? Apa ujungnya? Apa bisa mengambil kesimpulan dari berbalas-balasan komen di sana? Jadi jangan terpancing dengan komentar seperti itu! Apakah Anda dapat menduga tujuan akun-akun tersebut saling hina?

     

    Perhatikan komentar berikut! Tidak perlu terpancing untuk komen kasar, tidak sopan dan liar!

     

    Maling teriak maling!!!

    Bapak kau yang buyan (bodoh), dasar cebonger (Kecebong)!!!

    Partai kau kan kotoran NKRI!!!

    Ya jelas makan nasi Drun (Kadrun= Kadal Gurun), masa makan taik Onta kayak lu!!!

    Tiap hari tiap jam tiap menit kau be yang nongol di beranda grup nih kadang jam orang lah pado tiduk kau masih lah bekicau. Hahaha kasihan buzzer kampang sekok nih dak pake istirahat lagi entah makan lagi entah idak, enaklah kito biso ke mano-mano, yo ke kebun, yo begawe, yo ke pasar, yo jalan-jalan. Tapi kalo buzzer kampang peliharoan germo operator sekok nih ni lah gawenyo. Hahaha

    Itu ngomong atau kumur-kumur bong (Kecebong)… pake otak dong, maaf mungkin ente emang gak punya otak

     

     

    Ingat! Jika perang lisan atau tulisan (short message, chatting, comment di Facebook, Whatsapp, Twitter, Youtube, Wordpress, Blogspot, Kompasiana, Indonesiana dan seterusnya) menimbulkan perang fisik maka cara menghadapinya tentu berbeda. Dalam perang fisik ada pelaku dan korban, ada kriminal dan hukuman.

     

    Berdebat di medsos membuang energi yang banyak jika saling hujat, saling hina (bullying). Sudahilah kalau tidak ada moderator! Medsos juga bukan tempat kehakiman atau pengadilan!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.