Demam Baliho Puan dan Airlangga - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ketua DPR RI Puan Maharani

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 5 Agustus 2021 06:44 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Demam Baliho Puan dan Airlangga

    Yang menarik dari aksi pemasangan baliho Puan dan Airlangga ini bukanlah isi balihonya itu sendiri, melainkan bahwa kedua politisi senior ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menempati peringkat bawah dalam beberapa kali survei popularitas dan elektabilitas yang dilakukan oleh berbagai lembaga.

    Dibaca : 1.621 kali

     

    Berpolitik itu menyangkut kecerdikan memanfaatkan momentum. Ketika semua orang sibuk menghadapi berbagai soal terkait wabah Covid, ada politisi yang memajang baliho besar maupun billboard di mana-mana. Jalanan memang sedang sepi dari baliho, spanduk, poster, ataupun banner beraroma politik, sehingga jika ada politisi yang muncul di tengah kesunyian tentu akan menarik perhatian masyarakat. Ukuran baliho memungkinkan warga melihatnya dari jarak jauh, sehingga mungkin warga bertanya-tanya: “Lho, apakah pilpres sudah dekat?”

    Warga yang sudah mengenal wajah Puan Maharani, politisi PDI-P, Ketua DPR, sekaligus putri Prof Megawati, Ketua Umum PDI-P, mungkin langsung tahu siapa politisi yang wajahnya menghiasi baliho-baliho itu. Bagi warga yang belum mengenal Puan, maka saat melihat baliho itu mereka dapat berkenalan dengan wajah Ketua DPR—institusi yang secara formal mewakili rakyat sesuai dengan namanya. Kenal wajah, loh, lumayan, siapa tahu suatu ketika bakal bertemu.

    Lantas apa yang langsung terbayang di benak warga ketika melihat baliho-baliho itu? Kemungkinan besar, yang soal pemilihan presiden. Pemilihan presiden sebenarnya akan dilangsungkan tahun 2024, sekitar 3 tahun lagi—bisa dibilang masih jauh, tapi bisa juga disebut sebentar lagi, tergantung persepsi dan kepentingan masing-masing orang. Orang-orang yang berkepentingan akan merasa bahwa waktunya sudah semakin dekat, sementara rakyat—yang kini sedang bergelut menghadapi pandemi—menyangka bahwa pilpres itu masih jauh.

    Soalnya ialah bagaimana memanfaatkan momentum. Mumpung jalanan sepi, bila baliho berwajah itu dipasang secara masif maka akan menarik perhatian umum. Ingatan warga yang belum mengenal karena memang jarang bertemu dengan wakilnya di DPR itu kini mulai dibentuk. Barangkali, ini karena pertimbangan bahwa mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari akan lebih bagus ketimbang dadakan. Lebih baik mengambil start lebih awal ketimbang terlambat dan menyesal kemudian.

    Biarpun ada bantahan bahwa baliho Puan itu tidak berkaitan dengan pilpres 2024, warga masyarakat yang lagi susah disuruh mikir apa ya kalau bukan pilpres? Ada politisi yang bilang bahwa pemasangan baliho itu karena Puan merupakan perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR, lha apa warga masyarakat tidak tepuk jidat kok baru sekarang dirayakan, wong Puan sudah dilantik jadi Ketua DPR pada 1 Oktober 2019s.

    Begitulah, para politisi suka menyangka bahwa rakyat tidak mengerti apa-apa tentang sepak terjang mereka. Lagi pula, belakangan ini sebagai Ketua DPR, Puan mulai kerap melontarkan komentar terhadap kebijakan dan tindakan pemerintah. Walaupun komentarnya standar, tapi ia mulai semakin kerap menyatakan pendapatnya. Misalnya, soal aturan 20 menit bagi pengunjung untuk memesan dan menyantap makanan di dalam warung. Andaikan Puan bersuara lantang sewaktu rakyat memprotes revisi UU KPK, MK, maupun omnisbus law, mungkin hasilnya berbeda. Ya, andaikan... Ya, mungkin...

    Politisi lain yang memanfaatkan momentum adalah Airlangga Hartarto. Sebagai Ketua Umum Golkar, ia memerintahkan pengurus daerah Golkar untuk memasang baliho-baliho Airlangga. Dibanding Puan dan PDI-P, yang terkesan malu-malu untuk menyatakan bahwa pemasangan baliho itu terkait pilpres mendatang, Airlangga dan Golkar lebih berterus terang. Saat ini, Golkar memang sudah bertekad mencalonkan Airlangga untuk jadi presiden, entah nanti bila situasi politik berubah.

    Dibandingkan Golkar, PDI-P belum secara resmi mengumumkan siapa calon presidennya nanti. Baliho-baliho Puan itu barangkali dapat dibaca sebagai keinginan dan dukungan sebagian elite politik PDI-P kepada putri kesayangan Megawati itu. Dengan cara ini pula, pesan lain telah dikirim yaitu orang lain jangan mencalonkan diri lewat PDI-P. Jika dugaan ini benar, barangkali yang disentil adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng.

    Yang menarik dari aksi pemasangan baliho Puan dan Airlangga ini bukanlah isi balihonya itu sendiri, melainkan bahwa kedua politisi senior ini memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menempati peringkat bawah dalam beberapa kali survei popularitas dan elektabilitas yang dilakukan oleh berbagai lembaga. Nah, siapa tahu pemasangan baliho-baliho itu—meskipun ini terbilang cara konvensional di zaman media sosial—dapat mendongkrak dua unsur penting dalam percaturan pemilihan presiden itu? Namanya juga usaha. Boleh dong. Mudah-mudahan saja pemasangan baliho-baliho Puan dan Airlangga itu menambah pemasukan pemerintah daerah di kala pandemi melanda. Lumayan, nambah kas masuk.. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.