Uang dan Rasa Bahagia

Kamis, 7 September 2023 12:53 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pepatah lama mengatakan bahwa “Uang adalah bukan segalanya. Tetapi segalanya harus dengan uang”. Pernyataan tersebut sepertinya semakin relevan saja dengan kondisi kekinian. Konon ada lagi yang mengatakan “Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang”. Bahkan ada ungkapan Aceh “Na peng na inong, hana peng hana inong”. Apakah Anda termasuk golongan yang mempercayai ungkapan tersebut?    

Lalu apakah benar orang yang memiliki uang dalam jumlah yang banyak dapat merasakan kebahagiaan? Belum tentu. Hal ini akan terjawab apabila Anda mengikuti ulasan ini sampai tuntas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Mengenai topik kebahagiaan dari perspektif keimanan Islami telah ramai dikupas oleh para penceramah di mimbar-mimbar khutbah Jumat. Dalam hal ini penulis tidak berani masuk ke ranah tersebut, karena menyadari diri bukan seorang yang mumpuni di bidang itu. Dalam tulisan ini penulis ingin berbagi pengetahuan mengenai topik tersebut dari sudut pandang emperis keilmuan duniawi.

Baiklah, penulis mengajak pembaca yang budiman untuk menyimak dengan serius sebuah true scientific story berikut ini.

Telah lama beredar statement bahwa membantu orang lain tidak hanya menguntungkan bagi recipient, tetapi juga berdampak positif terhadap si penolong (helper), yakni berupa rasa bahagia.

Untuk membuktikan hal tersebut berdasarkan kaidah scientific, maka Elizabeth W. Dunn, Lara B. Aknin & Michael I. Norton (2008) melakukan penelitian pada 632 orang Amerika yang bekerja pada berbagai perusahaan, artinya mereka memiliki penghasilan (income) secara teratur alias secara bulanan. Selain itu mereka juga menerima bonus dalam bentuk uang tunai setiap akhir tahun.

Sekilas informasi, Elizabeth W. Dunn dan Lara B. Aknin adalah pengajar di University of British Columbia, Canada. Sedangkan Michael I. Norton merupakan pengajar di Harvard Business School, Amerika Serikat.

Secara spesifik Dunn, dkk (2008) berupaya menginvestigasi kaitan antara pembelanjaan uang (spending) dari penghasilan yang diterima dengan tingkat kebahagiaan (happiness) yang dirasakan.

Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel independen adalah income, personal spending dan prosocial spending. Sedangkan variabel dependen adalah happiness. Data dianalisis dengan metode analisis regresi.

Pengujian dilakukan dalam dua tahapan. Tahap pertama, kepada responden diberikan pertanyaan “Berapa banyak uang yang mereka habiskan dalam sebulan untuk keperluan: (a) membayar tagihan dan pengeluaran lainnya, (b) hadiah untuk diri mereka sendiri, (c) hadiah untuk orang lain, (d) sumbangan untuk kegiatan amal”. Poin a dan b disebut pengeluaran pribadi (personal spending), dan poin c dan d disebut pengeluran prososial (prosocial spending).

Pengujian tahap pertama ini, memberikan hasil sebagai berikut: (a) income berhubungan positif signifikan dengan kebahagiaan, (b) personal spending tidak berhubungan dengan kebahagiaan, dan (c) prosocial spending berhubungan positif signifikan dengan kebahagiaan.

Tahap kedua, setelah beberapa bulan responden menerima bonus akhir tahun dari perusahaan, kepada responden tersebut diberikan pertanyaan: “Berapa persen dari bonus yang telah mereka keluarkan untuk: (a) tagihan dan pengeluaran pribadi lainnya, (b) belanja sewa atau hipotek, (c) membeli sesuatu untuk diri mereka sendiri, (d) membeli sesuatu untuk orang lain, dan (e) menyumbang untuk kegiatan amal”. Poin ab, dan c disebut personal spending, dan poin d dan e disebut prosocial spending.

Pada pengujian tahap kedua memberikan hasil sebagai berikut: (a) jumlah bonus yang diterima tidak berhubungan dengan kebahagiaan, dan (b) prosocial spending berhubungan positif signifikan dengan kebahagiaan.

Dalam hal ini dapat dimaknai bahwa bukan jumlah bonus yang dapat membahagiakan seseorang, tetapi cara mereka membelanjakan bonus adalah prediktor penting untuk bahagia.

Adapun mauizah al-hasanah alias pelajaran penting yang dapat dipetik dari kajian ini adalah uang memang tidak dapat membeli sebuah kebahagiaan, tetapi kebahagiaan dapat diperoleh ketika uang tersebut dapat disisihkan untuk prosocial spending. Dengan kata lain ketika Anda ikhlas menginvestasikan uang untuk membantu keperluan orang lain, maka di situlah letak kebagiaan Anda. Wallahu a’lam.

(Zainal Putra SE MM adalah CEO Putra Human Capital Learning Consultant, tinggal di Meulaboh, Aceh Barat)

Bagikan Artikel Ini
img-content
Zainal Putra

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua