Elite Kuasa yang Memikirkan Masa Depan Anaknya - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 30 Desember 2021 05:54 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Elite Kuasa yang Memikirkan Masa Depan Anaknya

    Para elite memikirkan masa depan anak-anak mereka, apakah karir anak-anak bakal semakin cemerlang atau malah surut. Bagaimana cara agar masa depan mereka, secara politik maupun ekonomi, aman?

    Dibaca : 1.499 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    Masa depan anak memang jadi salah satu prioritas yang dipikirkan orang tua, tak terkecuali orang tua yang sekaligus elite politik. Walaupun politik itu seni tentang keserbamungkinan, kata politisi, tapi sering pula politik meninggalkan luka bagi yang tersingkir. Repotnya, kemudian rasa pedih itu diwariskan kepada anak-anak mereka. Konflik politik tak kunjung sembuh dan diwarisi oleh anak-anak mereka. Apa yang sebenarnya mungkin menjadi mustahil karena konflik yang meninggalkan luka.

    Karena itu, elite politik memikirkan bagaimana caranya agar masa depan politik anak-anak mereka cemerlang. Bagi anak-anak yang terjun pula ke dunia yang digeluti ayah dan atau ibunya, memikirkan masa depan mereka jelas bisa membuat elite susah tidur malam. Begitu terjun ke dunia politik dan enggan beralih jadi negarawan, elite politik tidak ubahnya pecatur yang terpaksa memainkan bidak-bidaknya sepanjang hayat--berusaha terus bertahan bila tidak mampu maju. Secara khusus, mereka tidak ingin putra-putrinya terdepak dari arena permainan dalam keadaan yang membikin air mata menetes.

    Sebagai rakyat jelata, apa peduli kita dengan urusan masa depan anak-anak elite itu? Oh, tentu saja ada, sebab langkah-langkah yang ditempuh elite kekuasaan itu pada akhirnya berimbas dan memengaruhi hidup rakyat. Permainan catur politik mereka,termasuk tawar-menawar, barter, ataupun yang biasa disebut politik transaksional, itu jelas akan membawa dampak pada hidup rakyat.

    Jangan pernah berpikir bahwa itu urusan pribadi semata tanpa melibatkan kekuasaan yang mereka punya, entah politik, ekonomi, maupun lainnya. Mereka bisa saling menekan dan menawar karena ada sesuatu yang bernilai untuk dipertukarkan, dan itu adalah sesuatu yang memengaruhi hidup rakyat banyak. Jika seseorang diangkat jadi ini atau menjabat itu, bukanlah atas budi baik semata tanpa maksud lain. Di dalamnya ada permainan pengaruh, wewenang, finansial, dan seterusnya.

    Di tengah permainan catur itu, para elite memikirkan masa depan anak-anak mereka, apakah karir anak-anak bakal semakin cemerlang atau malah surut. Bagaimana cara agar masa depan mereka, secara politik maupun ekonomi, aman? Bidak mana yang harus saya jalankan, apakah aku harus memindahkan kuda, benteng, atau mengorbankan bidak?

    Maka, para elite pun berpikir tentang pentingnya mempersiapkan jaring-jaring pengaman bagi masa depan anak mereka. Mereka membangun pertemanan politik, membangun koneksi ekonomi, serta berinvestasi dengan beragam cara bersama orang-orang yang berpengaruh dan berwenang kuat agar jaring-jaring pengaman masa depan anak mereka cukup ampuh menghadapi terpaan angin kencang.

    Semua langkah yang dipandang perlu dilakukan akan ditempuh untuk menjamin masa depan anak mereka. Mereka mungkin sulit tidur manakala memikirkan apa yang mungkin terjadai seandainya mereka tidak lagi ada. “Mampukah anak-anak saya bertahan, apa lagi menaiki tangga yang lebih tinggi? Ataukah anak-anak saya akan terabaikan? Siapa yang dapat diandalkan untuk menjaga anak-anak saya? Bisakah ia dipercaya?”

    Sekali lagi, ini bukan urusan pribadi elite semata, karena langkah-langkah yang mereka tempuh memengaruhi kehidupan rakyat banyak. Ketika elite berusaha agar anaknya menang dalam pilkada, misalnya, ia akan menggunakan pengaruhnya agar langkah anaknya tidak menemui rintangan. Jikalaupun rintangan itu ada, disingkirkan. Dalam kejadian seperti ini, praktik demokrasi mengalami distorsi karena kehendak elite tidak terbendung. Rakyat gagal melihat kemenangan calon yang dipilih dari bawah.

    Lihatlah, baik politisi yang duduk di pemerintahan, parlemen, partai politik, maupun institusi lain, mereka memiliki anak-anak yang sedang meniti karir dan menyusun bangunan masa depan di dunia politik dan ekonomi. Orang tua mana yang tidak memikirkan masa depan terbaik bagi anak-anak mereka, yang menentukan nasib orang banyak? Ketika mereka berkata sedang memikirkan nasib orang banyak, mereka juga tengah memikirkan masa depan anak-anak mereka sendiri. >>



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.