1998 - Sebuah Novel Tentang Merenungkan Kembali Cinta Tanah Air dan Rasa Kebangsaan - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

cover buku 1998

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 18 Juli 2022 08:36 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • 1998 - Sebuah Novel Tentang Merenungkan Kembali Cinta Tanah Air dan Rasa Kebangsaan

    Novel "1998" karya Ratna Indraswari Ibrahim ini menggunakan kerusuhan 1998 sebagai latar cerita. Alih-alih menggambarkan kekejaman kepada etnis tionghoa, Ratna justru menyuguhkan bahwa semua dari kita bisa meredup cinta tanah air dan rasa kebangsaannya. Bahkan keluarga pejabat sekalipun.

    Dibaca : 1.875 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: 1998

    Penulis: Ratna Indraswari Ibrahim

    Tahun Terbit: 2012

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: 322

    ISBN: 978-602-03-4156-9

    Novel 1998 karya Ratna Indraswati Ibrahim ini berbeda dengan novel-novel lain yang mengangkat peristiwa kerusuhan 1998. Kalau biasanya novel-novel berlatar peristiwa tragis yang menimpa orang-orang tionghoa berlatar belakang Jakarta atau Solo, novel ini justru mengambil lokasi Kota Malang yang waktu itu adem- ayem. Apakah memang Kota Malang tidak terimbas situasi politik Nasional yang membara? Novel ini memberi kesaksian tentang apa yang sebenarnya terjadi di kota yang sejuk ini.

    Ratna mengisahkan kemarahan mahasiswa di Malang menjelang jatuhnya Suharto. Kemarahan mahasiswa ini disebabkan perlilaku Orde Baru yang semakin buruk.  Ratna menggambarkan politik Orde Baru yang represif sejak berkuasa pasca 1965 sampai dengan di masa akhir tahun 1997-1988. Kekuasaan yang didukung tentara membuat rakyat menjadi takut untuk bersuara. Orde Baru juga menyiapkan kambing hitam, yaitu etnis tionghoa yang bisa dijadikan korban saat ada ketegangan politik tertentu. Semua perilaku Orde Baru ini diungkap oleh Ratna dalam novel ini.

    Novel ini memang mengisahkan kejadian di Malang menjelang, saat dan sesudah keruntuhan Orde Baru. Namun bagi saya, novel ini berbicara tentang rasa cinta tanah air dan refleksi rasa kebangsaan. Sebab melalui novel ini, Ratna memplot tindakan tokoh-tokohnya sedemikian rupa sehingga kita bisa menguji kembali pendapat kita tentang rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Jika selama ini kita merasa bahwa hanya sekelompok orang saja yang kita vonis tidak cinta tanah air, ternyata melalui novel ini semua dari kita mempunyai potensi untuk mencari nyaman dan mencari aman ketika negeri sedang bergolak.

    Dalam novel ini Ratna menggunakan tokoh perempuan anak seorang walikota bernama Putri. Melalui tokoh bernama Putri inilah Ratna mempertanyakan sejauhmana rasa kebangsaan itu, ketika kita mengalami sebuah krisis. Jika selama ini kita menggugat keturunan tionghoa yang dianggap tidak mempunyai rasa kebangsaan, buktinya mereka lari ke luar negeri saat terjadi kerusuhan, bagaimana dengan keluarga pejabat yang melarikan diri saat kerusuhan yang sama terjadi?

    Ratna mempertegas kisahnya melalui tokoh Galih. Galih adalah kakak Putri. Galih dikuliahkan di Amerika. Galih menikah dengan perempuan bule. Galih hidup dengan norma Barat yang menganggap hidup serumah dengan pasangan yang belum menikah adalah lumrah. Bahkan Galih sudah mempunyai anak saat memutuskan menikah dengan pasangannya.

    Putri adalah seorang mahasiswa Universitas Brawijaya. Ia anak Walikota. Putri dibesarkan dalam dunia yang tenteram dan tidak bersentuhan dengan dunia politik. Itulah sebabnya Putri menjadi seorang yang apolitik. Namun ketika terjadi huru-hara tahun 1998, tiba-tiba teman-temannya yang selama ini akrab dengannya, berperilaku aneh. Teman-temannya tiba-tiba memusuhi Pemerintah, yang berarti memusuhi ayahnya juga.

