2024, Kita Perlu Pemimpin yang Mampu Me-Refresh Kehidupan Bangsa - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Bagaimana membangun traction dalam kepemimpinan Anda

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 17 November 2022 12:03 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • 2024, Kita Perlu Pemimpin yang Mampu Me-Refresh Kehidupan Bangsa

    Kita membutuhkan pemimpin baru yang mampu me-refresh atau menyegarkan kembali bangsa ini agar kita memiliki harapan untuk maju ke arah masyarakat yang jauh lebih baik.

    Dibaca : 1.862 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Apa sebenarnya yang kita cari dengan menggelar Pilpres 2024? Mestinya sih, bukan sekedar memilih pasangan presiden dan wakil presiden yang apa adanya, apa lagi calon-calon yang sudah diseleksi dan disepakati oleh para elite kekuasaan. Karena ingin tetap berada di lingkaran kekuasaan, lantas elite politik memaksakan hanya calon-calon yang mereka sukai yang bisa berkontestasi dalam pilpres. Apa lagi jika ini dilakukan dengan merintangi munculnya pemimpin baru.

    Upaya merintangi kemunculan pemimpin baru ini jelas memperlihatkan kekhawatiran bahwa rakyat akan lebih menyukai pemimpin baru ketimbang wajah-wajah lama yang itu-itu juga, yang notabene sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, duduk di kekuasaan dan mengatur hidup rakyat sesuka hati mereka. Sekaligus ini juga menunjukkan bahwa elite kuasa lebih mengedepankan kepentingan mereka sendiri ketimbang kepentingan rakyat banyak.

    Proses seleksi calon pemimpin nasional oleh elite politik, yang tentu saja juga disokong oleh juragan ekonomi, membuat peluang rakyat untuk memiliki pemimpin baru menjadi jauh berkurang. Padahal kita sama-sama tahu zaman terus bergerak ke depan, banyak tantangan baru yang membutuhkan pikiran segar untuk menjawabnya. Elite yang sudah lama akan cenderung jumud pikiran, karena yang berkutat dalam benaknya ialah bagaimana cara mempertahankan kekuasaan.

    Politikus yang sudah lama berkutat di kekuasaan memiliki kemungkinan untuk jumud. Pikirannya cenderung mandeg pada status quo, sehingga sukar untuk keluar dari bingkai yang sudah membatasinya selama berpuluh tahun, baik dalam konteks pemikiran, tindakan, hingga kepentingan. Bahwa dalam bekerja nanti presiden baru akan dibantu oleh para menteri, ya sudah pasti karena presiden tidak sanggup bekerja sendirian, namun presiden-lah pangkal dari perubahan. Presidenlah yang memiliki otoritas untuk menggerakkan perubahan, dengan memulai dari visinya tentang masa depan bangsa ini.

    Bila presiden baru tidak memiliki kapasitas, kemampuan, kekuatan jaringan, visi, bahkan juga kemampuan linguistik yang sangat diperlukan dalam komunikasi, kita akan terperangkap dalam kepemimpinan yang tidak siap dan tidak mampu menjawab tantangan baru. Kita membutuhkan pemimpinan nasional baru yang mampu menyegarkan kembali kehidupan bangsa ini. Tugasnya ialah refreshing the nation, agar bangsa ini lebih percaya diri, optimistis, dan tahu persis jalan yang harus ditempuh untuk menuju masa depan yang sejahtera lahir-batin.

    Bila kita tidak menggunakan momentum 2024 untuk memilih pemimpin baru yang amanah dan memiliki visi jelas mengenai masa depan negeri ini, baik dalam konteks nasional, regional, maupun internasional, maka peluang itu tidak akan berulang kembali. Jika menunggu lagi hingga lima tahun atau bahkan 10 tahun ke depan, maka kita akan mendapatkan pimpinan nasional yang serba canggung menghadapi perubahan.

    Generasi tua memang memiliki pengalaman dalam mengelola negara, tapi pengalaman yang lama tidak selalu mencerminkan kemampuan bagaimana mengelola dengan cara yang benar, baik, serta adil dan sehat. Setidaknya, dibandingkan yang muda-muda, kemampuan dan kecepatan adaptif elite senior mungkin sudah menurun. Mereka mungkin juga ingin dimanjakan oleh generasi yang lebih muda sebagai orang yang sudah berjasa kepada negara.

    Kita membutuhkan pemimpin baru yang mampu me-refresh atau menyegarkan kembali bangsa ini agar kita memiliki harapan untuk maju ke arah masyarakat yang jauh lebih baik. Bukan sekedar memilih pasangan capres/cawapres apa adanya, yang disediakan oleh elite untuk dipilih, tapi memilih pasangan pemimpin baru yang benar-benar memiliki pikiran yang segar dan hati yang bugar dan lapang untuk menerima kritik dan perbedaan pandangan. >>

     

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.