PSI Gagal Jadi Partai Alternatif - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Giring Ganesha, Ketua Umum PSI, dan petinggi partai lainnya. Foto: Antara/Galih Pradipta

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 16 Januari 2023 18:04 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • PSI Gagal Jadi Partai Alternatif

    Di tengah sikapnya yang keras terhadap figur politikus tertentu, PSI malah cenderung kurang percaya diri berhadapan dengan partai besar seperti PDI-P. PSI tidak sanggup tampil mandiri dan gagal menjadi partai politik alternatif yang dapat diandalkan rakyat banyak. Pemilu 2024 akan jadi tahun yang berat bagi PSI: apakah masih memiliki masa depan yang cerah atau tidak.

    Dibaca : 601 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Setelah ‘merasa’ tersindir oleh pidato Megawati, Ketua Umum PDI-P, bahwa ada partai yang mendompleng PDI-P dengan menjadikan kadernya sebagai capres, Grace Natalie—salah seorang petinggi Partai Solidaritas Indonesia (PSI)--meminta maaf. Petinggi ini mengatakan bahwa partainya tidak bermaksud membajak Ganjar,kader PDI-P, melainkan mendukung Ganjar untuk jadi presiden. Bahkan, untuk menunjukkan rasa besalahnya kepada PDI-P, PSI mengakui sebagai partai yang lebih muda masih harus banyak belajar dari partai yang telah melahirkan banyak pemimpin hebat.

    Bahkan diberitakan, Grace Natalie mengatakan bahwa PSI bisa disebut sebagai adik PDI-P sehingga membutuhkan bimbingan.Unik bukan, sebuah partai yang (mestinya) berdaulat kok meminta bimbingan kepada partai lain? Bahkan, Grace mengakui bahwa PSI partai muda, masih awam dan naif [detik.com]. Unik, bukan? Mengapa petinggi PSI tidak menegakkan kepala dan menjawab ‘sindiran’ dengan lebih bermartabat bagi partai?

    Kalau kita tengok ke belakang, tatkala PSI muncul di jagat politik tanah air, berdiri 16 November 2014, masyarakat yang jenuh dengan partai-partai politik lama langsung menaruh harapan pada PSI. Rakyat berharap, partai yang dimotori dan dipenuhi kader anak muda ini mampu menjadi alternatif bagi partai-partai politik yang sudah lebih dulu ada. Pimpinan dan kader partai ini umumnya menempuh pendidikan formal yang baik, yang semakin meningkatkan harapan bahwa partai ini mampu menampilkan diri sebagai partai alternatif dalam hal gagasan, visi, serta etika dan praktik politik.

    Waktu itu, rakyat mengharapkan anak-anak muda PSI mampu mengembuskan angin segar dalam berpolitik: cara-cara dan etika berpolitiknya, isu-isu yang disuarakan, keberpihakan sejati kepada rakyat banyak, hingga nilai-nilai yang mereka usung. Masyarakat jenuh dengan sikap pragmatis politikus yang sudah malang-melintang bertahun-tahun di dunia politik. Masyarakat ingin PSI membawa sikap yang baru dalam berpolitik dan menolak pragmatisme serta lebih mengedepankan kepentingan rakyat banyak.

    Namun rupanya, setelah delapan tahun berjalan, harapan masyarakat ini tampaknya terlampau besar dan berlebihan. PSI ternyata tidak menampilkan diri sebagai partai politik yang betul-betul dapat menjadi alternatif yang layak jadi tumpuan harapan rakyat banyak. Ada beberapa alasan mengapa demikian.

    Pertama, dalam merespon berbagai kebijakan pemerintah PSI terlihat tidak kritis layaknya partai politik baru yang ingin menunjukkan perbedaan. PSI malah cenderung mendukung apapun kebijakan pemerintahan Jokowi, sehingga menumbuhkan kesan di masyarakat bahwa partai ini dibentuk memang untuk menyokong pemerintahan Jokowi, alih-alih lebih memperjuangkan aspirasi rakyat banyak.

    Kedua, berbanding terbalik dengan sikapnya yang demikian mendukung apapun kebijakan pemerintahan pusat, PSI bersikap keras dan sangat kritis terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Tak heran bila muncul kesan di masyarakat bahwa sikap menolak apapun kebijakan Anies merupakan garis partai yang harus dijalankam. Dalam konteks inilah PSI terkesan tidak mampu bersikap adil dan objektif dalam melihat persoalan pemerintahan dan kemasyarakatan.

    Ketiga, ketika sejumlah figur penting PSI kemudian mengundurkan diri dari partai, masyarakat bertanya-tanya apa sebenarnya terjadi di dalam partai ini. Satu demi satu figur penting memilih untuk keluar, sebutlah di antaranya Tsamara Amany yang melepas jabatan Ketua DPP PSI dan keluar pada April 2022, lalu Surya Tjandra—kader PSI yang sempat menjabat Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang, lalu Azmi Abubakar—Ketua DPW Banten--lalu Michael Victor Sianipar yang melepas jabatannya sebagai Ketua DPW PSI DKI Jakarta dan mengundurkan diri dari partai, dan kemudian yang terbaru Rian Ernest. Ada pula Sekretaris Dewan Pembina PSI, Sunny Tanuwidjaja,yang juga mengundurkan diri.

    Keempat, narasi yang dibangun Ketua Umum PSI Giring Ganeshatidak mencerminkan intelektualitas yang diperlukan agar partai terlihat sebagai organisasi yang benar-benar memikirkan kemajuan bangsa. Alih-alih memperkuat visinya mengenai masa depan bangsa ini dari kacamata anak muda, berbagai narasi yang dibangun ketua umum PSI cenderung berupa serangan-serangan yang bersifat personal. Sebagai ketua umum sebuah partai, narasi Giring tidak mencerahkan masyarakat dalam melihat berbagai persoalan bangsa.

    Di tengah sikapnya yang keras terhadap figur politikus tertentu, PSI malah cenderung kurang percaya diri berhadapan dengan partai besar seperti PDI-P. PSI tidak sanggup tampil mandiri dan gagal menjadi partai politik alternatif yang dapat diandalkan rakyat banyak. Tidak mudah bagi PSI untuk mampu memulihkan harapan rakyat terhadap partai ini seperti ketika PSI baru muncul. Pemilu 2024 akan jadi tahun yang berat bagi PSI, yang akan menentukan nasib partai ini: apakah masih memiliki masa depan yang cerah atau tidak.>>

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.