    Sebagai anak seorang Walikota dia menjadi bingung dengan situasi ini. Di rumah dia dinasihati supaya tidak ikut-ikutan melakukan demo, tetapi di kampus, dia menyaksikan teman-temannya begitu riuh menentang Pemerintah Orde Baru. Situasi ini tentu membingungkan. Sebagai anak Walikota dia hidup sangat nyaman. Tetapi pergaulannya dengan para mahasiswa membuatnya tahu bahwa Orde Baru telah menciptakan ketidak adilan.

    Putri takut ikut demo karena kalau sampai diketahui wartawan, maka beritanya akan heboh. Sebab ia adalah anak walikota yang menjadi bagian dari rezim Orde Baru. Namun dia sangat simpati kepada teman-temannya yang memerjuangkan perbaikan bagi Indonesia.

    Ketika situasi semakin memanas, Putri yang dalam kondisi kebingungan harus mengikuti keputusan orangtuanya, yaitu bersekolah di Amerika. Tumbangnya Orde Baru berarti hilangnya kekuasaan ayahnya. Demi keamanan Putri harus menyusul Galih ke Amerika.

    Selain tokoh Putri, Ratna juga menggunakan tokoh Neno. Neno adalah seorang mahasiswa dari keluarga pas-pasan. Ayahnya mengajari anak-anaknya untuk terbuka, sementara ibunya adalah guru. Kedua orangtuanya membuatnya menjadi seorang idealis. Neno berkawan dengan Gundul, Marzuki dan Rudi. Keempat cowok ini adalah teman akrab Putri dan Heni – seorang perempuan keturuan tionghoa, sebelum ada perubahan situasi politik.

    Sejak politik memanas, Neno dan kawan-kawan sering terlibat dalam demo. Bahkan Neno sering ikut demo ke Jakarta menjelang tumbangnya Orde Baru. Neno menjadi pimpinan mahasiswa Malang dalam demo-demo di Malang maupun Jakarta. Sampai suatu saat Neno dinyatakan hilang. Sampai di akhir novel, Neno tidak ketemu. Anak muda yang dekat dengan Putri tersebut kemudian dianggap berkolaborasi dengan agen asing. Benarkah dia hilang? Atau dia sedang menikmati hasil kerjanya dari luar negeri sebagai agen CIA? Tidak ada yang tahu kisah Neno selanjutnya.

    Melalui kisah ini pun Ratna mengajak kita menanyakan kembali apa yang dimaksud dengan rasa kebangsaan.

    Seperti sudah saya sampaikan di atas bahwa banyak orang tionghoa menjadi korban huru-hara 1998. Namun dalam novel ini Ratna hanya serba sedikit menyinggungnya. Memang di Malang tidak terjadi kerusuhan yang menjadikan orang tionghoa sebagai korbannya.

    Melalui tokoh Heni, seorang gadis tionghoa kawan Putri, Ratna menyampaikan pandangan orang tionghoa (kaya) tentang tragedi ini. Heni digambarkan sebagai pemudi tionghoa yang tidak peduli dengan situasi politik. Ia hidup nyaman sebagai anak muda yang akrab dengan teman-teman sesama mahasiswa. Heni digambarkan bergaul dengan mahasiswa lelaki seperti Marzuki, Gundul dan Neno. Ia juga akrab dengan Putri, anak walikota beretnis Jawa.

    Namun Heni juga tahu bahwa orang-orang tionghoa dianggap tidak nasionalis. “Aku sendiri sesungguhnya merasa orang Indonesia, hanya terkadang lingkungan yang membuatku merasa cuma numpang hidup di sini. Tak heranlah bila Daniel sering bilang kami harus mencari negeri lain untuk anak-cucu kelak,” demikianlah ungkap Heni kepada Putri.

    Ketika terjadi kerusuhan 1998, Heni pindah ke Sydney dan menikah dengan Daniel. Orangtua Heni dan Daniel pacarnya, sudah berkeputusan supaya Heni nantinya tinggal di Australia dan menjadi warga negara Negeri Kanguru tersebut. 690

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.