3 Motif Batik Patalunan Cirebon yang Menggambarkan Kehidupan Zaman Dulu - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Batik Patalunan. Foto: Saung Bagus Daya

Muhamad Husni Tamami

Writer and Journalist
Bergabung Sejak: 14 Oktober 2020

Selasa, 26 Juli 2022 17:59 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • 3 Motif Batik Patalunan Cirebon yang Menggambarkan Kehidupan Zaman Dulu

    Selain batik Mega Mendung, Cirebon juga memiliki motif batik lain, yaitu batik Patalunan. Batik Patalunan diinisiasi oleh Sanggar Seni Saung Bagus Daya yang berlokasi di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.

    Dibaca : 770 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Berbicara tentang kekayaan Indonesia tidak akan pernah ada habisnya. Kekayaan alam dan seni budaya yang terdapat di negeri ini begitu beragam dan tersebar di berbagai daerah. Salah satu seni budaya Indonesia yang sudah terkenal, baik di kancah nasional maupun internasional adalah batik.

    Karya seni yang telah menjadi warisan budaya dunia ini memiliki potensi yang sangat besar. Namun, masih banyak sekali batik yang belum terekspos oleh media, sehingga masih sedikit orang yang mengetahuinya. Batik memiliki berbagai motif, warna, dan filosofi yang menjadi ciri khas dan daya tariknya.

    Berbagai jenis batik di Indonesia, antara lain, Batik Mega Mendung, Batik Parang Rusak Solo, Batik Sidomukti dan masih banyak lagi.

    Batik Mega Mendung merupakan salah satu motif batik yang banyak dikenal oleh masyarakat. Jika mendengar kata Cirebon, secara spontan akan teringat dengan Batik Mega Mendung. Karya seni ini menjadi ikon dari Cirebon yang memiliki kekhasan motif tersendiri sesuai namanya, Mega Mendung, yang berarti awan yang terlihat saat cuaca sedang sejuk atau adem.

    Selain batik Mega Mendung, Cirebon juga memiliki motif batik lain, yaitu batik Patalunan. Batik Patalunan diinisiasi oleh Sanggar Seni Saung Bagus Daya yang berlokasi di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon.

    “Batik Patalunan ini muncul tahun 2021, awalnya kita melihat di daerah atau kawasan Talun ini belum ada ikon seni yang menonjol, khas, dan menjadi pembeda dengan daerah lain,” jelas Filsa salah satu inisiator Batik Patalunan saat diwawancarai oleh mahasiswa KKN-T IPB University belum lama ini.

    Batik Patalunan hadir dengan motif yang memberikan gambaran kehidupan zaman dulu di daerah Tegal Patalunan. Patalunan itu sendiri merupakan kawasan yang terletak di daerah dataran tinggi Talun. Berikut adalah tiga motif batik Patalunan.

    <--more-->

    1. Motif Kebo Dongkol Karone

    Kebo Bule Dongkol Karone

    Motif Kebo Dongkol Karone merupakan ilustrasi dari kebo atau kerbau peliharaan Aki Lebar dan Nini Lebar yang menjadi bagian dari sejarah adanya daerah Talun. Kerbau ini memiliki ciri khas yang membedakan dengan kerbau lainnya, yaitu tanduk yang mengarah ke bawah dan menutupi daun telinga. Ciri khas tersebut memiliki makna bahwa dalam meniti kehidupan tidak boleh mendengarkan hal-hal yang buruk agar hidup dapat berjalan dengan tenang dan tentram.

    2. Motif Sarang Manuk Manyar

    Sarang Burung Manyar

    Manuk dalam bahasa Indonesia berarti burung. Sesuai dengan namanya, komponen khusus ini menggambarkan sarang burung manyar. Sarang burung manyar banyak terdapat di daerah Patalunan pada zaman dulu, sehingga penginisiasi Batik Patalunan terinspirasi untuk menuangkannya dalam karya seni ini.

    3. Motif Pohon Jati atau Wiwitan Jati

    Pohon Jati atau Wiwitan Jati

    Sama halnya dengan sarang burung manyar, pada zaman dulu pohon jati atau wiwitan jati juga banyak ditemukan di daerah Talun. Pohon ini menjadi salah satu komponen khusus yang terdapat dalam Batik Patalunan.

    “Saat ini Batik Patalunan terdapat tiga teknik, yaitu print, cap, dan tulis sesuai dengan pesanan serta kebutuhan peminatnya. Kami masih menjualnya dalam bentuk kain, tetapi untuk kedepannya kami masih melihat pangsa pasar yang paling tepat untuk kami masuk,” jelas Filsa.

    Saung Bagus Daya sebagai inisiator batik khas Talun ini menaruh harapan adanya regenerasi pada Batik Patalunan.

    “Kami harap, sebagai generasi muda, memiliki semangat untuk melanjutkan atau melestarikan budaya yang sudah ada serta mengembangkannya," lanjutnya. Informasi terkait Batik Patalunan dapat diakses lebih lanjut melalui akun Instagram @saungbagusdaya

    Ikuti tulisan menarik Muhamad Husni Tamami lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.