Tren Nikah di KUA, Momentum untuk Para Jomblo?

Senin, 13 Februari 2023 19:27 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menikah di KUA memang bukan suatu hal baru, tetapi kini lagi tren. Sepertinya ada sedikit pergeseran persepsi tentang perhelatan pernikahan. Selama acara itu dipersepsikan sebagai momen membahagiakan sekali dalam hidup, karena itu harus digelar dengan berbagai uba-rampe. Kini sepertinya mulai berubah.

Tren menikah di KUA kembali ramai dibicarakan. Sebagai pemuda yang mengebet pengen nikah, tapi selalu gagal karena belum cukup modal, tren semacam ini seperti membawa angin segar, harapan, dan kesempatan. Kawanku yang hidupnya pesimis masalah percintaan mendadak ingin segera menikah sebelum tren ini menghilang. Dia bilang yang terpenting adalah menikah, urusan lain setelah itu bisa diselesaikan bersama. “Ini kesempatan emas. Mumpung lagi tren. Kapan lagi bisa ngajak orang nikah di KUA,” katanya.

***

Obrolan tentang menikah merupakan topik yang engga bakal habis dengan satu gelas huzelnut dan sebatang dua batang rokok di tongkrongan. Selalu ada bagian yang menarik untuk dibicarakan. Misalnya gagal mendapat hati calon mertua karena bukan PNS, kalah saing dengan adik kelas karena orangtuanya tajir, atau putus cinta di tengah jalan karena cuma bisa jajanin seblak dan es tea jus. Tapi kali ini tongkrongan kami seakan lebih berwarna dan penuh semangat untuk menikahi seseorang, gara-gara di media sosial sedang tren menikah di KUA.

Media sosial mampu mengubah pola pikir individu atau kelompok, karena itu tren sebut seperti momentum yang pas bagi bujang lapuk seperti kami. Memang engga ada salahnya sih mau menikah di KUA atau menikah di gedung pemerintahan sekalipun. Terpenting ada calon dan mau menerima kita, iya kan? dan untuk banyak orang mungkin tren menikah di KUA hal yang biasa saja. Nikah ya nikah. Menikah di KUA merupakan suatu hal wajar. Tidak salah. Toh sejak kita belum lahir sudah banyak yang menikah di KUA.

Menikah di KUA memang bukan suatu hal baru, tetapi ketika hal ini menjadi suatu tren di tengah masyarakat yang saling adu gengsi di media sosial, kami menyadari ada sedikit pergeseran persepsi tentang perhelatan pernikahan. Selama ini yang kami rasakan banyak yang memiliki persepsi menikah adalah momen yang paling membahagiakan sekali dalam hidup, karena itu harus digelar dengan berbagai jamuan perhelatan yang mewah. Persepsi ini membuat kami harus lebih lebih lama mengelus dada lebih lama dan harus lebih banyak bersabar mencari pasangan.

Lebih jauh lagi terkadang perhelatan pernikahan seperti ajang pembuktian suatu kedudukan seseorang agar lebih ‘terpandang’. Tidak bisa elak bahwa manusia seringkali hasrat tinggi mendapat validasi dari lingkungannya. Perhelatan pernikahan seperti ‘kartu as” yang harus ditunjukan. Dekorasi eksklusif, jamuan makan minum yang istimewa, tata busana dan hiburan yang memanjakan mata tamu undangan, sudah lebih dari cukup untuk mendapat pengakuan sebagai orang berhasil, tajir, mapan dan sebutan lainnya. Keadaan ini sulit kami hadapi, apalagi untuk memenuhi ekspetasi orang lain, karena tidak memiliki banyak kemampuan dan privilege. Beratnya lagi itu semua harus kami yang memikirkan ‘konon’ sebagai bentuk tanggung jawab.

Berkat tren menikah di KUA (semoga tren ini bertahan lama) setidaknya memberikan persepsi bahwa menikah itu cukup digelar dengan sederhana, jangan sampai menikah menjadi beban untuk mempelai pria atau wanita, karena terpenting adalah ijab kabul pernikahan. Mengedepankan hakikat pernikahan, dibanding gengsi atau titel dalam masyarakat. Dari tren ini pula muncul kesadaran menikah tidak perlu memikirkan hal yang rumit di luar kemampuan kedua mempelai, Tuhan sekali pun mengatur pernikahan sedemikian sederhana.

Munculnya tren ini kita tidak perlu lagi takut menerima komentar yang kurang menyenangkan dari tetangga. Sebab menikah di KUA bukan lagi membicarakan tentang ketidakmampuan finansial, tetapi tentang sebuah pilihan. Selama ini yang melekat di masyarakat kita yaitu menikah di KUA hanya untuk mereka yang berasal dari keluarga miskin. Tentu persepsi ini menimbulkan beban mental pada kedua mempelai. Persepsi yang melekat ini pula yang membuat calon pengantin melakukan segala cara untuk pernikahannya, pada akhirnya setelah kebahagiaan tidak diraih sepenuhnya.

Sudut pandang masyarakat yang belum terbuka tentang menikah di KUA, memang agak sulit diubah sepenuhnya. Namun setidaknya dengan adanya tren ini kita bisa menggesernya sedikit demi sedikit terutama orang-orang di sekitar. Menikah di KUA bukan momok yang perlu dihidari, bukan juga sesuatu yang kita anggap sebagai aib. Momen-momen indah bersama pasangan tidak perlu  dipertaruhkan dalam satu hari, tetapi kita akan menciptakan momen indah sepanjang hayat.

Dalam tren ini tidak sedikit yang membagikan cerita betapa kebahagian perhelatan pernikahan tidak selalu diukur dengan kemewahan belaka yang cenderung menghamburkan uang. Menikah di KUA dapat menjadi pilihan utama bagi kita yang sudah memiliki rencana finansial untuk jangka panjang setelah perhelatan pernikahan. Bukan berarti menikah di KUA kebahagiaannya berkurang. Selain itu, kita lebih khidmat terhadap prosesi yang sakral tersebut.

Satu hal lagi yang terpenting dalam tren ini yaitu tentang keyakinan dengan calon pendamping hidup. Menikah tidak ada urusannya dengan orang-orang di luar lingkaran perasaan. Orang lain tidak ada hak ikut andil selangkah pun. Menikah adalah urusan dua insan yang saling mencintai. Keputusan dari sebuah pilihan ditentukan berdua dengan pikiran yang matang dan terbuka. Keyakinan terhadap pasangan meraih kebahagian seeutuhnya jauh lebih penting daripada memikirkan penilaian tetangga dan netizen.

Bagikan Artikel Ini
img-content
irvan syahril

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler